Pilihan

From: www.dream.co.id
From: http://www.dream.co.id

Tahun baru 2013—kala itu saya merayakannya di puncak gunung Dempo, Pagaralam, Sumsel. Ada keinginan, pergantian tahun 2014 ke 2015 saya merayakannya kembali di puncak gunung. Beberapa teman sudah ada yang ngajak saya ke gunung Bromo, sebagian lain minta ditemani ke Kerinci—malah, dua hari lalu—teman kuliah memaksa saya ke Ciremai.

Lain lagi teman SMA—mereka mengajak saya berpetualang ke Belitung, Tanjung Pandan—Negeri Laskar Pelangi pas libur Natal dan tahun baru ini. Tiga hari sebelum saya menulis ini, teman kantor ngajakin saya ke Taman Nasional Way Kambas—Lampung Timur—tempat para gajah bersekolah sekaligus tempat rekreasi keluarga.

Saya jadi bingung mau pilih ajakan teman yang mana. Manjat Bromo nan cantik, Kerinci yang aduhai atau Ciremai yang anggun? “Ke Belitung aja, di sana, kan ada kakakmu. Oke, ya? Kamu, kan belum ke Pulau Lengkuasnya dulu pas kamu ke sana? Asyik, lho!” goda hati saya. Tuhan, berilah hamba petunjuk untuk memilih yang teman-teman tawarkan. Segera!

Jujur, meski saya tinggal di Bengkulu dan sering melewati Lampung—kala saya liburan, nyatanya Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang berada di Way kambas tersebut—hingga kini belum saya sambangi. Gimana kalau saya memilih ke Way Kambas saja? Apalagi, di sana juga terdapat International Rhino Foundation—yang tugasnya menjaga spesies badak agar tidak punah. Ah!

Bisa jadi saya tiba-tiba pesan tiket pesawat ke Bengkulu, sebab seminggu lalu, emak saya mengabarkan bahwa rambutan di pekarangan rumah mulai ranum. Tak hanya rambutan, tapi, “Iya, duren di depan dan di samping rumah juga siap jatuh. Di belakang dapur juga ada beberapa yang berbuah. Yang itu isinya kuning kayak mentega.”

Atau…atau…atau…atau…saya menikah saja? Saya minta doa dari para blogger—semoga Tuhan memilihkan saya yang pantas dan baik atas pilihan-pilihan di atas–utamanya akhir 2014 dan awal 2015. Dan, semoga pula pada 2015 kita berjumpa lagi dalam suasana berbeda dan lebih berkualitas—dalam hal apapun. Yuk, mareeee!

Iklan

Maaf, Ding!

Adik saya (kedua dari kiri) bersama teman-temannya pra-wisuda.
Adik saya (kedua dari kiri) bersama teman-temannya pra-wisuda.

Nyatanya memang saya benar-benar tidak jadi pulang ke kampung halaman, Bengkulu, tanggal 18 Desember 2013 (besok). Nyatanya lagi, saya betul-betul menyesal tidak bisa hadir di acara wisuda adik saya. Selain alasan karena jadwal pekerjaan kantor yang disengaja saya padat-padatkan, juga bertepatan dengan 22 Desember 2013 mendatang, kami, semua karyawan kantor akan mengadakan Family Gathering ke Taman Safari, Bogor. Mau tidak mau, sebagai karyawan pemula saya harus mengikuti acara tersebut yang biasa diadakan setahun sekali ini.

Sekali lagi, kepada adik saya, mohon dimaafkan atas ketidaknyamanan sementara ini. walau begitu, rasanya ketidakhadiran saya pada wisudamu itu, semoga tak mengurangi segalanya: acaranya lancar dan kamu bahagia. Satu lagi, semoga kamu, kalau memang minat cari kerja, ya mudah-mudahan cepet dapat yang sesuai dan yang kamu impikan, ya. Itung-itung cari kesibukan gitu, Bro. Sebab sibuk itu, kata orang-orang yang mengaku suka menyibukkan diri-katanya mengasyikkan, lho. Saya harap kamu jangan percaya omongan kakakmu yang baik ini sebelum mencobanya, ya.

Ini lagi. Ada yang bilang, kalau adik saya lebih keren dari saya, sekali lagi, itu PITNAH!
Ini lagi. Ada yang bilang, kalau adik saya lebih keren dari saya, sekali lagi, itu PITNAH!

Tenang lah, Bro. Lagian, meski kakakmu enggak datang ke acara wisudamu, ya, kan Aa Harun dan Mbak Ocha baru datang dari Belitung? Sudah kamu jemput, kan ke Bandara Fatmawati hari ini? Semoga saja, kedatangan mereka, itu mewakili kakakmu yang di Bandung ini. Apalagi, emak dan apak, kan juga sudah pada datang ke rumah teteh atau aa di Prapto. Katanya lagi, pas emak menelepon kemarin subuh, emak dan apak dari Putri Hijau (rumah) juga bawa makanan: wajit, papais, ikan emas/mujair, dan penganan ringan lain. Kalau kakakmu ini ke Bengkulu, wah, mungkin ikut mencicipi makanan buatan emak kita itu, ya.

Yang paling disesalkan lagi itu, hai adikku, sebetulnya kalau kakakmu ini bisa ke Bengkulu hari ini atau besok, ya mau sekalian nengok Kak Ton yang sedang sakit. Kata teteh dan juga katamu, bukannya parah sakitnya? Bahkan, kamu bilang pas main ke rumah teteh, K Ton enggak bisa jalan, ia hanya terkulai di ranjang. Saya bilang, doakan sajalah, usaha ke medis udah, Tuhan lagi lah Maha Penyembuh. Kamu bilang lagi, bahwa kaki Kak Ton itu, ya karena diserang semacam diabetes, kakinya melepuh. Masyaallah. Ya, mudah-mudahan lah teteh dan anak-anaknya diberi kekuatan menerima kenyataan ini.

Itu sama si kembar (Fitra-Fitri). Bingung, yang mana Fitra, mana Fitri.
Itu sama si kembar (Fitra-Fitri). Bingung, yang mana Fitra, mana Fitri.

Kalau gitu, ya mungkin kakakmu ini akan datang ke Bengkulu sebelum lonceng pergantian tahun. Doakan saja, kali ini rencana kakakmu ini terlaksana dan dimudahkan segalanya. Eh, kalau Aa Aep dan Mbak Rohmah di Muko-muko, katanya mereka mau liat wisuda kamu, enggak? Mudah-mudahan, mereka bisa, ya. Ya, itung-itung pengganti kakakmu ini yang enggak bisa hadir. Lagian biar rame gitu, Bro. Ya udah, deh, Bro, cukup sekian dulu dari kakakmu ini. Sekali lagi, rencana memang tinggal rencana, Dik, tapi mudah-mudahan kamu memaklumi alasan kakakmu ini enggak bisa hadir di acara wisudamu. Selamat, ya. Salam buat semuanya.

Belitung-Cengkareng dari Sriwijaya

Sebetulnya, saya belum punya ide buat menulis sore ini (bohong ah). Tapi, pas lihat di file yang ada di komputer, di sana ada beberapa foto-yang menurut saya layak untuk dibagikan di sini. Layak? Foto-foto tersebut hasil jepretan saya saat di atas pesawat Sriwijaya Air, sepulang dari Belitung. Awalnya, saya ragu mau ngambil gambar, karena takut ditegur oleh pramugari. Tetapi, untungnya kondektur pesawat itu tak keberatan saya jepret sana-sini. Sebab, saya juga takut, alat yangg saya gunakan buat memotret mengganggu navigasi. Eh, tahunya tidak. Ya udah, jadilah di bawah ini:

Beberapa menit mau berangkat, masih di Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandang, Belitung.
Beberapa menit mau berangkat, masih di Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung.
Duh, deg-degan juga pas mengambil gambar yang ini, mulai naik.
Duh, deg-degan juga pas mengambil gambar yang ini, mulai naik.
Ini masih di atas Belitung, tapi entah di mana, di atas hutan/kebun tampaknya.
Ini masih di atas Belitung, tapi entah di mana, di atas hutan/kebun tampaknya.
Pesawat mulai meninggi, hampir di atas awan. Ya Tuhan, gimana kalau saya jatuh.
Pesawat mulai meninggi, hampir di atas awan. Ya Tuhan, gimana kalau saya jatuh.
Bener-bener udah di atas awan, dan tanah nyaris tak kelihatan lagi.
Bener-bener udah di atas awan, dan tanah nyaris tak kelihatan lagi.
Sesekali saya juga memfoto ruangan pesawat.
Sesekali saya juga memfoto ruangan pesawat.
Hampir turun ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banteng, bukan Jakarta, ya.
Hampir turun ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, bukan Jakarta, ya.
Di samping pesawat yang saya tumpangi, ada pesawat yang juga mau turun.
Di samping pesawat yang saya tumpangi, ada pesawat yang juga mau turun.
Itu jalan tol, hampir, sebentar lagi.
Itu jalan tol, hampir, sebentar lagi.
Nah, sudah merapat, dikit lagi, sabar.
Nah, sudah merapat, dikit lagi, sabar.
Alhamdulillah, 45 menit di atas pesawat. Thanks.
Alhamdulillah, 45 menit di atas pesawat. Thanks.

Mana Kunci Motormu? Udah, Tinggalin aja di Parkiran

Untungnya, saya masih menyimpan beberapa foto saat berlibur ke Tanjung Pandan, Belitung, 3 tahun lalu. Beberapa tempat wisata nan eksotis yang ada di negeri Laskar Pelangi tersebut, pun saya kunjungi. Saya hanya ingin membuktikan, benarkah keindahan alam yang ditampilkan di film besutan Riri Riza itu benar-benar bukan khayalan? Eh, ternyata, benar, batu-batu besar yang disorot di film hasil adaptasi novel Andrea Hirata itu tak bohong. Pokoknya, indah banget, deh! Saya mau ke sana lagi suatu saat, tapi entah kapan. Mungkin kalau nanti merayakan bulan madu. Ha.

Untuk sementara ini, saya tidak hendak membagikan soal keindahan alam Belitung, tetapi pengalaman lain saya ketika jalan-jalan ke salah satu pasar di Kota Tanjung Pandang suatu pagi bersama adik, kakak, dan kakak ipar. Saat memasuki kawasan pasar itu, saya terkaget-kaget melihat motor yang terparkir di sekitar pasar itu, kunci kontaknya kok masih tergeletak di tempatnya, alias terbujur di lubang kunci itu. Maka, saking penasarannya, saya mencoba berkeliling di antara puluhan motor yang terparkir. Dan benar, anak kunci itu masih bertengger di motor!

Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.
Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.

Saya tanya ke salah satu pedagang sayur-mayur di sana. Kata si ibu itu, memang sengaja para pemilik kendaraan, terutama motor sengaja tidak mencabut kunci motornya. Kenapa, ya? “Di sini memang nyaman, kok, Dek! Udah biasa, di Belitung ini tidak ada yang maling. Kita di sini sudah saling menjaga.” begitu kata ibu-ibu yang menjual wortel dan sayur lainnya saat saya tanya alasan kenapa pemilik motor tak mengambil kuncinya.

Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.
Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.

Saya lihat, di sana memang berkeliaran tukang parkir. Si juru parkir, selalu mengingatkan kepada warga yang hendak memarkir motornya, untuk tidak mengunci stang motor. Rupanya, ini untuk memudahkan mereka kalau ingin menggeser atau memindahkan motor supaya lebih rapi dan tidak parkir sembarangan. Makanya, kebetulan, kakak saya pun waktu itu membawa motor dan memarkirkan motornya di depan gedung pasar. Eh, ternyata, kakak saya ini pun tak mengambil kunci motornya. “Enggak, tenang aja. Di sini aman, kok!” ucap kakak  ke saya yang tampak khawatir.

Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.
Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.

Makanya, karena menurut saya itu hal unik, kamera poket yang saya bawa tak disiasiakan. Beberapa motor yang terparkir pun saya bidik, terutama titik tembaknya tepat pada kunci yang masih menggantung. Kontan, beberapa orang di sekitar pasar, sesekali melirik saya sambil ketawa-tawa. Ah, saya cuek saja, yang penting kan saya bukan sedang mengincar salah satu motor, untuk kemudian dibawa kabur. Ah, kalau ke Belitung lagi, saya mau ke pasar lagi, mau lihat-lihat, masih adakah kunci motor menempel saat diparkir.

Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.

Mudik Enggak, Ya? Bingung…

Kawan-kawan saya di kosan hawanya sudah ngomongin jadwal mudik ke rumah masing-masing. Maklum, lebaran tinggal menghitung hari alias, ya sekitar dua mingguan kurang. Sementara saya, mendengar mereka curhat tentang rencana mudik, ya hanya senyum-senyum dan tetap antusias. Kata mereka, mudik adalah waktu dimana harus berkumpul sama keluarga besar. Memangnya, kumpul bareng enggak bisa ya di luar lebaran?

Bukan begitu, kata kawan yang lain. Tapi, berkumpulnya  sama keluarga tercinta saat momen idul fitri adalah sesuatu yang berbeda. Dan, suasananya pun lebih meriah dibandingkan hari-hari biasa. Lagi-lagi mereka bilang,”Saat lebaran itulah kita bisa saling memaafkan antarsaudara. Lalu bersimpuh di bawah telapak ayah-ibu, meminta maaf atas segala kesalahan selama ini, baik disengaja maupun tidak!”

Celotehan mereka, terkadang membuat saya ingin juga mudik. Padahal, saya pernah mengikat janji kalau tahun ini saya mau lebaran di Bandung, tidak di kampung halaman nan jauh, Bengkulu. Kenapa begitu? Seperti yang pernah saya bilang, saya hanya ingin mencoba bagaimana rasanya di saat lebaran itu saya tak hadir bersama ayah, ibu, adik-kakak, ponakan-ponakan yang begitu banyaknya, serta kawan-kawan lama. Sekali lagi, saya hanya ingin coba. Sebab, lebaran-lebaran sebelumnya saya selalu hadir bersama mereka.

Saya jadi berpikir,”Mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, ya?” Waduh, pusing juga ya kepala saya kalau memikirkan itu. Belum lagi, kalau saya akhirnya mudik, minimal saya harus beli oleh-oleh buat keluarga di Sumatera. Masa melanglang buana di Bandung, kok enggak bawa buah tangan sama sekali, ya? Aduh, benar juga, tuh! Ya udah, sekarang saya tak memikirkan soal mudik atau enggak. Saya hanya ingin khusuk saja dengan aktivitas saya. Mudik nomor 12! Cihuy!

Meski begitu, beberapa hari ini saya diminta oleh beberapa teman mengantar mereka berbelanja sebagai persiapan menjelang idul fitri. Pokoknya, menurut mereka, kalau lebaran itu harus semua serba baru. Jadilah saya menemani mereka ke sana ke mari. Ke Pasar Baru berbelanja baju-celana, ke mall hunting levis, baju kaos, ikat pinggang, baju batik, dan beragam aksesoris fashion lainnya. Dari raut wajah kawan-kawan itu, tak ada lain selain bernada sumringah. Saya pun bersyukur kalau begitu.

Saya berterimakasih pula ke mereka karena telah memercayakan saya untuk mengantar mereka ke mall, Pasar Baru, maupun tempat-tempat perbelanjaan lainnya di Bandung. Tetapi, di sisi lain saya pun, bahkan diminta pendapat, baju-celana atau aksesoris seperti apa yang kira-kira cocok buat mereka beli. Oke, dengan antusias, saya pun bersedia memilihkan keinginan mereka. Alhamdulillah, apa yang saya pilihkan mereka amat setuju. Gue, gitu, lho!

Melihat kawan-kawan di sekeliling saya sudah banyak yang belanja buat lebaran, saya pun agak sedikit tegoda. Tergoda buat apa? Ya itu, beli baju, beli roti kaleng, beli sarung, beli baju koko, dan seabrek barang-barang menyambut lebaran. Ya, nantilah itu. Saya belum berpikir ke sana. Saya hanya mau konsentrasi menjalankan kewajiban puasa dulu. Sebab, ini wajib. Kalau belanja pakaian? Itu wajib kalau saya sama sekali tak punya baju lain untuk dikenakan. Ha

Lebaran tinggal dua minggu lagi saya kira. Sore kemarin, emak dan apak menelepon. “Kalau bisa, lebaran sama emak-apak di Bengkulu, ya Cep. Nanti, kan bisa lagi ke Bandung setelah lebaran. Apak belum bisa kasih uang untuk saat ini. Nantilah apak kirim buat mudik mah!” emak bilang begitu di akhir pembicaraan. Saya hanya bisa balas,”Insyaallah, Mak. Coba lihat nanti. Kalau ada kesempatan, ya Cep pulang, tapi mungkin akhir-akhir Ramadan, atau H-1.”

Ada lagi kakak ketiga saya di Belitung. Dia malah mengajak mudik bareng. “Ayolah pulang sama Aa aja. Kita pake bis aja dari Bandung. Naik pesawat bosan (bener kah bosan? Ha). Soalnya, Aa mau ke Tasik dulu sebelum ke Bengkulu.” Saya mau bilang apa lagi kalau kakak sudah ngajak begitu? Kakak ngajak, berarti semua ongkos dan jajan selama di perjalanan, dia yang tanggung. Asyik juga, tuh! Gimana, ya? Bingung ah.

Tapi, yang pastinya semoga saya dan keluarga besar dipertemukan dengan yang bernama lebaran tahun ini. Begitu juga dengan sahabat-sahabat WP.