Aku Homo Seksual

Banyak yang kita obrolkan sembari makan siang itu. Termasuk, bahwa dia sebentar lagi akan risain dari tempat kerjanya, yang juga tempat kerja saya. “Ingin fokus menulis dan belajar melukis. Waktunya lebih luas dibanding sambil kerja …” katanya.

Makan siang usai. Kami pun pulang lagi ke kantor dengan berjalan kaki, sembari ngobrol.

 Saya: “Kapan kamu nikah?”

Dia: “Haha. Aku tidak berpikir untuk menikah. Ya, kayaknya, gak, deh!”

Saya: “Pernah pacaran?”

Dia: “Hasan, aku homo seksual! Mana mungkin pacaran!”

Saya: “Sejak kapan?”

Dia: “Aku sadar aku suka cowok itu pas SMP.”

Saya: “Pacar cowok punya?”

dia: “Hmmm. Hahaha. Teman dekat ada, bukan pacar.”

Saya: “Teman dekat … teman dekat, o, ya.”

Kami udah masuk gerbang kantor. Dia harus melanjutkan ceritanya, kata saya dalam hati. Jam masuk kantor masih 30 menit lagi. Lumayan.

Saya lagi: “Duh, duduk di mana, ya? Ngobrolnya biar enak.”

Dia lagi; “Di sana aja, di beranda. Ayo!”

Saya lagi: “Kok orientasi seksualmu beda, gimana ceritanya?”

Dia lagi: “Aku juga gak tahu. Kenapa orientasi seksualku berbeda dengan kebanyakan orang. Siapa yang menghendaki aku seperti ini, aku tidak tahu. Udah kubilang, aku baru sadar tentang ini sejak aku SMP.”

Saya lagi: “Siapa aja yang tahu tentang kecenderungan seksualmu kepada cowok?”

Dia lagi: “Teman pas kuliah.”

Saya lagi: “Mereka ngerti dengan keadaanmu?”

Dia lagi: “Tidak semua. Ada teman yang sepertinya mengerti tentang keadaanku, ternyata Dia tidak mengerti. Sebaliknya begitu.”

Saya lagi: “Orang tuamu tahu?”

Dia lagi: “Ibuku tahu. Begitu aku ngasih tahu, dia kaget, sedih, dan nyuruh aku segera tobat. Kata ibuku, karena yang kayak gitu sesuatu yang dibenci. Pelakunya bisa masuk neraka…”

Saya lagi: “Wow!”

Dia lagi: “Aku bilang ke ibuku, bahwa aku tidak meyakini apa yang ibu yakini. Aku sudah tidak berpikir soal dosa, pahala, neraka atau surga. Dan ibuku menangis …”

Saya lagi: “Eh, bentar. Maksud kamu ‘tidak meyakini yang ibu yakini”, itu apa?”

Dia lagi: “Ya, soal agama. Aku tidak yakin dengan agama yang diyakini ibu.”

Saya lagi: “Sejak kapan ibumu tahu?”

Dia lagi: “Baru-baru ini. Tapi, ibu bilang padaku bahwa dia tetap sayang padaku dan mengucap terimakasih atas pengakuanku.”

Saya lagi: “Perasaan kamu gimana sekarang setelah ibu tahu?”

Dia lagi: “Hati jadi plong, tak ada beban lagi. Ini adalah hal yang ingin kuceritakan kepada ibu sejak dulu. Cuma aku takut. Aku belum berani dengan segala konsekuensinya. Salah satu temanku, yang juga punya kenderungan sama denganku, setelah dia ceritakan ke ibunya, dia langsung tidak diakui sebagai anaknya, bahkan diusir dari rumahnya. Teman satu lagi, meski tidak diusir dari rumah, oleh ibunya dibawa ke psikiater, diobati, minta disembuhkan. Tapi, teman itu malah sakit hati dengan perlakuan ibunya. Dianggapnya, kecenderungan dia sebagai penyakit …”

Saya lagi: “Sory to say, sama teman dekatmu pernah gak ngelakuin ‘sesuatu” seperti orang pacaran?”

Dia lagi: “Hmmm. Ya, pernah …”

Saya lagi: “Jam berapa sekarang?”

Dia lagi: “Satu kurang lima menit.”

Saya lagi: “Oke, aku ke meja aku dulu, ya.”

Dia : “O, iya, makasih telah merhatiin aku dengan pertanyaanmu dan tidak menghakimiku …”

 

One thought on “Aku Homo Seksual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s