Tuhan, Jangan Luluskan Aku Jadi PNS

www.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com

 “Tapi salah banget nggak sih kalo aku berharap supaya nggak lulus tes (CPNS) aja? Aku nggak mau jd PNS. beneran!”

Awalnya, saya pikir, orang ini aneh, kok dia berdoa supaya enggak lulus jadi PNS. Padahal, teman saya ini beberapa minggu lalu ikutan tes CPNS di kotanya, Timur Indonesia. Saya belum tahu pastinya kenapa, sarjana pendidikan bahasa Inggris itu sampai mengatakan seperti itu. Saya yakin, dia mengatakan yang demikian, itu bukan secara tiba-tiba, dan mesti ada musababnya. Nah, soal musababnya ini, yang masih saya pertanyakan. Kenapa pula saya rela membahas tentang ucapan kawan saya ini? Entahlah. Saya merasa, ini inspirasi saya buat menulis di sore ini, di tengah kebuntuan yang kian menggejala.

Semua orang tahu, bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling dicari di Indonesia. Karena alasan inilah, saya mempertanyakan ke teman, yang juga blogger itu sampai tega melontarkan, bahwa dia berdoa-walau pengumumuan hasil tes CPNS belum diumumkan, mudah-mudahan dirinya tidak lulus CPNS. Ini gila, kata saya seketika, walau saya tidak berani mengatakan langsung kepadanya. Saya hanya bilang, setiap pilihan itu tidak ada yang salah. Yang salah itu, ucap saya-mereka yang tak berani memilih di antara dua pilihan.

Waduh. Saya pun, sebenarnya tidak serta merta memarahi kawan akrab saya di dunia maya itu, tersebab telah mengatakan sesuatu di luar jalur mainstream. Apalagi, selama ini-jalur mainstream adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan, bahkan paling dianggap wilayah yang paling benar, walau-secara pribadi saya tidak selalu mengagungkan mainstream. Walau demikian, saya amat salut sesalut-salutya kepada orang yang sanggup berpikir dan bertindak di luar jalur kebiasaan, walau harus juga menerima segala konsekuensinya.

Saya belum tahu, apa konsekuensi yang akan didapatkan/diterima oleh kawan saya yang satu ini-yang berani berharap, “Mudah-mudahan saya tidak lulus tes CPNS!” Utamanya, barangkali dari orang-orang terdekat: kedua orangtua, kakak, adik, ponakan, tetangga, teman kuliah yang juga sama-sama ikut tes CPNS, pacar, dan semua lingkungan yang pernah ia sambangi. Pastilah, kalau orang tahu dia ini berharap tidak lulus tes CPNS, pendapat pun akan beragam. Tapi, tampaknya perlu diingat, bahwa ada salah satu instansi pemerintah yang mengultimatum, bahwa bila orang bersangkutan itu lulus tes dan mengundurkan diri, maka terkena denda yang tak sedikit, lho. Sampai puluhan juta kalau tak salah.

Semuanya memang, siapapun orangnya harus memikirkan  matang-matang sebelum bertindak. Jangan sampai, kata orang-kalau salah bertindak ataupun berbicara, maka bisa fatal akibatnya. Mungkin saja, kawan saya ini-dulu, daftar CPNS karena ikut-ikutan teman, gengsi, atau tak sadar, bahwa ia ikut daftar tes CPNS. Atau, barangkali-ini sering, karena dipaksa orangtuanya, yang kebetulan-mereka juga PNS. Kalau anak enggak PNS, enggak keren. Itu mungkin pikir kebanyakan orangtua Indonesia. Saya berharap, kawan saya ini daftar CPNS kemarin bukan karena alasan yang saya sebutkan di atas.

Atau, kenapa kawan saya ini memutuskan bilang, “Tuhan, tolong jangan luluskan saya jadi CPNS!”, karena memang dia telah punya pekerjaan yang lebih nyaman daripada menjadi PNS. Dan bahkan, penghasilannya pun lebih lumayan dari seorang abdi negara itu. Mudah-mudahan saja begitu. Dan, bagi saya-bekerja di mana pun, itu sama saja-yang penting itu nyaman dan sesuai passion, kata orang-orang. Uang yang dicari? Oh, sebanting tulang apapun ia dicari, ya, sama saja, kok. Kalau tak pandai mengelolanya, matilah kita. Tetapi, walau gaji kecil, asal kebutuhan terpenuhi, nyantailah kita. Begitu, bukan? Semoga tak tepat.

Lalu, siapa kawan saya itu? Ada, dia blogger di sini, seorang cewek yang juga hobi berfoto dan jalan-jalan. Hahaha. Tengs inspirasinya buat hari ini, administrator!

Iklan

9 Kali Tes CPNS Baru Lulus. Mau?

Saya buka tulisan kali ini tentang pengalaman kakak laki-laki pertama saya yang mengadu nasib menjadi PNS, abdi negara Indonesia itu. Tak mudah bagi Aa Usup, panggilan kakak saya itu bisa melenggang jadi PNS. Saat tahu betul, berapa kali yang kini jadi penghulu di sebuh KUA di Kabupaten Bengkulu Utara, itu mengikuti tes CPNS. Ya, ia sudah tes 9 kali. Pada tes terakhir itulah, kakak yang lulusan IAIN Raden Fatah, Palembang, itu dinyatakan lulus!

Saya buka akun facebook. Ada pesan dari seorang kawan-yang kebetulan ia seorang PNS di sebuah rumahsakit di Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu. Begini pesannya,”A…ada info untuk mu, td di koran RB (koran yang terbit di Bengkulu) ada formasi CPNS salah satunya membutuhkan Lulusan Sarjana Sastra, nah Kia bru ingat klo a kan ada sastra nya jga, tpi Kia blm tau pasti apakah sastra arab atau bkn, hayyuuu a cri tau lbh dalam n bruan ikutan murni loh a skrg pemprov bkl pake sistem online n CAT gitu, okeeee.”

Ada kegembiraan dalam benak usai membaca pesan dari kawan yang lulus CPNS pada 2007 itu. Kenapa gembira? Pertama, karena formasi untuk lulusan Sastra Arab, seperti pesannya itu, ternyata ada. Sebab, biasanya, yang butuh sastra Arab itu, kalau tidak Kemenag, ya Kemenlu. Entah lembaga lain, saya belum coba searching. Kedua, ada kemungkinan saya coba mendaftar, karena di Pemprov Bengkulu membuka lowongan CPNS, dan salah satuya butuh formasi Sastra Arab. Ketiga, saya diselimuti trauma tiap kali dengar ada lowongan CPNS

Apa yang saya traumakan? Mencoba saja belum, kok sudah merasa trauma, sih? Begini. Kalau melihat pengalaman kakak pertama saya itu, saya jadi ingat betapa tidak mudah menjadi abdi negara itu. Saya mau bilang, bahwa katanya kalau seseorang dekat pejabat yang memiliki kewenangan memutuskan sesuatu, maka orang yang dekat pejabat itu, bila ingin berurusan dengannya akan  dipermudah. Itu baru katanya. Tapi, apa yang dialami kakak saya tidak demikian. Kok?

Kakak saya bukan tidak dekat dengan pejabat. Saya tahu, ia dekat, bahkan-dalam organisasi kemasyarakatan yang pernah kakak saya pimpin, kebetulan, si pejabat yang memimpin sebuah lembaga setingkat Gubernur itu menjadi bawahan kakak. Ya, lebih jelasnya-kakak saya jadi ketua, dia jadi ketua bidang di organisasi tersebut. Mereka berdua sangat dekat. Tapi, seperti yang pernah Aa katakan, kedekatakan ternyata tidak selalu membawa berkah kalau kita, katanya tidak memiliki uang.

Uang. Apa maksudnya? Untuk meminta tolong kepada seseorang, tak tiap orang yang dimintai tolong itu langsung membantu apa yang kita minta. Intinya, tidak cukup “sekedar” minta tolong, kalau tidak membawa sesuatu bernama duit. Ya, ada timbal balik. Loe jual, gue beli. Begitu barangkali istilah sederhananya. Dan, kakak saya, kerap kali saat ada pendaftaran CPNS, selalu menemui dulu kawan dekat yang jadi pejabat itu, karena tahu, formasi CPNS itu ada di bawah lembaganya.

“Pak, saya daftar CPNS tahun ini. Minta tolong lah kalau berkenan,” cerita kakak ke saya suatu hari. Si pejabat itu, ya diam saja kata kakak saya. Singkat cerita, pengumuman CPNS pun bergulir. Pas dilihat di koran, eh, nama dan nomor ujian kakak tak ada. Belum beruntung, ujar kakak saat itu. Menjadi PNS adalah untung-untungan. Kalau untung, ya buntung. Kalau enggak sabar, mening disarankan cari pekerjaan lain. Sebab, yang disebut abdi negara itu, bukan saja PNS!

Yang bikin heran itu, kawannya kakak saya. Sama, kawan ini juga dekat sama pejabat. Pejabatnya, ya itu masih pejabat yang sama. Sama pula, beberapa hari sebelum tes CPNS berlangsung, si kawan kakak saya itu berkunjung ke rumah si pejabat. Biasa, kemungkinan pasti dia bilang,”Pak, saya daftar CPNS.” Lalu apa yang bikin heran kakak saya? Kawan itu, pas pengumuman, lulus! Namanya muncul di koran! Padahal, saat sama-sama mengerjakan soal CPNS (kebetulan satu ruangan, duduknya bersebelahan lagi). Yang tak kalah heran, saat ujian itu, kawan itu sering banyak tanya mengenai jawaban soal CPNS yang sedang dikerjakan ke kakak saya. Bedanya, kakak saya tak banyak tanya, ia kerjakan sesuai keyakinannya.

Saya tanya ke kakak saya. “Pas Aa silaturahmi ke pak..(pejabat itu), Aa memang enggak bawa sesuatu, ya?” Aa saya tahu, apa yang dimaksud dengan “sesuatu” itu. Kakak saya hanya bilang,”Aa cuma sekedar omongan minta tolong aja, tidak lebih. Kalau uang, lagian darimana Aa dapatkan? Apalagi, kalau soal sogok itu bukan tipe Aa. Aa enggak peduli, yang penting ada usaha. Mau lulus mau enggak, itu terserah. Aa hanya memanfaatkan momen yang ada, mumpung umur masih bisa buat daftar CPNS!” sahut kakak kala itu.

Tiap kali ada lowongan CPNS, kakak kerap silaturahmi ke pejabat itu. Bahkan, dengan sang istri pejabat itu, kakak saya sudah menganggapnya seperti ibu sendiri. Dan tiap datang itu, lagi-lagi cerita kakak, bahwa kakak saya ini tak membawa “bingkisan” lain. Huh, kakak…kakak..kakak. Kenapa, sih enggak bisa seperti kawan-kawanmu yang lain yang lebih “lincah”, bahkan mereka rela meminjam puluhan juta rupiah, demi “melobi” sang pejabat. Kenapa kakak begitu beda?

Yup. Sembilan kali kakak saya mencoba peruntungan jadi PNS, ternyata membuahkan hasil. Ke-9 kalinya itu, tetap-kakak juga masih berkunjung ke pejabat itu untuk meminta doa. Ya, hanya silaturahmi doang. Tak lebih. Untunglah, di 2005 kakak lulus CPNS! Sumringah juga tidak saya lihat. Ya biasa aja begitu. Enggak nyangka intinya. Terus, saya mau ikut daftar CPNS tahun ini? Inilah yang saya traumakan sekarang! Daftar enggak, ya? Daftar enggak, ya? Daftar enggak, ya? Dekat pejabat tidak, punya saudara yang jadi pejabat juga tidak. Lalu, apa yang kamu andalkan Hasan?

“Aku punya, Tuhan!” hati kecil saya bilang.