Part II: Liburan Singkat Nonpejabat

www.solopos.com
Beginilah gambaran di dekat antrian terminal 1B ( foto diambil dari http://www.solopos.com)

Terminal 1B, Bandara Soetta, 26 Des 2013

02.00

“Persiapan turun…persiapan turun,” sayup-sayup klakson kondektur bis merasuk ke liang gendang telinga saya. Cepat-cepat saya bangun dan langsung mengguncang-guncangkan badan keponakan saya yang lagi lelap, “Bangun, udah nyampe, tuh!”

“Ya, terminal 1B, siapa yang turun di sini? Ya sampai terminal 1B, siapa yang mau turun di sini?” ucap kondektur bis. O, saya dan keponakan langsung meninggalkan kursi duduk bis dan maju ke arah depan menuju pintu. Ciat. Kami melompat dari bis.

Terminal 1B, yang saya tahu adalah pesawat-pesawat khusus penerbangan dari Soetta menuju pulau Sumatra. Makanya kami turun di terminal itu. Pas kami turun dari bis, keriuhan langsung terasa. Pokoknya bukan seperti malam.

Saya tidak langsung cek ini, soalnya waktunya masih lama. Pesawat Lion Air yang akan saya tumpangi berangkat pukul 08.00 ke Bengkulu. Lebih baik, kata keponakan saya, “Yuk kita cari tempat nyaman buat istirahat dan tidur, ini masih dini hari!”

Kebetulan saya bawa koran bekas yang saya selipkan di tas. Koran itu saya gelar dan dibagi dua buat keponakan saya, di samping tangga, di depan toko roti, tak jauh dari toilet, dan sekitar 30 meter ke rumah ATM. Orang-orang berlalu-lalang di depan kami. Saya mulai tidur berbantal tas.

Nyenyak sih tidak tidur di sana, tetapi minimal tubuh bisa direbahkan dan darah lancar berselancar. Mau nyenyak gimana, wong, selain lantainya dingin walau sudah dilapisi koran, tetap saja lebih nyaman di kosan. Tapi, mau gimana lagi, ini perjuangan Bengkulu, demi tidak telat.

Saya mulai siuman itu tepat pukul 04.30. Terminal 1B  kian ramai saja dijejali manusia. Bis dan taksi berseliweran di depan airport. Ada yang menaikkan penumpang, tetapi lebih banyak menurunkan penumpang. Hari mulai beranjak siang. “Mang, ayo kita cuci muka, cari musala,” suara keponakan saya.

Tanpa membalas ajakan keponakan, saya langsung beranjak dan melipat koran yang tadi digelar lalu saya masukkan lagi ke tas. “Buset, pas aku tidur, koran yang aku tidurin malah ditarik orang yang di sebelah aku, Mang!” lapor keponakan saya bernama Sahrul sambil menuju musala di terminal 1 A.

Kami sampai musala. Tubuh saya dihiasi dingin tak berkesudahan begitu memasuki pintu musala. Sandal dan sepatu yang berjejer di mulut pintu musala diam tak menegur kami. Lantaran tak menyapa, salah satu dari mereka saya singkirkan ke sebelah kiri dan menggantinya dengan sepatu saya.

Saya lebih dulu masuk musala, bukan untuk salat, tetapi mencari posisi yang pas buat merebahkan 50 kilogram tubuh saya di atas karpet. Tubuh-tubuh yang lain pun bergelimpangan bak korban penembakan di Afganistan pada 2002 karena serangan negeri Abang Sam.

Padahal, beberapa tulisan di dinding dalam musala terdapat peringatan dengan huruf balok, “DILARANG  TIDUR DI MUSALA!” Dan, tepat di bawah tulisan itu seorang berseragam loreng dan dua pemuda sedang khusuk dibantai mimpi, bahkan perang ngorok.

Baru pada 05.30, saya memutuskan salat subuh beriringan dengan gemuruh mesin pesawat. Keberangkatan pesawat Lion Air ke Bengkulu sekira 2 jam setengah lagi. Ada baiknya saya kembali menjemut mimpi, di sebuah ruang yang sebetulnya “terlarang” buat tidur itu. Eh, keponakan ikut-ikutan.

Saya mulai cuci muka plus numpang buang kotoran itu pukul 06.30. Saat keluar jamban, adik saya yang di Bengkulu mengirim pesan, “Udah cek in lum, Bro? Ini libur, pasti rame ngantri. Cepat-cepatlah!” Saya tak membalas sms itu, tetapi langkah saya dipercepat menuju terminal 1B lagi.

Benar saja prediksi adik saya. Antrian di pintu keberangkatan di terminal 1B sungguh membuat sesak hati saya. Jangan-jangan nanti saya telat. Bisa-bisa antrian yang mengular ini membuat saya terlambat dan tiket pesawat hangus. Begitu hantu ketakutan saya menakuti hati.

Tak terasa saya sudah tinggal cek in di loket Lion  Air karena antrian yang bejibun itu menyusut sangat cepat. Orang-orang dengan berbeda wajah saya temui di lobi utama terminal 1B. Riuh-rendah tampak seperti di mal-mal saat akhir minggu. Aroma tiap calon penumpang pun tak sama di sana.

Sebelum naik ke lantai dua untuk menunggu keberangkatan, saya terlebih dulu membayar peron Rp. 40.000/penumpang sembari menyerahkan tiket pesawat. Sama, ini pun antri, tetapi tak terlalu panjang. Beres. Kami berdua langsung menaiki tangga menuju lantai dua.

Sebelum berbelok ke kiri ke ruang tunggu pesawat Lion, di sana ada pemeriksaan lagi. Dari ujung kaki hingga kepala sempat “digerayangi” petugas, tetapi tidak pakai nafsu. Maaf, saya enggak bawa narkoba, sajam, senjata tak tajam, bukan pula teroris, pak. Saya orang jujur dan baik, tetapi minim prestasi. Pikir saya kala itu.

Sampailah kami di ruang tunggu. Tinggal berangkat lagi. Paling 1 jam lagi. Pekerjaan paling membosankan itu menunggu, itu entah kata siapa, tetapi saya amat tidak mengimaninya, apalagi sampai menjadikannya ujaran hidup. Tidak sama sekali.

Sepagi itu, minum air hangat belum, nge-teh tak sempat, ngopi belum mau, lalu mau apa? Di dalam atas ada air putih (sebaiknya jangan nyebut air putih, tetapi air mineral), kacang garuda, dan oreo. Saya tidak suka kacang apalagi oreo kalau pagi-pagi, apalagi belum membuang kotoran yang kemarin/semalam.

Tetapi di depan kursi besi yang saya duduki ada televisi. Entah berapa inci. Yang pasti, isinya berita terkini dan lagi-lagi tentang korupsi. Dan saya amat benci dengan perilaku korupsi-yang tak pernah mati sejak saya bayi hingga lulus UIN Sunan Gunung Djati.

“Kepada para penumpang pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Bengkulu dengan nomor penerangan JT bla..bla untuk segera memasuki pesawat melalui pintu di sebelah kanan. Sekali lagi, kepada para penumpang Lion Air jurusan Jakarta-Bengkulu dengan nomor penerbangan JT bla..bla untuk segera memasuki pesawat melalui pintu sebelah kanan. Terimakasih.” (bersambung...)

Suasana di depan terminal 1B Bandara Soetta, Cengkareng, Banten (foto diambil dari www.kristiantoss.wordpress.com
Suasana di depan terminal 1B Bandara Soetta, Cengkareng, Banten (foto diambil dari http://www.kristiantoss.wordpress.com
Iklan

Angelina Jolie dan Penjual Kantong Plastik

Tiga bocah datang dengan betisnya yang kecipratan lumpur. Pakainnya lusuh. Basah kuyup pula. Dua cewek satu cowok. Yang cowok badannya kurus. Sedangkan yang cewek agak gemukan dikit, tapi masih kelihatan kurus. Cewek yang terakhir, ini agak beda. Tubuhnya lebih tinggi dibanding dua anak itu dan tampak lebih dewasa. Cantik. Wajahnya mirip Angelina Jolie. Saya waktu itu lagi membilas pakaian di sebuah masjid di kota Bengkulu. Saya terus membilas baju, sementara ketiga anak yang bercelana pendek itu menunggu di samping pintu WC. Antri.

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Bang, WC-nya penuh, ya?”

Saya: “Tunggu aja dulu!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Buang air besar seribu kan, Bang?”

Saya: “Biasanya, kalo buang air besar pasti buang air kecil juga, kan?”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Hmmm…haha. Berarti seribu lima ratus dong, Bang? Tapi aku mau mandi aja, kok!”

Saya: “Mandi juga, biasanya gak cuma mandi. Terkadang juga sekalian  buang air besar, juga tentu buang air kecil, Dek!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Alah Abang ni!”

Si cewek yang wajahnya mirip Angelina Jolie masuk duluan ke WC ketika anak lelaki-yang juga sepantaran mereka keluar WC. Lelaki itu memegang perutnya. Mungkin sakit. Atau, saat asyik mengebom lubang WC, ia mencret. Huh, sungguh enggak enak yang namanya mencret!

Di tempat wudhu, atau di luar WC kini tinggal dua anak, yang tentu kawan sepermainan anak yang mirip Angelina Jolie. Kedua anak itu, saya lihat memutar-mutar keran hingga melelehkan air. Dipermainkannya air bening itu. Saya memerhatikannya saja sambil terus membilas baju, celana, sempak, baju dalaman, plus kaos kaki.

“Dari mana, Dek?” saya arahkan suara itu ke anak lelakinya, yang masih kelihatan main keran.

“Dari pasar, Bang!”

“Di mana rumah, Dek?”

“Rawa Makmur, Bang!”

“Kok, jauh-jauh main ke sini (pasar)? Mau ngapain?”

“Jualan asoy plastik, Bang!” celetukan itu bukan berasal dari mulut si bocah lelaki, tapi si cewek, yang jelas-jelas di samping saya. Sambil ketawa-ketiwi saja dia. Gigi bagian depannya kelihatan ompong. Barangkali karena kebanyakan makan permen atau diserbu ulat gigi.

“Asoy??? Jadi tadi adek di pasar jualan asoy?”

“Iya, Bang!” hampir serempak mereka berdua menjawab.

“Kelas berapa, Dek?”

“Kelas empat, Bang!”

“Di SD mana?”

“SD 85, Bang?”

“Di mana itu, Dek?”

“Di Rawa Makmur!”

“Libur sekolah, ya?” saya masih tanya begitu, meski tahu hari ini (9/5) emang tanggal merah karena kenaikan Isa Al-Masih.

“Iya, Bang!” masih kata yang cewek. Yang cowok sibuk dengan kerannya. Cewek yang mirip Angelina Jolie masih di dalam WC. Katanya tadi mau mandi.

“Jadi, adek ni jualan asoy-nya pas liburan aja, kan? Berarti hari Minggu juga?”

“Iya, Bang, sambil ngawani (nemani) ibu jualan sayur.”

“O, sambil ngawani ibu, to, Dek!”

“Iya, Bang!”

“Duit jualan asoy buat apa, Dek?” menunduk-nunduk saya sambil membilas baju yang enggak tuntas-tuntas.

“Beli buku, Bang!” kali ini keduanya menjawab serempak lagi.

“La, kalo yang adek ini, memang kelas berapa?” saya membalik badan menghadap ke arah bocah perempuannya.

“Dio (dia) kelas satu, Bang!” malah bocah lelakinya yang cepat-cepat menjawab.

“Buku LKS juga dibeli dari duit jualan asoy, ya?”

“Iya, Bang!”

“Katanya harga LKS mahal, ya?”

“Sembilan ribu Bang satunya!”

“Bang, kotor bajunya kalo diletakkan di lantai ini. Lantai ini pernah kena muntah dulu,” ujar si anak cowok ke saya. “Ini udah bersih, Dek! Barusan lantai ini dipel, jadi enggak papa.”

“O.”

“O, jadi ibu kalian jualan sayur di pasar, ya?”

“Iya, Bang!”

“Kalo bapak?”

“Ngojek, Bang!”

“Ngojek??? Tiap hari, ya?”

“Iya, ngojek. Iya tiap hari, Bang!

“Di gang dekat rumah ngojeknya, Dek?”

“Bukan, Bang! Di Tanah Patah!” lagi-lagi serempak dua bocah ini menjawab. Saya curiga.

“Kalian adik-kakak, ya?”

“Iya, Bang!”

“Berapa beradik emang?”

“Sembilan, Bang!”

“Ah, ngicu (bohong) kau, Dek?” saya beranikan diri kali ini menepuk-nepuk pundak si anak yang cowok berambut pendek itu.

“Enggak percaya Abang ini!”

“Masa, sih sembilan, Dek?”

“Iya, Bang!”

“Ini adek saya anak ke tujuh, Bang!” sambil menunjuk ke anak cewek yang kini berada di sampingnya.

“Anak pertama udah nikah, ya?”

“Udah, Bang! Udah punya anak.”

“Heh, kamu enggak ke WC?” lontar si cewek yang mirip Angelina Jolie begitu keluar WC kepada dua temannya.

“Enggak ah!” kata mereka yang ketahuan kalau ternyata adik-kakak itu.

“Jadi dua ribu, ya Bang! Tadi aku cuma mandi, kok!” kata si cewek yang mirip Angelina Jolie senyum-senyum.

“Nih, uangnya, Bang!”

“Tarok aja di kotak di atas meja itu, Dek!”

Bilasan pakaian saya tinggal dua lagi ketika tiga bocah itu tak lagi tampak punggungnya.