Permenungan Cinta 1#

Oke, saya mau menulis tentang permenungan saya yang dangkal soal cinta yang tertuang dalam kata-kata pendek atau semacam kata mutiara. Ini yang pertama saya tulis itu, “Masalahnya, aku tak pernah memaksa hatiku untuk mencintaimu.” Saya tidak tahu, adakah orang yang pernah menulis seperti kata-kata saya itu?

Ceritanya, ini kata mutiara kedua, “Hati ini tak bisa diprediksi mencintai siapa. Tapi, izinkan bahwa kau adalah calon ibu dari anak-anak kita.” Saya yakin, ungkapan seperti itu pernah ada, cuma redaksinya saja berbeda. Ah, biarlah! Yang penting, kata-kata itu keluar ketika saya sedang memikirkan seorang wanita.

Yang ketiga, bentar, saya mau mikir dulu. O, ya, ini, “Tuhan, sungguh aku sengsara dengan selalu ingat hamba-Mu itu. Tolong bahagiakan aku dengan memilikinya, walau aku tahu, katanya, cinta tak harus memiliki.” Biasa, ya kata-katanya? Biarin eh, eh, eh biarin!

Saya pikir yang keempat ini, kalau dibaca saksama, ada keegoisan di dalamnya. “Dia adalah milik-Mu, maka aku tidak merayunya. Cukup aku merayu-Mu agar mencondongkan hatinya kepadaku.” Bolehkah saya egois ketika berdoa? Sebaiknya tidak. Tapi kata-kata ini, setidaknya hanya untukmu saja.

“Apalah daya. Aku ini siapa tanpa-Mu. Dia milik-Mu, maka aku lebih berhak mendekati-Mu daripada mendekatinya karena nafsu.” Itu yang kelima, Guys! Dan saya mulai lagi memikirkan untuk yang selanjutnya. Tapi, saya harus menyeruput caffucino dulu biar idenya keluar.

Ternyata, untuk memikirkan yang keenam, saya harus tidur dulu.  Tidur, tetapi kedua mata saya tetap melek. Itu tidur apa namanya, ya? “Sejak kapan aku mencintaimu? Aku kira itu pertanyaan yang tak harus dijawab sekarang.  Aku janji, aku akan menjawabnya setelah kita ijab kabul.”

Bahkan saya sempat  mules untuk memikirkan yang ketujuh, karena mungkin, satu jam lalu saya makan nasi padang yang pedas! Edan! “Justru yang aku takutkan adalah kau menerima cintaku, ketika perjuanganku untuk mendapatkanmu belum sampai titik nadir!”

Yak, siap! Ini yang terakhir, karena saya tahu saya pun jenuh menulis sore ini, sore yang ditemani lelah yang juga lelah. “Yang aku khawatirkan di dunia ini bukanlah kehilangan kekasih, melainkan jika aku tak sanggup lagi mencintainya.”

 

Iklan

One thought on “Permenungan Cinta 1#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s