Jengkol, Emak, dan Aktivitas Ari

Hari kedua di rumah emak-apak, 22 April 2013

Saya bangun kesiangan hari ini. Pukul 05.30 saya baru meninggalkan kasur dan menelantarkan dua buah bantal. Begitulah kalau saya sudah pulang kampung, terlalu dininabobokan oleh dinginnya udara. Jadinya agak sungkan bangun bareng emak dan apak. Kalau apak, pukul 04.00 atau sebelum adzan subuh dikumandangkan, ia sudah bangun. “Cep, Mam, Ri, hudang! Geus beurang. Bisi teu kabagian subuh geura (Cep, Mam, Ri, bangun! Sudah siang. Takut tak kebagian subuh),” omelan apak yang sayup-sayup saya dengar. Ocehan itu saya dengar setengah jam lalu.

Kira-kira pukul 05.50, salat subuh selesai ditunaikan. Dari celah-celah pentilasi, suasana tampak tak lagi gelap. Terang benderang. Ayam-ayam, saya dengar lagi asyik mengobrol di luar rumah. Barangkali mereka tengah membicarakan rencana petualangannya hari ini. “Hai, kira-kira kemana kita hari ini cari makan, Bro? kalau bisa, kita ke sawah yang kering yuk, siapa tahu masih ada ikan-ikan kecil yang tersesat di sudut-sudut sawah. Lumayan, mumpung belum habis dimangsa burung,” ujar si jago sambil berkokok gembira. Tampaknya, semua ayam setuju dengan pendapat si jago yang sebulan lalu dibeli di pasar Kamis itu.

Saya lihat, di pagi yang segar dan cerah itu emak sudah turun dari rumah menuju ke dapur. Menghidupkan  api di hawu (tungku)  gunakan kayu bakar dan daun kelapa yang kering. Biasa, emak masak nasi dan air buat sarapan pagi. Apalagi, pagi-pagi Ari mau sekolah yang kebetulan hari ini juga, ponakan saya itu menjadi peserta  ujian nasional. “Hari ini pelajaran bahasa Indonesia, Mang! Doakan saja,” tukas Ari saat menyetrika bajunya.

Jarum jam menunjuk ke angka 7 ketika Ari sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Saya lihat, ponakan saya yang satu ini tingkahnya tak lagi nyantai. Serasa ada yang memanggil-manggilnya. “Ri, cepatlah datang ke sekolah!” begitu panggilan itu. “Kek, Ari mau berangkat dulu ya, mau ujian,” kata Ari di ruang tengah sambil bersalaman dengan apak. Ari langsung meluncur ke depan pintu, duduk, lalu masang kaos kaki. “Ri, ke sini dulu bentar,” Ari balik lagi ke sumber suara, kakeknya, “nih, minum dulu air di cangkir ini biar bisa jawab soal ujian dan tambah pintar!” ucap apak ke cucunya itu. Diteguknya air bening itu. Habis!

“Awas Ri, kalau ada yang ketinggalan . Kartu ujiannya jangan lupa,” tambah apak mengingatkan. Ari kelihatan mengangguk-angguk saja. Saya tak tahu, anggukan apa maksud ponakan saya itu. Saat itu, saya hanya coba memerhatikan polah anak manusia itu. Dan..,”Mang Ncep, Nek, Kek, Ari berangkat dulu.”

Sinar mentari mulai menghangatkan pekarangan rumah. Badriyah, tetangga saya dengan membawa gerobak sorong lewat di samping rumah hendak ke kebun milik pak haji sanusi, mau nyadap karet. Kebun karet milik haji yang berasal dari Singaparna, Tasikmalaya itu memang luas. Saking luasnya dia punya kebun saya hampir tak pernah menghitungnya. Makanya, sebagian saudara istrinya juga  tetangganya ikut  bantu mengambil hasil kebun haji sanusi, lalu hasilnya barulah dibagi, juga entah, berapa-berapanya.

Cep, mun bade nyeuseuh, sakanteunan nu apak  pangnyeuseuhkeun. Apak can kuat uncag-incigna, jaba kudu ka sumur mah (Cep, kalau mau nyuci, sekalian punya apak cucikan. Apak belum kuat kalau harus ke sana kemari, apalagi ke sumur),” ungkap apak tiba-tiba saat saya menyeruput air susu di gelas. “Ya, mana baju-bajunya. Kumpulkeun we di didieu, ke ku Cep cuci (Kumpulkan saja di sini nanti Cep cuci),” jawab saya, sambil, sebenarnya ada rasa kasihan ke apak, karena sampai tulisan ini dibuat, kaki yang terkena tusukan duri pohon salak hampr 2 bulan itu  masih saja menyisakan bengkak.

“Pak…pak…maafkan anakmu ini, belum bisa bantu apa-apa kecuali doa semoga apak dikuatkan lagi,” gumam saya.

Saya datangi emak yang lagi di dapur sedang ngasurkeun suluh (memasukkan kayu ke tungku). Kalau masak di hawu (tungku), memang nyaman mak. Senyaman hati saya tatkala bertemu emak dan apak di rumah ini. Kerinduan itu selalu saya simpan. Dan kala sampai di gubuk ini, membuncah semuanya. “Mak, ada baju emak yang kotor, enggak? Cep mau nyuci. Kalau ada, Cep tunggu.”

Teu aya cep (enggak ada Cep),” kata emak singkat. Saya pun langsung ngeloyor ke sumur, sementara di kedua tangan saya memangku ember yang berisi cucian. Cucian saya rendam sekitar setengah jam. Waktu setengah jam itu saya gunakan untuk cari kayu bakar di pekarangan belakang rumah. Lumayan dapat banyak, cukup untuk masak sekitar 3-4 hari ke depan. Saya taruh di dapur kayu bakar itu, di samping tungku yang terbuat dari tanah liat bercampur sabut kelapa.

Saya kembali ke sumur lagi. Cucian saya bilas. Keringat di sekujur tubuh pun tumpah lalu tertampung  pada kain yang melilit tubuh. Huh, pegalnya. Panasnya. Sekira 20 menitan, baju dan celana apak, juga CAD (celana agak dalam) saya  sudah saya bilas plus peras. Sekering-keringnya dan sesingkat-singkatnya. Enggak tahan,  sengatan senter langit begitu bernafsu memangsa tubuh buatan Tuhan ini. Ya, Tuhan, inikah yang dinamakan asapnya neraka itu?

Pas saya mau jemur pakaian, saya lihat di samping rumah  seseorang pake kaos merah sedang ngobrol sama emak dan apak. Gendang teling saya diam-diam saya  aktifkan demi mengetahui apa saja yang dipercakapkan mereka bertiga. Di antara mereka, saya dengar banyak menyebut kata jengkol, jengkol, dan jengkol. Ada apa dengan jengkol yang tak punya salah itu? Mengapa sampai diperdebatkan? Naik kah harga jengkol kayak BP (bawang putih) atau BM (bawang merah)?

Mak, aya naon, sih tadi? Saha nu lalaki tadi (Mak, ada apa, sih tadi? Siapa lelaki tadi)?” Saya tanya begitu setelah tahu seseorang berbaju merah itu lenyap di hadapan.  “Ah, eta orang pasar nu rek meuli jengkol cenah. Manehna rek balik heula, nyokot duitna. Jengkol nu urang rek diborong, rek diala ku sorangan cenah. Saratus tujuh lima diborongna, cep (Ah, itu orang pasar yang mau beli jengkol. Dia mau pulang dulu, mau ngambil duitnya. Jengkol yang diborong mau diambil sendiri. Dia borong seratus tujuh lima, Cep),” tutur emak akhirnya. Dan, terbongkar juga lika-liku jengkol yang samar-samar saya dengar sebelumnya. Pada akhirnya, emak apak raut mukanya tak tegang lagi, karena tak berapa lama lagi akan didatangi tamu istimewa: DUIT JENGKOL!

Tak berapa lama. Suara mesin motor menderu menuju rumah. Saya intip dari baik tirai jendela. Lelaki. Pake baju putih, rambut keriting, dan bercelana levis. Saya lupa, sia dia. “Assalamualaikum,” kata orang itu. Oh, dari suaranya, saya baru kenal siapa sebenarnya orang itu. Namanya Mukmin, anak pak Arifin, kakakny lek Giat-yang dua hari lalu anaknya keguguran dan meninggal dunia di rumah sakit Argamakmur. Kebetulan pula, anak yang baru berumur 8 bulan itu ditanamnya di kebun apak, yang jaraknya sekitar 150 meter dari rumah.

“Eh, waalaikumsalam, Min. Silakan masuk,” kata apak menyambut Mukmin sambil bersalaman. Di ruang tengah, saya sambil sarapan pagi. “Eh, Mas, masuk mas. Ayo makan, mas sama mujair, nih,” saya coba ramah. Ramah? Emang ramah , ya? “Ya..ya..silakan. Tadi udah di rumah,” balas mas Mukmin tersenyum.

“Anu pak…saya ke sini ini mau ngembalikan sisa kain kapan bekas kemarin bungkus almarhum (anak lek giat yang keguguran). Jadi, tolong itung  sama bapak, berapa saya harus mengganti kain kapan itu. Maaf juga, saya baru bisa hari ini ke bapak. Maklum lah pak, di rumah ada kesibukan,” tutur mukmin dengan logat jawanya yang kental kayak madu asli. Saya masih makan waktu itu. Imam menyuguhkan air bening satu gelas buat Mukmin. Karena agak-agak ada obrolan privasi, saya langsung ke luar menuju dapur.

Sebelum meninggalkan ruang tengah itu, saya sempat mendengar sekilas jawaban apak. Senyum apak terpancar kala itu. “Udahlah, Min. Bapak itu sama sekali enggak minta bayaran dengan kain kapan yang dipake buat almarhum kemarin. Bapak ikhlas. Bapak niatnya memang menginfakkan saja itu. Jadi, enggak usah jadi pikiran Mukmin, keluarga Mukmin, terutama keluarga Giat. Bener, Min, bapak ikhlas itu,” ucap apak yang sempat tak sengaja saya rekam. Tahu-tahu, entah mengapa, kata Imam, Mukmin malah ngasih duit ke apak 50 ribu. Mungkin uang terimakasih. ” Duitnya ditarok di atas leptop Imam, padahal imam lagi nge- game,” cerita imam.

Jelang dhuhur, Ari pulang. “Ai, payah nian, kirain datang pagi-pagi tadi mau dikasih jawaban UN sama guru. Eh, tahunya malah kami dikumpulkan di lapangan periksa rambut. Rambut Ari aja kena nih, diptong sama guru, padahal mau Ari panjangin rambut Ari. Huh,payah!” gerutu Ari sambil melemparkan tas hitamnya ke kamar

“Jangan bohong Ri! Bener tadi sebelum ujian enggak dikasih dulu kunci jawaban sama guru? Masa enggak dikasih! Udahlah Ri, ngaku aja, enggak usah rahasia-rahasian gitu. Nyantai aja sama mamang ni!” kata saya mencoba memancig Ari supaya mau cerita yang sebenarnya. Karena siapa tahu, ponakan saya itu bersandiwara. Biasanya sih begitu.

“Sumpah demi Allah-Rasulullah, mana ada kami dikasih jawaban, woy! Wong soalnya aja 20 paket, susah nak ngasi bocoran jawaban!” lontar Ari, tapi masih tampak gurat-gurat ketawanya.

Saya tanya ke Ari begitu karena setahun lalu, kakaknya  Ari, Imam-saat UN Imam dikasih kunci jawaban dari sang guru sesaat sebelum masuk ruang ujian. Makanya, Imam tampak nyantai saja menjelang UN, tak tampak stress atau pucat! “Dulu, imam pagi-pagi nian berangkat ke sekolah biar dapat bocoran. Semua teman Imam dapat semua bocoran itu,” aku Imam setahun lalu.

Beduk marib datang. Ayam-ayam masih saja belum masuk ke kandangnya. Begitu pula dengan motor saya belum juga naik ke rumah. Nyamuk-nyamuk kebun mulai memasang taringnya, satu satu mereka masuk rumah mengitari ruang tengah , lalu bergelayutan di kain-kain yang bergantung di kamar, dan terbang lagi mencari penghuni rumah guna mendapatkan setetes darah segar. “Nyamuk banyak nian, nih!” protes Imam, yang tampaknya mulai digagahi nyamuk, yang mungkin-nyamuk itu nyamuk cewek pada daun telinganya.

Malam semakin pekat. Kami semua istirahat. Namun, kodok dan jangkrik masih saja ngerumpi. “Air kolam dan sawah ini sudah kering. Mau pindah kemana lagi kita dari sini, cari kolam yang banyak airnya yang kira-kira buat kita bersantai lebih dingin,” celetuk kodok hijau pada teman-teman yang lain. “Rumah kita terasa panas akhir-akhir ini, berdoalah anak-anakku supaya Tuhan segera memasag AC kembali di bumi,” kata jangkrik di samping rumah.

Kolam Kering dan Uwa Ratma Sakit

Hari pertama di rumah emak-apak, 21 April 2013.

Angin kebun karet yang ada di samping rumah menyambut kedatangan kami. Andai tak ada lagi barisan pepohonan di samping kiri, kanan, dan depan rumah, uhh…mungkin terasa hareudang (panas). Tapi untungnya, meski matahari memanggang rumah dan segala macam yang ada di kampung kami, suasana segar lah yang terasa. Sesegar hembusan kulkas kala dibuka. Belum lagi, beberapa ekor ayam mungil milik emak-apak ikut pula bersorak-sorai. “Wah, Cecep dan Imam datang lagi, tuh dari kota. Tambah rame aja nih rumah majikanku. Moga aja tak bawa petaka!” gumam si jago merah sambil berlari kecil mendatangi kekasih gelapnya.

“Assalamualaikum..” ucap saya sambil mendongakkan kepala ke pintu belakang rumah. Saya lihat, apak sedang duduk di singgasananya. Entah sedang baca apa. Tapi saya perhatikan, koran lama yang dipegangnya. “Waalaikumsalamwarahmatullah. Na jam sabaraha ti  Bengkulu (pukul berapa dari Bengkulu) ?” sumringah, apak menjawab juga sekaligus bertanya. “Tadi jam 07.00, Pak! Kamana emak, (Ke mana emak) ?”

Duka, tadi teh ka cai  (enggak tahu, kalau tadi ke air).”

Saya lihat di tengah rumah hanya ada apak. Pas saya sisir ke kamar, eh, Ari sedang khusuk di depan leptopnya. Sudah saya duga, pasti ponakan saya itu ber-game ria. “Huy, main game terus kau Ri. Pasti dari bangun pagi tadi, ya? Kirain lagi pelajari soal UN buat besok, eh malah nge-game. Bagus..bagus…mantap..mantap..i like that, Ri!” ucap saya sambil mencuil pinggangnya. “Eh, emak kemana, ya?” pikir saya.

Tak lama, saya keluar rumah. Dan…emak, tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dapur. Di tangan kanannya, ember hitam. Saya mendekat, sambil mencium tangan kanan emak yang tampak keriput itu. ”Damang, Mak? Ti mana  tadi (sehat, Mak? Dari mana tadi) ?”

Eh, damang. Na sareng saha kadieu? Ah, eta we nyuci piring di sumur (Damang. Sama siapa ke sini? Ah, barusan nyuci piring di sumur)?”

“Biasa, Imam, Mak.”

Kolam Kering

Hujan tak kunjung tiba, kolam apak pun kering. Kolam sebelahnya menyisakan air sedikit. (Hasan' foto)
Ini foto lama yang sempat diabadikan. Sekarang, kolam yang penuh air itu tinggal semata kaki. (Hasan’ foto)

Saya diam sejenak. Barusan emak bilang nyuci piring di sumur. Sumur? Kok di sumur, bukan di tempat biasa, pancuran? Memangnya pancuran enggak lagi ngocor (mengalir) ? Kalo nyuci piring saja di sumur, itu agak jauh dari rumah. 50 meteran lah. O, mungkin emak hanya bercanda. Bercanda? Pernahkah emak bercanda di siang bolong begini? Lalu, kenapa harus ke sumur?

Uh, Cep. Pancuran udah lama enggak dipake. Lama enggak hujan. Tuh, lihat, kolam kering, kulah (kolam kecil penampung air) apalagi. Makanya, emak kalau nyuci piring, mandi, dan nyuci pakaian ke sumur.”

O, jadi itu masalahnya. “Lama enggak hujan, Mak?”

Wah, bulan-bulan siganamah (Wah, sepertinya sudah beberapa bulan).”

“Iya, berapa bulan, Mak?” lanjut saya ingin tahu pastinya.

“Aya dua bulan lebih mah (Ada dua bulan lebih lah) !”

“Belum ada apa-apa, Cep. Sangu ge can asak (Nasi saja belum masak),” tambah emak.

Saya masuk ke rumah lagi. Ganti baju dan istirahat. Tidurrrrrrr. Sementara, emak mungkin lanjut masak, apak tetap duduk di tempatnya, Ari masih nge- game, tampaknya tambah asyik karena dibimbing sang game master, Imam Kurniawan yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Adzan asar bersahutan dari tiap sudut mesjid yang ada di desa saya. Matahari tampak dicegat pekat awan. Mantap, tak lagi panas. Saya langsung melompat ke luar rumah. “Ah, mau cari ikan!” Sebelum saya tidur tadi siang, apak bilang kalau mau ikan ambil aja di kolam dekat sumur yang sekarang kering. Kering karena tak ada hujan. Sebagian ikan  meninggal di tempat. Sebagian lagi, dirampok burung cucak rowo, ayam apak, dan kadang biawak.

Ieu (ini) embernya dua. Yang satu buat induknya, yang satu buat anak-anaknya. Jangan dikubek (dikeruhkan airnya), ambil aja dari pinggirnya,” begitu pesan apak.

Sembilan puluh persen, kolam itu memang kering. Tapi sebagiannya, tepatnya di sebagian sudutnya masih ada sisa genangan air. Di sanalah penduduk ikan masih bisa bernapas. Terlambat saja diambil, mereka mati. “Bisi kaburu paeh, sok ambil (Supaya enggak cepat mati, ambil saja)!” tegas apak.

Saya pun langsung meluncur ke kolam yang ditunjuk apak. Saya bertengkar dengan lumpur. Lumpur Putri Hijau, bukan Lapindo Brantas! Ari ikut membantu mencari ikan. Imam, sibuk dengan hapenya. Sibuk motret sana motret sini. “Ikan gabusnya pegang Ri, biar Imam foto. Mau langsung di uplod di facebook!” Spontan, Ari pun langsung meraih ikan gabus dari ember. Yup, jadilah Ari berpose bersama gabus dan mujair. Cekrekk. “Udah Ri, aku unggah ke facebook,” ucap Imam. Saya dengar percakapan mereka, tapi saya tak mau minta difoto karena tubuh mungil saya penuh lumpur! Malu, dunk!

Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan's foto)
Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan’s foto)
Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan's foto)
Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan’s foto)

Berburu ikan pun usai. Cukup. Hari mulai gelap. Belum lagi nanti harus membersihkan ikan. “Ayo pulang, Mam. Tolong bawa ember yang ini. Biar yang ember hijau mang Cep yang bawa,” ajak saya.

Selepas magrib, nasi dan lauk sudah dihidangkan di ruang tengah. Emak, apak, Ari, Imam, dan saya lalu makan malam. Tentu, ditemani ikan-ikan yang gurih hasil tangkapan tadi sore. Ada yang disop ada pula digoreng. Wahhh, juga ditemani sambal terasi buatan emak. “Enak, kan kalau mang Cep yang goreng ikannya!” spontan saya bersuara. Yang lain hanya senyum saja. Makasih, ya atas senyumnya.

Sepiring ikan yang digoreng ludes! Kenyang. Alhamdulillah, ya Tuhan. Kalau sudah begitu, spontan gerbang bola mata sudah mulai mengatup-ngatup. Saya mencoba

. Ya Tuhan, jangan kau ngantukkan saya ini. Mungkinkah saya kekenyangan? Ah, tentu tidak! Wong makannya  aja sedikit. Cuma nambahnya entah berapa kali, enggak terhitung! TERLALU!!!

Uwa Ratma Sakit

“Cep, uwa Ratma saurna udur. Teu tiasa barangdahar dei. Tos alim cenah. Biasana mah masih sok ngaemam bubur jeung obat. Tapi kamari, pas apak nelepon Anin, uwa Ratma tos parah. Apak rek ngintun artos ka Tasik, tapi kumaha tuda, can aya artosna. Mun aya sajuta weh, apak rek ka Tasik. Jaba badan apak ge teu normal keneh ieu teh (Cep, uwa Ratma katanya sakit. Sudah enggak bisa makan. Sudah enggak mau lagi. Biasanya masih mau makan bubur dan obat. Tapi kemarin, saat apak menelepon Anin, uwa Ratma sudah parah. Apak mau kirim uang ke Tasik, tapi belum ada uangnya. Kalau ada satu juta, apak ingin ke Tasik. Apalagi, kondisi badan apak tak normal sekarang),” kantuk saya hilang tatkala apak bilang begitu.

Ua Ratma itu kakaknya  apak yang berada di Kupanunggal, Tasikmalaya. Umurnya sekarang, kata apak udah genap 83 tahun atau selisih 4 tahun sama apak. Anak uwa Ratma itu banyak, ada 11 orang dari sekitar 5 istrinya. Anin adalah anak perempuannya dari istri uwa yang terakhir. Rumahnya aja besar. Dulu, selagi kuliah saya sering ke rumahnya. Pas saya hitung ada 9 kamar. Rumahnya itu, letaknya berada di kaki gunung Galunggung, gunung yang pernah meletus antara 1982-1983. “Pas galunggung meletus, gelap Cep siga (seperti) malam,” ujar apak suatu hari.

“Pak, uwa Ratma teh sakit apa gitu?” sambung saya sambil melirik ke emak.

Rupa-rupa we etamah (Bermacam-macam). Sakit kepala, biri-biri, sakit perut, darah tinggi. Ah, pokonamah sagala rupa (pokoknya bermacam-macam). Da ceuk Anin kitu. Karunya. Kudunamah apak teh kaditu (Kata Anin begitu. Kasihan. Seharusnya apak ke sana),” tutur apak lagi.

Da biasana mah (Biasanya juga) dari dulu uwa Ratma mah tara gering (uwa Ratma enggak pernah sakit). Jaba dei tiap hari uwa ratma mah puasa terus (Apalagi, uwa Ratma puasa tiap hari). Tapi meureun da tos saatnya kudu kitu (Tapi mungkin sudah saatnya harus begitu),” kenang emak.

Ya. Saya pernah dapat cerita baik dari emak maupun apak kalau uwa Ratma itu enggak pernah berhenti puasa. Dan itu dilakukan sejak ia bujang sampai menikah, hingga kini udah punya belasan cucu. Pokoknya tiap hari shaum. Kata apak, uwa Ratma melakukan olah spiritual itu sejak berguru ke seorang ustad, dulu, pas dagang di Jakarta. “Apak juga dulu pernah diajaknya, tapi apak menolak. Karena sepengetahuan apak, tak ada ajaran untuk puasa sepanjang masa,” terang apak.

Bahkan, kata emak, sebelum memutuskan untuk transmigrasi ke Bengkulu, emak pernah menyaksikan sedikit juga tambahan cerita dari saudara emak tentang kehebatan ilmu yang dimiliki uwa Ratma. “Uwa Ratma mah bisa jalan di atas air. Emak juga enggak tahu kenapa uwa Ratma begitu. Pantas saja kalau puasanya tiap hari, otomatis kan dekat sama Tuhan. Apapun yang diinginkan bahkan di luar logika bakal terjadi. Uwa Ratma..uwa Ratma,” kata emak, lirih, apalagi saat menyebut nama uwa Ratma.

“Pak, kalau ada orang sakit, terus sudah enggak bisa ngapa-ngapain, apalagi enggak bisa makan, naon artina (apa artinya), Pak?” tanya saya ke apak.

“Makanya, pas apak dengar Anin cerita kalau uwa Ratma sudah enggak mau lagi makan, apak sudah prediksi, uwa Ratma udah enggak ada harapan lagi. Sudah parah kalau si sakit sudah enggak mau lagi makan, Cep!” lontar apak, yang sebenarnya bikin saya deg-degan, “maunya apak juga ke Tasik. Tapi, apak juga badannya gak terlalu sehat, Cep.”

“Doakan aja, Cep. Mudah-mudahan uwa Ratma sehat. Juga doakan apak dipaparin (diberi) sehat dan rezeki.”

Uwa Ratma…uwa Ratma..sabar ya. Kami keluarga di Bengkulu hanya bisa memohon supaya Tuhan berkenan member kebugaran dan umur panjang serta bisa ke sawah lagi, panen padi lagi. “Padahal, di sawah pare geus karoneng tinggal ngalaan (padi sudah menguning tinggal dipanen),” ucap apak, seperti dituturkan Anin lewat hape.

Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan's foto)
Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan’s foto)

Balik Kampung Lagi

Pagi ini saya dan Imam Kurniawan-ponakan saya mau balik kampung. Mudik untuk melepas rindu dengan emak, apak, dan Ari. Rindu juga sama kebun, kolam yang ada ikan betok, mujair, lele, dan gabusnya. Kata emak, “Cep, buah Kedondong sudah tua. Cepatlah ke rumah!” Buah kedondong? Wah, udah lama enggak makan kedondong. Oke, mak, nanti Cep rujak kedondongnya.

My Home my Paradise (Hasan's foto)
My Home my Paradise (Hasan’s foto)

Kalau udah di kampung halaman, banyak sekali pekerjaan yang saya lakukan. Saya kurang betah, kalau pulang ke rumah hanya makan saja, tidur melulu, atau santai-santai tak karuan. Itu kurang saya sukai. Saya lebih suka cari kayu bakar, mancing ikan, nemenin emak memetik coklat, ngambil buah pinang, bantu cuci piring, atau ikut bantu masak. Ya, pokoknya saya paksa tubuh ini biar banjir keringat!

Kebetulan, hari ini juga teteh, Rahmat, dan Opik Awan pulang kampung. Kalau saya dan Imam berangkat pagi, teteh dan kroninya berangkat siang pake travel. Jadi, tampaknya saya dan Imam akan sampai lebih dulu ke rumah. Teteh mungkin malam, sebelum isya. Okelah. Hati-hati aja, Bro!

Ini yang saya suka, kalau Rahmat sudah ke rumah kakek, pasti pekerjaannya cari cacing lalu mancing. Berjam-jam di depan kolam dia tahan. Makanya, saking seringnya dia kelayapan, lihatlah kulit yang membungkus badannya: BLACK! Tepatnya bukan hitam, sih, tapi coklat legam. Makanya, di keluarga, Rahmat sering dipuji sebagai anak yang rajin dimintai tolong, jarang membantah, dan suka cari sesuatu yang bisa dimanfaatkan bersama. Cari ikan, contohnya! Pokoknya, Rahmat ini orang paling sabar di antara dua kakaknya, Imam dan Ari. Puji memuji akan dilanjutkan kemudian,ya. Udah siang , nih!

Rahmat dan hasil tangkapannya saat pulang liburan sekolah beberapa saat lalu. (Hasan's foto)
Rahmat dan hasil tangkapannya saat pulang liburan sekolah beberapa saat lalu. (Hasan’s foto)

Sekarang pukul 06.02. Tampaknya saya harus siap-siap dulu, nih. Sarapan dulu, manasin motor dulu, ngasih oli rante motor dulu, dan persiapan lainnya. Belum lagi jemput Imam ke rumahnya. “Mam, siap-siaplah. Mang Cep bentar lagi ke sana. Jangan lupa bawa sempak cadangan buat di Sebelat. Bawa piti jugo, buat jajan di jalan!” sms saya layangkan ke Imam.

Have a nice trip!

Pake ini nih saya pulang kampung hari ini. Ngong...(Hasan's foto)
Pake ini nih saya pulang kampung hari ini. Ngong…(Hasan’s foto)

Demi UN, Ari Tahajud

Aku baru ingat kalau Senin (22/4) besok Ari Kurniawan, keponakanku  akan mengikuti ujian nasional (UN). Jauh-jauh hari-Boto, panggilan sehari-hari Ari pernah mengungkapkan niatnya ingin salat tahajud   jelang dan saat UN berlangsung. Makanya, siang ini saya coba kirim pesan pendek ke Ari. “Ri, siap besok (22/4) bertempur dengan tentara soal-soal UN?” Pesanku tak langsung dijawabnya. Mungkin Ari lagi kelayapan, entah kemana. Atau, pulsa masalah utamanya. Lagi-lagi entah!

http://lanuma-angga.blogspot.com
http://lanuma-angga.blogspot.com

“Siap!” akhirnya dibalas juga smsku. “Mang, kapan nak ke Sebelat? Jangan lupa, isikan pulsa ke nomor Ari jugo.”

“Mantapla tu. Kato nak tahajud, jadi? Pulsa insyaallah nanti dikirim, tenang aja.”

“Jadi, dunk! Besok mulai tahajud, Mang! Awas kalau pulsa enggak dikirim, ya,” ancam ponakanku akhirnya.

Begitulah ponakanku yang satu ini. Pas aku pulang ke Sebelat sebulan lalu, tak tampak kegelisahan di benak Ari, bahwa sebentar lagi UN akan digelar. Ia begitu menikmati hari-harinya penuh riang, tanpa beban, bahkan, aku tak pernah lihat ia belajar soal-soal UN yang  dibeli ibunya. Ponakanku, aku lihat malah asyik main game yang ada di leptopnya. “Nyantai bae, Mang! Ngapoi dipikirkan nian UN tu. Jalani aja kelak,” begitu jawaban Ari tiap kutanya kesiapannya bertempur dengan soal-soal yang bikin kening berkerut itu.

Sikap nyantainya Ari, nyaris sama seperti diriku. Kalau kau tahu, bahwa aku tak pernah memikirkan apa yang bakal terjadi esok pagi. Aku hanya menjalani garis hidup yang dikaruniakan Tuhan. Tak pernah protes dengan keadaan apapun. Kalau ada koruptor yang menilep  diut rakyat hingga ratusan triliun, apakah aku menerima keadaan itu? Yup, aku tidak bisa bicara, tapi mangkel di hati lalu kalau ada sempat paling-paling ditorehkan di blog. Aku sadar, dunia ini tak seindah yang aku harapkan. Melakukan korupsi dan tidak melakukan korupsi, itu sudah bagian dari skenario alam, yang mau tak mau harus diterima. Begitulah, dunia memang penuh intrik! Penuh lelucon, penuh kebrengsekan!

Begitu juga Ari, ponakanku yang lahir Oktober itu, tampaknya memandang segala sesuatu dengan pikiran sederhana. Contohnya, sikapnya menghadapi UN tahun ini. Nyantai sekali, tak banyak beban. Meski begitu, Ari pun punya usaha lain menjelang UN ini, selain les dan membaca-baca soal yang dibeli ibunya. “Pokoknya, Ari nanti mau salat tahajud! Biar nanti minta dibangunin kakek.”

Ari nyantai, tapi keluarga yang lain, agak sedikit khawatir jika ponakan saya itu kurang tepat dalam menjawab soal-soal UN nanti. Utamanya, kakeknya adalah orang yang paling khawatir soal itu. Apa sebabnya?  Kakeknya, yang juga bapakku itu paling tahu apa saja kegiatan Ari sehari-hari sepulang sekolah. “Sejak ibunya ngirim leptop, bangun pagi, langsung Ari membuka leptop. Entah apa yang ia mainkan. Udah tahu sebentar lagi mau ujian nasional, bukannya belajar malah main leptop,” gerutu bapakku suatu hari.

Kakek, bukannya tidak menyuruh cucunya itu  untuk membaca soal-soal UN. Hampir sesudah magrib, selalu kakek ngoceh. “Ri, ngaji dulu. Sebentar aja, tiap malam selembar jadilah. Udah itu baca buku, baca-baca lagi contoh soal buat UN. Kalau mau sukses kan harus ada usaha atuh, Ri. UN cuma beberapa minggu lagi, tuh!” ucap kakek, pas aku ke Sebelat beberapa minggu lalu. Mendengar khutbah singkat itu, Ari hanya melontarkan,”Iya..iya..”

Salat tahajud, bagi Ari adalah sesuatu yang langka. Meski begitu, Ari kerap sesekali memergoki kakek sedang salat di seperti malam. Hanya mengintip saja dari balik bantal, belum terlalu sadar nian, udah itu kembali terlelap melanjutkan mimpinya yang sempat terpotong. Dulu, aku pun pernah mengalami hal yang sama. Seminggu jelang UN, aku sengaja salat tahajud tiap malam. Itu semua demi UN, demi lulus UN, bukan supaya dapat nilai bagus! ‘Tuhan akan kabulkan permintaan hambanya, terutama di sepertiga malam’. Begitu seorang teman yang alim memberikan petuah.

Tahajud seperti senjata pembantu bagi Ari. Aku pun tidak pernah menanyakan ke ponakanku itu, kenapa ia begitu ngebet ingin tahajud jelang dan hari-hari saat UN berlangsung. Entah tahu darimana Ari, sampai mau-maunya tahajud di sepertiga malam yang mengerikan itu, malam saat orang-orang ngorok plus ngiler itu, saat maling mengendap-endap kandang ayam orang, dan saat kodok-kodok dipinggir kolam berhenti bernyanyi. Entah!

Selamat berjuang ajah deh, Ri Senin besok! Taklukkan musuhmu terlebih dulu, yang kira-kira tampak kelelahan! Barulah lawan bosnya! Hancurkan!

https://elfarizi.wordpress.com
Itu Ari, ponakanku. Ayo, tendang soal-soal UN-nya! (https://elfarizi.wordpress.com)

Kompor Gas?? Oh, No!

Ada apa dengan kompor gas? Kompor gas-terutama hasil subsidi pemerintah yang beratnya 3 kilogram itu membuat saya takut sekaligus trauma. Maksud saya-saya tidak akan pernah-walau saya nanti berumah tangga menggunakan kompor gas di rumah saya. Saya takut, kalau kompor gas itu menghabiskan nyawa saya. Tegasnya, saya tidak mau mati di tangan kompor gas! Tentu saya punya alasan untuk itu.

Program pemerintah untuk meringankan rakyat pun berjalan. Namun, belakangan diketahui, kalau tabung gas yang digunakan warga itu ternyata-bukan saja menguntungkan, tapi di sisi lain terdapat kekurangan. Sebagian warga mengeluhkan tidak adanya sosialisasi mengenai tata cara penggunaan tabung gas mungil 3 kilogram itu. Makanya, akibat salah memasang sambungan dari kompor ke tabung, banyak tabung gas yang meledak. Tak sedikit, korban meninggal pun berjatuhan. Saya tidak tahu, siapa yang patut dipersalahkan. Saya menduga, kualitas tabung gas yang dibagikan kepada warga tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah.

http://jakarta.okezone.com
Tabung ini yang bikin saya trauma dan takut. (http://jakarta.okezone.com)

Sejak saat itu-saya memutuskan untuk ‘berani’ menolak, jika saja ada teman atau kerabat lainnya yang menyuruh saya menghidupkan kompor gas. Amat takut, ngeri pokoknya. Ternyata benar, saat saya kuliah-saya tentu sering, jika liburan main ke rumah saudara di Cianjur dan Tasikmalaya. Rata-rata, keluarga saya itu menggunakan kompor gas subsidi bila memasak.

“Cep, tolong masak air buat bibi mandi, ya,” kata saudara saya di Tasikmalaya kala itu. Deg-degan langsung menyergap. Saya pun tak mungkin menolak dengan mengatakan,”Enggak mau, Bi. Masak aja sendiri. Cecep enggak bisa ngidupin kompornya!” tentu merontokkan wibawa saya kalau kejujuran saya itu sampai terungkap di tengah rumah. Makanya, saya cari cara, gimana supaya air tetap dimasak tapi bukan saya yang menghidupkan kompor.

“Iya, Bi, bentar.” Bibi saya ke warung yang jaraknya kira-kira 50 meter dari rumah. Dan, sebenarnya, itu yang saya harapkan. Bila perlu, si bibi saya itu berlama-lama di warung, ngobrol ini-itu sama tetangga. Di rumah pun, saya bingung, saya harus meminta tolong ke siapa menghidupkan kompor gas ini. “Mang, ada Bibi?” suara bersumber dari pintu belakang rumah memecahkan kebingungan saya. “O, barusan ke warung, katanya mau beli terasi. Eh, Ndri, tolong hidupkan kompor gas dulu, mamang mau ke Wc dulu. Tolong, ya. Bisa, kan?”

“Mang…Andri mau ke warung dulu. Kompor idup, tuh!” Brakkk. Pintu nampak dianiaya anak lelaki bibi saya yang lain itu. Untung dia masih SD, kalau yang membanting sepantaran anak SMA, rasanya belah juga pintu dari kayu itu. “Alhamdulillah, ya Tuhan. Akhirnya bisa juga ngidupkan kompor ini,” celetuk hati saya. Saya tuangkan air bersih ke ceret alumunium, lalu dipanggang di atas kompor. Kompor bertabung gas 3 kilogram!

Andai orang tahu kalau saya ini tak bisa menghidupkan kompor gas, pastilah orang-orang, termasuk pembaca menyangka saya aneh. Bahkan, penilaiannya lebih dari itu. “Masak, gitu aja enggak bisa! Banci amat, tuh orang! Memalukan!”. Barangkali itu yang saat ini saya pikirkan. Sebagian orang pasti akan berujar seperti itu. Sebenarnya, saya pun merasa malu karena ketakutan saya yang berlebihan ini. Tapi mau gimana lagi. Saya terlanjur dibuat ngeri!

Saya mengatakan, kalau berumah tangga, saya juga tidak akan menggunakan kompor gas. Benarkah itu Cecep Hasannudin? Memangnya, istri saya nanti-orangnya juga anti kompor gas? Atau, dia juga memiliki ketakutan yang sama terhadap kompor gas? Nah, itu yang malah saya pikirkan sekarang. Bagaimana caranya saya bilang ke istri saya, kalau saya ini takut sama kompor gas, ya? Aduh, payah, nih!

Maka, saya lebih baik hidup di desa. Kalau mau masak, saya cari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Apalagi, aroma masakan yang dimasak di tungku itu lebih khas dan enak-setidak-tidaknya, itu menurut pengalaman saya yang berasal dari desa di kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara. Saya akan memanfaatkan reranting kayu yang berserakan di kebun saya. Masak menggunakan kayu bakar tak terlalu beresiko menghabiskan nyawa seperti pakai kompor gas.

Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan's foto)
Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan’s foto)

Emak di desa pun menolak menerima kompor dan tabung gas dari pemerintah. Mendengar ini, saya-tanpa basa-basi langsung menyatakan setuju! Ya, itu tadi saya khawatir sama emak-bapak saya kalau menggunakan kompor gas di saat masak. “Kompor gas ada tuh di dapur. Enggak dipakai. Rencana mau dibalikkan ke pak RT. Enggak biasa makainya. Takut lagi, seperti kayak di berita banyak yang mati karena kompor gas!” emak saya bilang begitu. Horeee. Kata saya.

Jangan coba-coba menyuruh saya menghidupkan kompor gas!