Mudik #part 3

Saya lupa lagi pukul berapa saya nyampe Merak malam itu. Jelasnya, pemudik begitu ramai pas saya turun dari bis Arimbi di terminal Merak. Tak sedikit calo menawarkan bis atau travel menuju Lampung. Saya tak menghiraukan itu. Tapi, saya malah menyimak dari pengeras suara, ”Kepada para pemudik, harap barang bawaan anda jangan sampai tertinggal. Awas anak-anak anda terlepas dari pegangan. Pastikan anda aman dari copet yang berkeliaran.”

Saya langsung mencari tempat makan. Saya pilih warung padang. Uh, udara malam itu panas sekali. Maklum, mungkin dekat pelabuhan penyeberangan. Saya juga pesan teh hangat manis, untuk menyegarkan dan menghilangkan rasa mual. Warung padang juga padat oleh mereka yang mau makan atau minum saja. Tak sampai setengah jam, makan beres. Saya langsung meninggalkan warung padang dan bergegas ke antrian tiket kapal laut. Terlihat dari jauh, Merak-Bakauheuni rp. 13.000. Ah, murah!

Saya baru kali ini antri beli tiket kapal laut. Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pikir, inilah mudik pertama yang benar-benar mudik. Karena terasa benar hiruk pikuknya. Yang selama ini saya lihat di televisi bagaimana orang-orang berjubel di pelabuhan ketika mereka mudik, maka saya kali ini mengalaminya sendiri. Ternyata, mudik dengan cara estfet ini benar-benar asyik, meski melelahkan. Eh, tidak melelahkan, tapi mengenakkan!

Sekitar 15 menit lah saya antri tiket kapal malam itu. “Bebas mau jam berapa aja kalau udah beli tiket ini …” kata penjual tiket begitu saya tanya, jam berapa kapalnya berangkat. Artinya, begitu pemudik sudah beli tiket, tak harus detik itu juga naik kapal. Mau menunggu satu atau dua jam setelah beli tiket, kemudian baru berangkat juga tak masalah. Yang penting tiket udah di tangan! Karena saya ingin cepat sampai di Bakauheuni, maka saya pun segera menuju antrian menuju kapal yang akan berangkat. Saya lupa lagi, saya berada di dermaga jam berapa malam itu.

Waw! Padat sekali, Man! Padat sangat! Padahal ini belum puncak arus mudik, lho! Sungguh sayang, saya tidak bisa mengabadikan momen itu. Hape saya memang sudah mati sejak dari Bandung! Kasihan benar! Ya sudah, saya hanya bisa menikmati berdesak-desakan itu dengan perasaan cemas! Cemas kalau jembatan untuk memasuki kapal itu ambruk. Cemas kalau saya mati terinjak oleh pemudik lain dan saya masuk tipi, sementara keluarga saya menonton berita buruk itu. Uh, bercampur rupa pkiran saya di tengah deru keringat di tubuh malam itu.

Lanjut! Ya, nanti bakal dilanjut..

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s