Janji Tuhan

Saya baru percaya firman Tuhan yang mengatakan, jika kau memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan, maka Tuhan pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Begitu kalau enggak salah. Benar, saya baru percaya itu! Dan, tampaknya, itu terbukti!

Siang-siang pas nongkrong sama teman kampus, ada bapak-bapak lewat di depan kami. Penampilannya lusuh. Si bapak mengulurkan tangan sambil bilang, “Saya belum makan. Tolong saya.” Teman-teman saya enggak merespons si bapak yang minta sedekah itu. Dia pun berlalu.

Satu sisi, saya kasihan ke bapak itu. Di sisi lain, sebenarnya saya punya uang, tapi bukan punya saya, melainkan punya paman saya. “Kasih jangan. Kasih jangan. Kasih jangan. Kasih jangan…” begitu pikir saya. Kalau uang itu saya kasih ke si bapak, saya nanti harus bilang apa ke paman saya. Saya takut kena marah!

Tapi akhirnya…

Saya pun mengejar si bapak itu. Saya tanya, “Bapak belum makan?”

“Belum,” kata si bapak yang mengaku dia sama anaknya juga belum makan.

“Ayo, kita ke warteg, Pak. Biar saya beli dua bungkus nasi…” ucap saya sembari menatap wajah memelas si bapak.

“Enggak usah. Kalo ada mah uangnya aja. Soalnya kalo beli nasi sekarang, nanti nasinya keburu dingin pas sampe rumah…” lontar si bapak.

“Waduh, gimana, ya, Pak?! Ini uang ada, tapi besar uangnya…” kata saya, polos tapi jujur.

“Ya udah enggak papa kalau enggak, mah. Makasi, ya. Permisi…” kata si bapak sembari mau pergi.

Tanpa pikir panjang, saya langsung rogoh saku celana saya, yang ternyata duit itu 12 ribu. Ya udah, langsung saya sodorkan ke si bapak. Tiba-tiba, satu teman saya, yang tadinya hanya duduk-duduk saja di dekat pohon, tiba-tiba berlari ke arah saya sambil bilang, “Nih, Pak, saya tambah!” kata teman saya menyodorkan duit 10 ribu.

Saya dan teman saya itu kembali nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul hingga hujan tiba. Tak sampai setengah jam dari kejadian itu (saya bilang ini kuasa Tuhan), eh sekonyong-konyong saya mendapat sms dari ibu saya. “Imam, ibu barusan transfer 1.500.000. Awet-awet duitnya, ya. Salam dari keluarga di rumah…” Woow! Jujur, saya tidak bisa bilang apa-apa lagi setelah baca pesan itu, selain memuji kebesaran Tuhan. Dan, jujur, sudah dua minggu ini saya memang bokek. Utang di luar pun ada 300 ribu.

Begitulah penuturan keponakan saya, 15 menit jelang azan magrib kemarin.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s