Guru Saya OB

Taken from: www.ryanwiley.hubpages.com
Taken from: http://www.ryanwiley.hubpages.com

Guru saya sekarang adalah seorang office boy di kantor. Tolong jangan anggap remeh teman saya ini—yang meski tubuhnya kurus, tetapi dia jago bahasa Korea dan bahkan dia satu-satunya di kantor saya (sependek yang saya tahu) yang mengerti dan paham bahasa yang serial film dramanya digandrungi anak muda dan bikin termehek-mehek.

Apa yang dia ngerti dan paham tentang bahasa Korea, minimal dia bisa transfer ke saya. Daripada saya kursus di luar yang harganya enggak murah, lebih baik saya manfaatkan dia supaya mau ngajari apa yang dia bisa. Oke, kan? Tinggal nanti dia saya kasih rokok kesukaannya dan sesekali saya traktir nasgor atau apalah asal jangan bakso karena saya pun ragu dengan makanan itu, jangan-jangan itu terbuat dari celeng!

Iya, saya kasih rokok dan makanan aja cukup. Saya yakin kalo saya kasih dia uang seratus atau limaratus ribu sebagai tanda terimakasih, dia enggak akan nerima dan malah nyebut saya berlebihan. Kecuali saya akan paksa dia nerima duit dari saya, jika setelah saya mampu mengalahkan dia dalam menguasai bahasa Korea. Andai saja itu jadi kenyataan, sesungguhnya yang hebat bukan saya, tetapi dia!

Pertama kali saya tahu dia mampu berbahasa Korea berkat teman saya yang asisten editor. “Si Deny yang OB itu bisa bahasa Korea, lho. Kemarin saya minta dia menerjemahkan beberapa lembar naskah Korea dan hasilnya bagus! Ngalir!” Saya agak terbelalak juga pas dengar gitu dan saya tak langsung percaya. “Ah, yang bener?” sambung saya sambil mengerutu dalam hati,”Ah, masa OB bisa bahasa Korea! Penampilannya aja enggak meyakinkan kalo dia mahir bahasa itu!”

Itu mungkin pikiran saya yang spontan dan sangat picik. Dan itu seharusnya tidak timbul di otak saya. Sayangnya, saya belum mampu menghancurkan pikiran seperti itu, setidaknya ketika sang asisten editor itu menyebarkan fakta: sang OB did kantor bisa bahasa Korea kira-kira dua-tiga bulan lalu.

Saya belum puas. Saya tanya lagi ke teman saya, kok, si Deny OB yang tamatan SMK itu bisa bahasa Korea. “Selepas SMK si Deny sempat belajar bahasa Korea sebagai persiapan jadi TKI. Pas mau berangkat, eh emaknya sakit. Kebetulan di rumah itu tinggal adiknya yang perempuan, sedangkan kakak-kakaknya udah pada nikah. Ya udah, dia lebih milih ngurus emaknya daripada pergi ke Korea. Gitu Deny cerita ke saya mah!”

Sekarang, teranglah kenapa sang OB kantor saya bisa bahasa Korea. Jadi, hari ini, besok, dan sampai kapan pun saya ini tidak pantas mendahulukan berpikir jelek tentang seseorang. Atau, tolong enggak perlu menilai orang itu dari penampilan, status pekerjaan, strata sosial, atau hal-hal di luar diri seseorang tersebut. Yakinlah, kalau saya selalu menilai sesuatu/seseorang hanya dari penampilan, sungguh akan tertipulah saya. Dan itu sangat berbahaya!

Back to Deny. Awalnya dia enggak ngaku pas saya tanya benarkah dia bisa bahasa Korea. Oke saya paham dan saya tidak menuntut dia supaya ngaku hari itu juga. Dan saya pun enggak butuh pengakuan dia. Yang lebih saya butuhkan adalah dia bersedia mentransfer apa yang dia bisa dan paham tentang bahasa Korea ke saya.  Saya jadi yakin, bahwa si Deny perlu saya dekati supaya ngajarkan saya bahasa Korea karena teman di divisi komik pernah bilang,”Serial komik Korea yang akan kita terbitkan itu diterjemahkan Deny kemarin, lho!”

“Den, kapan kau bisa ajarkan bahasa Korea ke saya?” Akhirnya saya kirim pesan itu via BBM seminggu lalu.  “Bilangnya jangan ngajarin, dunk! Tapi ayok sama-sama belajar aja, Bro!” balas pria asal Garut yang mirip aktor Epy Kusnandar. Tak lama, dia lalu mengirimkan beberapa huruf vokal dan konsonan dalam bahasa Korea yang tentu membuat saya bingung, gimana cara bacanya. “Nah, ini dulu aja untuk tahap awal, Bro!” kata dia lagi.

Oke. Gam sa ham ni da, balas saya.

Iklan

Kunci Tak Hafal Terpaksa Murattal

Hal yang paling menegangkan di antara yang tegang adalah ketika saya diminta ngaji atau baca Quran di suatu acara yang dihadiri banyak orang. Bukan apa-apa, tapi saya benar-benar hampir lupa sebagian kunci-kunci lagu tilawah itu. Atau biasa disebut tausikh. Apalagi sudah sekitar 3 tahun saya tidak lagi mengulang kunci lagu dalam tilawah Kitab suci itu.

Dan kemarin, kantor saya mengadakan buka puasa bersama. Seperti biasa, sebelum menikmati acara intinya, kami para karyawan dan pimpinan perusahaan mesti mendengarkan terlebih dahulu siraman rohani dari seorang ustad–yang seolah-olah rohani kami ini bermasalah. Nah, supaya acara kami kian berkah–sebelum penceramah naik mimbar, tentu harus ada pembacaan kalam ilahi dulu. Dan kebetulan saya yang dipercaya untuk itu.

Saya tidak kuasa menolak saat pertama kali ketua panitia kegiatan tersebut menunjuk saya untuk baca Quran pada acara buka puasa bersama di kantor saya. “Kamu siap-siap besok ya tilawah Quran. Putri sebagai sari tilawahnya. Yang rapi, ya pakaiannya. Kalau bisa pake baju koko dan berpeci.” Begitu saran panitia kepada saya yang saya tak berani menolak kalau saya ini sebenarnya malu kalau harus tampil di hadapan audiens. Yang paling mengkhawatirkan dari sekadar malu adalah saya sudah lupa kunci lagu tilawah.

Hafal kunci lagu tilawah itu penting. Tapi yang lebih penting adalah kualitas suara dan memiliki nafas yang panjang saat mendendangkan ayat suci–saya kira jauh lebih penting. Nafas pendek dan tak hafal kunci lagu, itulah problem saya sejak dulu sampai sekarang. Kalau suara, bolehlah saya katakan suara saya ini agak mirip-mirip qori kenamaan kita, Muammar ZA atau Chumaidi. Hahahah. Ya, maunya bagitu. Tapi mana mungkin saya bisa menyaingi atau menyamai kualitas vokal suara mereka. La wong latihan saja jarang!

Daripada saya ragu baca Quran berirama, maka lebih baik saya bacanya dengan gaya murattal saja. Gaya biasa. Nyantai dan enggak perlu atur nafas secara teratur. Dan itu saya praktikkan kemarin. Apakah kalau saya baca Qurannya dengan gaya murattal nanti akan mengecewakan para hadirin? Nah, itu dia yang semalaman menggangu benak saya. Kalau mereka kecewa, kan saya yang malu. Apalagi acara itu dihadiri para CEO, komisaris, manajer, dan semua karyawan yang ada di Kota Bandung dari berbagai lini dan divisi. Akhirnya, walau agak sedikit pesimistis, bismillah saya putuskan ngajinya bergaya murattal saja. Terserah mau apa tanggapanya setelahnya.

Ya sudah, kemarin itu saya benar-benar telah menunaikan kewajiban saya baca Quran. Rasanya itu seperti bisul pecah kalau sesuatu yang saya lakukan itu kelar–walau tak tahu hasilnya seperti apa. Sejak saya selesai membacakan kalam Ilahi, belum ada saya dengar–utamanya dari teman-teman di kantor maupun salah satu pimpinan di perusahaan saya komplain atas penampilan saya beberapa menit itu.

Apakah mereka segan untuk mengkomplain saya atau bagaimana, ya? Sebab, saya sendiri merasa penampilan saya kemarin itu kurang greget–apalagi, seperti saya katakan sebelumnya, saya lantunkan sebagian ayat suci itu dengan bermurattal tidak dengan berirama. Atau misalnya, saya lebih suka ada yang mengingatkan,”Eh, loe tadi bacaannya kurang pas. Pelafalan hurufnya keliru, seharusnya bukan itu tapi begini. Dan lain kali kalau di acara besar seperti ini baca Qurannya pakai lagu, ya. Pakai murattal itu kurang cocok, kecuali buat ngaji untuk pribadi di rumah.”

Tapi ya sudahlah. Saya pun, eh ini rencana lama sebetulnya–ingin sekali belajar kembali atau istilahnya kursus lagi seni baca Quran berirama yang baik dan pas–entah di pesantren maupun kepada teman yang memang mahir. Supaya kalau suatu saat saya diminta lagi untuk baca Quran saya lebih siap membacanya dengan lagu berirama tidak dengan murattal. Semoga.