Memberi

Dibanding orang lain, saya bukan lah apa-apa. Apalagi soal kepekaan memberi. Kepekaan saya mulai muncul setelah orang lain melakukan. Kesadaran saya mulai terlihat ketika orang lain menampar saya. Padahal, memberi sesuatu kepada orang lain tak membuat miskin si pemberi. Saya yakin itu, tapi saya selalu kalah cepat dalam hal beri-memberi.

Salah satu teman kantor baru saja mendapatkan kebahagiaan. Benarkah teman saya bahagia? Tahu dari mana dia bahagia? Eh, jangan ngarang! Oi, jangan mengira-ngira. Ekpresi bisa saja kelihatan sumringah, tapi hati orang kita enggak tahu. Siapa tahu yang dia tampilkan hanya kamuflase. Apalagi manusia adalah mahluk paling jenius dalam berakting! Ah, sudahlah. Nulis yang penting saja. Jangan ke sana ke kemari.

Baiklah. Jadi begini, Fren. Teman kantor itu, istrinya melahirkan. Bayinya laki-laki. Sehat dan normal. Makanya saya bilang, pasti mereka bahagia atas kehadiran si jabang bayinya. Begitu tahu si istri teman kantor itu melahirkan, maka sebagian teman kantor turut bahagia, termasuk saya yang sampai hari ini masih melajang. Keesokan harinya, sebagian teman kantor ke rumah teman saya yang istrinya melahirkan itu. Ya, pastinya sambil bawa buah tangan.

Saya tidak ikut waktu itu. Nyumbang “sesuatu” pun tidak untuk si jabang bayi. Saya tidak ikut, karena yang pergi ke rumah teman saya itu ibu-ibu semua ditambah satu dua tiga gadis! Saya mau aja ikut gabung, tapi nurani saya bilang, ”Udah, itu acara ibu-ibu kali. Mereka juga udah mewakili kamu. Jangan sok-sok perhatian lah. Lagian itu cuma kelahiran bayi, bukan nengokin yang sakit…”

Intinya, sampai hari ini saya belum berkunjung ke teman yang udah jadi ayah itu. Padahal, kosan saya dan kos teman saya jaraknya sepelemparan batu . Tapi, sehari setelah saya tahu istrinya melahirkan, via WA keroyokan saya ucapkan selamat. Hati saya selalu bilang ingin ngeliat bayi teman saya itu. Tapi, karena lain hal, niat itu tidak terwujud sampai detik ini. Padahal saya ingin mencium si bayi yang aromanya khas itu.

Dua hari lalu, teman kantor yang lain, yang juga masih lajang tiba-tiba bilang di depan saya dan teman yang lain. “Anterin gue dong beli baju untuk bayinya si A Uzi…” Saya benar-benar dibikin kaget dengan ucapan teman saya itu. Bukan saya iri apalagi dengki. Karena saya tidak tahu apa itu iri, apa itu dengki.

Ya Tuhan, kenapa saya tidak bisa seperti teman saya, yang mau beli baju buat anaknya Uzi. Sementara saya belum memberi apa-apa. Kenapa saya selalu kalah cepat dalam memberi? Tuhan, thanks telah mengingatkan saya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s