Ayahku Pahlawan Ikan

Ikan mas hasil tangkapan ayah sebelum dieksekusi.
Ikan Mas hasil tangkapan ayah sebelum dieksekusi.
Ayah sedang mengeksekusi ikan-ikan itu.
Ayah sedang mengeksekusi ikan-ikan itu.
Jadilah begini ikan-ikannya. Maafin, ya.
Jadilah begini ikan-ikannya. Maafin, ya.
"Nih, tinggal bersihkan, Hasan!" ungkap ayah suatu pagi.
“Nih, tinggal bersihkan, Hasan!” ungkap ayah suatu pagi.
Barulah ikan-ikan yang tadi dipotong dijemur ampe kering.
Barulah ikan-ikan yang tadi dipotong dijemur ampe kering.

Tiap saya pulang ke kampung halaman, Bengkulu, apak (ayah) selalu mengeringkan kolam untuk memudahkan memanen ikan. Ceritanya, ikan-ikan itu, selain buat suguhan saya yang pulang jauh dari merantau, juga sebagiannya dijual ke pasar terdekat. Kebetulan, kolam apak itu berisi beragam ikan, mulai mujair, betok, mas, gabus, lele, dan lainnya. Pokoknya banyaklah, termasuk-kolam itu juga mengloleksi lintah-lintah.

Nah, pas liburan 6 bulan lalu, apak khusus memanen ikan mas saja buat konsumsi di rumah. Entah berapa puluh ikan mas yang apak ambil dari kolam itu. Puluhan lah. Ukurannya sebesar tangan, atau adapula yang lebih besar dari itu. Maklum, kolam saya ini subur dengan rumput, belum lagi ditambah dengan yang lain-yang membuat ikan-ikan itu gemuk dan sehat-sehat. Saat pulang kampung kemarin itu, ikan hasil tangkapan itu, ada yang langsung digoreng, adapula, setelah dibersihkan-ikan-ikan itu dijemur sampai kering, yang sebelumnya dilumuri garam dan bumbu lainnya.

Kalau sudah kering, barulah ikan-ikan itu dapat disantap. Mau digoreng atau digulai, ya boleh saja. Yang jelas, kalau ikan dikeringkan macam itu, ternyata bisa dijadikan sebagai oleh-oleh buat sanak saudara di mana pun. Intinya, ikan yang dikeringkan itu awet untuk bisa dikonsumsi kapan pun. Pengalaman saya, itu bisa tahan hingga sebulan, bahkan lebih. Yang punya kulkas, malah lebih nyaman, karena bisa ditaruh di dalamnya. Makanya, saya rindu ikan-ikan itu, karena apak yang mengeksekusinya. Apak memang pahlawan ikan. (Teks/foto: Cecep Hasannudin)

Kolam Kering dan Uwa Ratma Sakit

Hari pertama di rumah emak-apak, 21 April 2013.

Angin kebun karet yang ada di samping rumah menyambut kedatangan kami. Andai tak ada lagi barisan pepohonan di samping kiri, kanan, dan depan rumah, uhh…mungkin terasa hareudang (panas). Tapi untungnya, meski matahari memanggang rumah dan segala macam yang ada di kampung kami, suasana segar lah yang terasa. Sesegar hembusan kulkas kala dibuka. Belum lagi, beberapa ekor ayam mungil milik emak-apak ikut pula bersorak-sorai. “Wah, Cecep dan Imam datang lagi, tuh dari kota. Tambah rame aja nih rumah majikanku. Moga aja tak bawa petaka!” gumam si jago merah sambil berlari kecil mendatangi kekasih gelapnya.

“Assalamualaikum..” ucap saya sambil mendongakkan kepala ke pintu belakang rumah. Saya lihat, apak sedang duduk di singgasananya. Entah sedang baca apa. Tapi saya perhatikan, koran lama yang dipegangnya. “Waalaikumsalamwarahmatullah. Na jam sabaraha ti  Bengkulu (pukul berapa dari Bengkulu) ?” sumringah, apak menjawab juga sekaligus bertanya. “Tadi jam 07.00, Pak! Kamana emak, (Ke mana emak) ?”

Duka, tadi teh ka cai  (enggak tahu, kalau tadi ke air).”

Saya lihat di tengah rumah hanya ada apak. Pas saya sisir ke kamar, eh, Ari sedang khusuk di depan leptopnya. Sudah saya duga, pasti ponakan saya itu ber-game ria. “Huy, main game terus kau Ri. Pasti dari bangun pagi tadi, ya? Kirain lagi pelajari soal UN buat besok, eh malah nge-game. Bagus..bagus…mantap..mantap..i like that, Ri!” ucap saya sambil mencuil pinggangnya. “Eh, emak kemana, ya?” pikir saya.

Tak lama, saya keluar rumah. Dan…emak, tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dapur. Di tangan kanannya, ember hitam. Saya mendekat, sambil mencium tangan kanan emak yang tampak keriput itu. ”Damang, Mak? Ti mana  tadi (sehat, Mak? Dari mana tadi) ?”

Eh, damang. Na sareng saha kadieu? Ah, eta we nyuci piring di sumur (Damang. Sama siapa ke sini? Ah, barusan nyuci piring di sumur)?”

“Biasa, Imam, Mak.”

Kolam Kering

Hujan tak kunjung tiba, kolam apak pun kering. Kolam sebelahnya menyisakan air sedikit. (Hasan' foto)
Ini foto lama yang sempat diabadikan. Sekarang, kolam yang penuh air itu tinggal semata kaki. (Hasan’ foto)

Saya diam sejenak. Barusan emak bilang nyuci piring di sumur. Sumur? Kok di sumur, bukan di tempat biasa, pancuran? Memangnya pancuran enggak lagi ngocor (mengalir) ? Kalo nyuci piring saja di sumur, itu agak jauh dari rumah. 50 meteran lah. O, mungkin emak hanya bercanda. Bercanda? Pernahkah emak bercanda di siang bolong begini? Lalu, kenapa harus ke sumur?

Uh, Cep. Pancuran udah lama enggak dipake. Lama enggak hujan. Tuh, lihat, kolam kering, kulah (kolam kecil penampung air) apalagi. Makanya, emak kalau nyuci piring, mandi, dan nyuci pakaian ke sumur.”

O, jadi itu masalahnya. “Lama enggak hujan, Mak?”

Wah, bulan-bulan siganamah (Wah, sepertinya sudah beberapa bulan).”

“Iya, berapa bulan, Mak?” lanjut saya ingin tahu pastinya.

“Aya dua bulan lebih mah (Ada dua bulan lebih lah) !”

“Belum ada apa-apa, Cep. Sangu ge can asak (Nasi saja belum masak),” tambah emak.

Saya masuk ke rumah lagi. Ganti baju dan istirahat. Tidurrrrrrr. Sementara, emak mungkin lanjut masak, apak tetap duduk di tempatnya, Ari masih nge- game, tampaknya tambah asyik karena dibimbing sang game master, Imam Kurniawan yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Adzan asar bersahutan dari tiap sudut mesjid yang ada di desa saya. Matahari tampak dicegat pekat awan. Mantap, tak lagi panas. Saya langsung melompat ke luar rumah. “Ah, mau cari ikan!” Sebelum saya tidur tadi siang, apak bilang kalau mau ikan ambil aja di kolam dekat sumur yang sekarang kering. Kering karena tak ada hujan. Sebagian ikan  meninggal di tempat. Sebagian lagi, dirampok burung cucak rowo, ayam apak, dan kadang biawak.

Ieu (ini) embernya dua. Yang satu buat induknya, yang satu buat anak-anaknya. Jangan dikubek (dikeruhkan airnya), ambil aja dari pinggirnya,” begitu pesan apak.

Sembilan puluh persen, kolam itu memang kering. Tapi sebagiannya, tepatnya di sebagian sudutnya masih ada sisa genangan air. Di sanalah penduduk ikan masih bisa bernapas. Terlambat saja diambil, mereka mati. “Bisi kaburu paeh, sok ambil (Supaya enggak cepat mati, ambil saja)!” tegas apak.

Saya pun langsung meluncur ke kolam yang ditunjuk apak. Saya bertengkar dengan lumpur. Lumpur Putri Hijau, bukan Lapindo Brantas! Ari ikut membantu mencari ikan. Imam, sibuk dengan hapenya. Sibuk motret sana motret sini. “Ikan gabusnya pegang Ri, biar Imam foto. Mau langsung di uplod di facebook!” Spontan, Ari pun langsung meraih ikan gabus dari ember. Yup, jadilah Ari berpose bersama gabus dan mujair. Cekrekk. “Udah Ri, aku unggah ke facebook,” ucap Imam. Saya dengar percakapan mereka, tapi saya tak mau minta difoto karena tubuh mungil saya penuh lumpur! Malu, dunk!

Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan's foto)
Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan’s foto)
Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan's foto)
Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan’s foto)

Berburu ikan pun usai. Cukup. Hari mulai gelap. Belum lagi nanti harus membersihkan ikan. “Ayo pulang, Mam. Tolong bawa ember yang ini. Biar yang ember hijau mang Cep yang bawa,” ajak saya.

Selepas magrib, nasi dan lauk sudah dihidangkan di ruang tengah. Emak, apak, Ari, Imam, dan saya lalu makan malam. Tentu, ditemani ikan-ikan yang gurih hasil tangkapan tadi sore. Ada yang disop ada pula digoreng. Wahhh, juga ditemani sambal terasi buatan emak. “Enak, kan kalau mang Cep yang goreng ikannya!” spontan saya bersuara. Yang lain hanya senyum saja. Makasih, ya atas senyumnya.

Sepiring ikan yang digoreng ludes! Kenyang. Alhamdulillah, ya Tuhan. Kalau sudah begitu, spontan gerbang bola mata sudah mulai mengatup-ngatup. Saya mencoba

. Ya Tuhan, jangan kau ngantukkan saya ini. Mungkinkah saya kekenyangan? Ah, tentu tidak! Wong makannya  aja sedikit. Cuma nambahnya entah berapa kali, enggak terhitung! TERLALU!!!

Uwa Ratma Sakit

“Cep, uwa Ratma saurna udur. Teu tiasa barangdahar dei. Tos alim cenah. Biasana mah masih sok ngaemam bubur jeung obat. Tapi kamari, pas apak nelepon Anin, uwa Ratma tos parah. Apak rek ngintun artos ka Tasik, tapi kumaha tuda, can aya artosna. Mun aya sajuta weh, apak rek ka Tasik. Jaba badan apak ge teu normal keneh ieu teh (Cep, uwa Ratma katanya sakit. Sudah enggak bisa makan. Sudah enggak mau lagi. Biasanya masih mau makan bubur dan obat. Tapi kemarin, saat apak menelepon Anin, uwa Ratma sudah parah. Apak mau kirim uang ke Tasik, tapi belum ada uangnya. Kalau ada satu juta, apak ingin ke Tasik. Apalagi, kondisi badan apak tak normal sekarang),” kantuk saya hilang tatkala apak bilang begitu.

Ua Ratma itu kakaknya  apak yang berada di Kupanunggal, Tasikmalaya. Umurnya sekarang, kata apak udah genap 83 tahun atau selisih 4 tahun sama apak. Anak uwa Ratma itu banyak, ada 11 orang dari sekitar 5 istrinya. Anin adalah anak perempuannya dari istri uwa yang terakhir. Rumahnya aja besar. Dulu, selagi kuliah saya sering ke rumahnya. Pas saya hitung ada 9 kamar. Rumahnya itu, letaknya berada di kaki gunung Galunggung, gunung yang pernah meletus antara 1982-1983. “Pas galunggung meletus, gelap Cep siga (seperti) malam,” ujar apak suatu hari.

“Pak, uwa Ratma teh sakit apa gitu?” sambung saya sambil melirik ke emak.

Rupa-rupa we etamah (Bermacam-macam). Sakit kepala, biri-biri, sakit perut, darah tinggi. Ah, pokonamah sagala rupa (pokoknya bermacam-macam). Da ceuk Anin kitu. Karunya. Kudunamah apak teh kaditu (Kata Anin begitu. Kasihan. Seharusnya apak ke sana),” tutur apak lagi.

Da biasana mah (Biasanya juga) dari dulu uwa Ratma mah tara gering (uwa Ratma enggak pernah sakit). Jaba dei tiap hari uwa ratma mah puasa terus (Apalagi, uwa Ratma puasa tiap hari). Tapi meureun da tos saatnya kudu kitu (Tapi mungkin sudah saatnya harus begitu),” kenang emak.

Ya. Saya pernah dapat cerita baik dari emak maupun apak kalau uwa Ratma itu enggak pernah berhenti puasa. Dan itu dilakukan sejak ia bujang sampai menikah, hingga kini udah punya belasan cucu. Pokoknya tiap hari shaum. Kata apak, uwa Ratma melakukan olah spiritual itu sejak berguru ke seorang ustad, dulu, pas dagang di Jakarta. “Apak juga dulu pernah diajaknya, tapi apak menolak. Karena sepengetahuan apak, tak ada ajaran untuk puasa sepanjang masa,” terang apak.

Bahkan, kata emak, sebelum memutuskan untuk transmigrasi ke Bengkulu, emak pernah menyaksikan sedikit juga tambahan cerita dari saudara emak tentang kehebatan ilmu yang dimiliki uwa Ratma. “Uwa Ratma mah bisa jalan di atas air. Emak juga enggak tahu kenapa uwa Ratma begitu. Pantas saja kalau puasanya tiap hari, otomatis kan dekat sama Tuhan. Apapun yang diinginkan bahkan di luar logika bakal terjadi. Uwa Ratma..uwa Ratma,” kata emak, lirih, apalagi saat menyebut nama uwa Ratma.

“Pak, kalau ada orang sakit, terus sudah enggak bisa ngapa-ngapain, apalagi enggak bisa makan, naon artina (apa artinya), Pak?” tanya saya ke apak.

“Makanya, pas apak dengar Anin cerita kalau uwa Ratma sudah enggak mau lagi makan, apak sudah prediksi, uwa Ratma udah enggak ada harapan lagi. Sudah parah kalau si sakit sudah enggak mau lagi makan, Cep!” lontar apak, yang sebenarnya bikin saya deg-degan, “maunya apak juga ke Tasik. Tapi, apak juga badannya gak terlalu sehat, Cep.”

“Doakan aja, Cep. Mudah-mudahan uwa Ratma sehat. Juga doakan apak dipaparin (diberi) sehat dan rezeki.”

Uwa Ratma…uwa Ratma..sabar ya. Kami keluarga di Bengkulu hanya bisa memohon supaya Tuhan berkenan member kebugaran dan umur panjang serta bisa ke sawah lagi, panen padi lagi. “Padahal, di sawah pare geus karoneng tinggal ngalaan (padi sudah menguning tinggal dipanen),” ucap apak, seperti dituturkan Anin lewat hape.

Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan's foto)
Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan’s foto)

Catatan Pagi dan Segalanya

Apak sudah tampak sumringah hari ini. Ia bisa berjalan, meski belum senormal orang kebanyakan. Masih sedikit tertatih. Menahan rasa ngilu, mungkin racun duri pohon salak masih enggan pergi. Tapi lumayan lah dibanding kondisinya dua hari lalu. Saya pun begitu, merasa bersyukur dan tambah bahagia. Apak pernah bilang, kalau apak sudah bisa ngerokok lagi, itu artinya apak sehat. Yup, persahabatan apak dengan kretek tampaknya belum bisa dipisahkan hingga kini.

Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan's foto)
Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan’s foto)

Masih ada lagi selain ngerokok, kalau apak itu dikatakan sehat. Lagi-lagi, ini apak yang cerita ke saya. Katanya, kalau apak posisi salatnya berdiri, itu pertanda apak benar-benar sehat. Dan, selama dua hari-semenjak dari dokter itu apak sudah mulai salat dengan cara berdiri. Meski, cara berdirinya belum seperti orang normal. Masih ditekuk-tekuk, ditahan-tahan. Yah, minimal, kalau sudah begitu, itu jalan mulus buat apak ke depan semakin segar-bugar.

“Cep, apak mau pulang hari ini. Doakan saja tambah sehat,” tiba-tiba apak bilang begitu.

“Bener, Pak mau pulang hari ini? Kan belum sehat nian. Tunggulah satu atau dua hari lagi. Biar fit nian,” kata saya.

“Enggak, Cep ah. Apak bosan di kota. Ini aja tolong, resep obat pegang. Kalau ada uang lebih, tolong belikan obat lagi ke apotek. Nanti uangnya apak ganti. Itu pun, kalau apak kerasa lagi sakitnya. Kalau enggak, ya gak usah. Doakan sajalah sehat terus,” begitu kata apak selanjutnya.

Ya sudahlah kalau begitu. Saya hanya nurut saja apa kata apak. Apak kan biasa kerja kalau di rumah. Sekalinya enggak kerja, tangannya serasa geregetan mau pegang sabit, cangkul, gergaji, dan alat-alat tani lainnya. Saya tahu, kalau umur apak tak lagi muda, tapi semangatnya menggauli pekarangan, sawah, dan ladang belum dapat dicegah. “Kalau nganggur seperti ini, bosan. Enggak bisa bergerak,” lanjut apak lagi.

“Apak karunya (kasihan) ke emak. Di rumah enggak ada yang bantu nyari kayu bakar. Kan biasanya juga apak yang nyari. Kalau emak, biasanya juga kerjanya yang ringan, paling-paling ngala (memetik/mengambil) coklat jeung (dan) ngala jambe. Ada Ari, Ari-nya kalau pulang sekolah malah langsung main. Belum terlalu dewasa untuk diandalkan,” celoteh apak, saat saya baca koran tentang ibu RT di Bengkulu yang mencabuli brondong sampai 8 orang.

“Di mana Yan? Nanti tolong bapak jemput ya di Prapto. Hari ini pulang. Biasa, ya minta di depan,” ucap apak lagi, sambil hape merahnya ditempelkan ke mulut telinga kiri. O, apak barusan nelepon Yayan, panggilannya Doyok-supir travel yang biasa menjadi langganan apak kalau mau ke Bengkulu atau pulang ke Putri Hijau. “Kalau Yayan mah bisa dianjuk heula ongkosna (diutangi dulu ongkosnya)!” celetuk apak.

“Okelah, Pak! Kalau Cep pulang nanti, Cep yang akan nyari kayu bakar. Pak, Cep mau coba ternak belut, siganamah (sepertinya) praktis! Kemarin liat buku cara beternak belut di toko Gramedia soalna.”

“Cobalah. Apak dulu di Jawa pernah coba ternak belut. Walah…lumayan atuh, Cep! Asal aya (ada) tempat, meuli (beli) semen wungkul (saja) Cecep ayeunamah (sekarang). Pasir dan batu mah aya (ada) di imah (rumah),” ungkap apak, nampaknya semangat kalau saya benar-benar mau jadi pawang belut, yang selanjutnya, barangkali jadi pawang uang. “Coba aja, Cep!”

Oke pak, hati-hati aja di jalan hari ini. Ntar Cep nyusul. Maafin, kalau ada kata/laku yang tak sengaja membuat hati tak nyaman. Salam buat emak dan Ari.

“Ke Ari, kurangi main game-nya gitu. Seminggu lagi soalnya mau UN,” pesan saya ke apak.

Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran. (Hasan's foto)
Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran Bengkulu Ekpress. (Hasan’s foto)

Semacam Curhat Buat Tuhan

“Ya Tuhan, berilah kekuatan pada apak. Berilah ia kesehatan. Kembalikan kesehatannya ke semula supaya apak bisa beraktivitas lagi. Biar bisa turun ke sawah lagi. Biar bisa menaman pisang lagi. Biar bisa mencari kayu bakar lagi. Juga biar bisa berkumpul bersama emak di rumah. Tuhan, jangan biarkan apak berlama-lama sakit seperti ini. Bukan aku menolak atau tak menerima kenyataan ini. Tapi, kalau apak sehat, tentu menyembah-Mu juga akan lebih khusuk. Kekhusukan itu dibutuhkan, ya Tuhan. Tolong hamba-Mu yang lunglai ini.”

“Ya Robbi, betapa aku mencintai-Mu sepengetahuanku. Engaku tahu, sudah dua hari ini  apak ada bersamaku, di Bengkulu. Tapi, kebersamaan apak tidaklah segembira hatinya di hari-hari lain. Kali ini, apak benar-benar fisiknya dilanda sakit, makanya harus berobat. Hari pertama di Bengkulu, apak harus ke dokter Agus, memeriksa lagi keluhan sakit pada kakinya. Kakinya bengkak. Kata apak, itu karena tertusuk duri salak. Betapa sakitnya itu ya, Tuhan. Aku hanya ingin, ringankan sakitnya, Tuhan. Sabarkanlah apak menerima cobaan ini. Sabarkanlah.”

“Ya Tuhan maha penguasa jagat. Apak bukan saja sakit di kakinya. Sebelum duri salak bersarang di daging rentanya, apak memang sudah lama bergelut dengan sakit kepala. Aku tahu persis, saat aku SD, betapa apak seringkali terserang sakit kepala, yang menurutku-sakitnya benar-benar akut. Pokoknya parah. Makanya, suatu kali apa minta diantar ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Aku lihat saat itu, sekeliling kepala apak penuh dipasang kabel kecil. Bervariasi warnanya. Entah mau mendeteksi apa.  Seminggu setelahnya, apak baru cerita kalau apak menderita gangguan pada sarafnya.”

“Ya Tuhan yang maha kasih. Aku bertanya kenapa apak bisa terkena gangguan saraf. Berceritalah apak mengenai masa mudanya dulu, masa dimana Indonesia masih muda. Kata apak, apak pernah mengalami kecelakaan saat bis yang ia tumpangi terjun ke sungai. Untungnya, apak tak ikut terbawa bis yang tercebur ke dalamnya. Itu perasaan apak. Tapi, apak tahu-tahu sudah berada di rumah sakit dengan luka-luka yang cukup serius. Kaki apak patah, belum lagi tulang rusuk juga mengalami hal sama.”

“Ya Tuhan, dari sanakah sakit saraf apak bermula? Apak pun membenarkan, bahwa kepala apak terbentur benda keras saat kecelakaan bis yang ditumpanginya. Apak masih sadar waktu itu apa penyebab bis terjerembab ke dalam sungai. Katanya, bis itu remnya blong! Apalagi, jalan turun yang dilalui bis sangat curam. Kanan-kirinya bebatuan serta jurang. Banyak korban meninggal saat itu. Tapi apak, masih diselamatkan kasih Tuhan, meski harus menanggung resikonya hingga hari ini.”

“Tuhan, apak bilang dokter dulu memutuskan ingin mengamputasi kakinya. Mendengar itu, kata apak, ia kaget dan menolak saran dokter. Apak masih sayang dengan kakinya. Akhirnya, dokter pun tidak bisa memaksa. Apak lalu dibawa ke kampung,lebih baik diobati secara tradisional. Apak lalu ditemukan orang pintar yang bisa menyambung tulang-tulang patah yang ada di dalam tubuhnya. Proses penyembuhannya berbulan-bulan. Sampai akhirnya, apak pun normal seperti biasa, berkegiatan seperti semula. Alhamdulillah, ya Tuhan.”

“Ya Tuhan, tiap bulan sekali apak harus berobat ke Bengkulu tatkala kepalanya mengalami sakit. Dan itu sudah berlangsung lama. Bayangkan, saat saya menginjak SD, apak sudah merasakan begitu. Terkadang, di saat sepertiga malam, tiba-tiba kepala apak diserang sakit. Aku kerap terbangun oleh erangannya. Dan emak, saat mataku melek, sudah berada di samping apak, mengurut-urut kepala apak.”

“Ya Tuhan, saat ini, di tahun 2013, tahun dimana SBY berkuasa, di usia apak yang masuk 78, apak masih ditemani rasa sakit di kepalanya. Sampai kapankah, ya Tuhan? Berilah kami sekeluarga selalu…selalu…selalu…diberikan ketabahan, kesabaran menghadapi, menerima semua-yang menurutku ini salah satu nikmat-Mu juga. Meski begitu, aku berharap, ya, Tuhan, engkau meringankan beban kami. Tuhan, tak ada lagi yang patut dijadikan tempat bersimpuh selain-Mu. Aku siap menerima apa adanya. Karena aku tahu, aku tidak memiliki kekuatan, kekuasaan apa-apa untuk melawan-Mu. Jadikan hamba-Mu ini menjadi manusia yang selalu membutuhkan-Mu.”

Apak, saat masih sehat terlihat sedang bermain dengan salah satu cucunya, Opik Awan. (Cecep Hasannudin)
Apak, saat masih sehat terlihat sedang bermain dengan salah satu cucunya, Opik Awan. (Hasan’s foto)