Anjing Malam

Saya yakin ini yang dinamakan KDRT itu. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ini bisa dilakukan seorang suami terhadap istri. Pun sebaliknya. Bentuknya bermacam-macam. Ada kekerasan fisik dan nonfisik. Di antara keduanya, saya tidak tahu dampaknya yang lebih buruk yang mana.

Dua hari lalu, jelang tengah malam, obrolan kami sempat terpotong saat mendengar si Abang, suami si teteh tetangga kosan kami berkata kepada istrinya. “Maneh mah da anjing, goblog!” Terdengar di teteh terisak! Seketika, niat saya kepengen nikah tahun ini atau tahun depan buyar sudah! Hanya gara-gara itu?

Awalnya, saya menduga, mempunyai istri/suami itu menyenangkan. Eh, tahunya saya salah duga. Ternyata, apa yang terjadi dengan tetangga kosan yang telah menikah itu menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak sempat saya pikirkan. Sesunggunya siapa yang salah dan apa yang tengah terjadi dengan mereka, saya tidak tahu.

Pokoknya, sejak malam itu, saya jadi murung, sembari berpikir, ”Jangan-jangan kalau saya telah beristri saya melakukan seperti yang si abang lakukan terhadap istrinya.” Ah, rasanya saya harus berpikir ulang mengenai rencana saya menikahi seorang gadis yang saya impikan (siapa dia, emang udah ada?) Ah, saya bingung!

Malam itu, bukan saja omongan si abang kepada si teteh yang membuat saya jadi takut, tapi sebelum kata-kata si abang membuncah, terlebih dahulu terdengar plak…plak. Itu suara pukulan si abang yang didaratkan ke si teteh. Ya ampun! “Ya Tuhan, apakah saya harus menolong si teteh dan membogem si abang?” pikir saya.

Tidak. Tidak mungkin saya masuk ke kamar sebelah kosan saya mendatangi mereka dan bilang, ”Hai, Bang, apa yang kau lakukan terhadap istrimu? Kalau mau berduel, denganku saja! Anjing kau, Bang! Malam-malam gini! Ganggu orang tidur, tahu! Gimana kalau orang pada datang ke sini! Goblog!”

Sesungguhnya bila pun saya sampai mengatakan seperti itu, itu hanyalah ketiksengajaan. Apalagi saya selama ini tidak terbiasa bilang “anjing” maupun “goblog”, setidaknya secara terang-terangan. Andai itu benar-benar terjadi, itu hanyalah akibat keadaan sekitar yang menghendaki saya melakukannya.

Saya pikir lagi. Apa hak saya, tiba-tiba, tanpa salam masuk ke kamar mereka dan meluncurkan kata-kata—yang mungkin sudah sepatutnya saya muntahkan ke mereka. Eh, bukan mereka, tapi ke muka si abang yang kurang ajar itu. Kenapa saya katakan tidak mungkin saya mengatakan seperti itu?

Kau barangkali tidak tahu, sesaat setelah si abang memuntahkan kata-kata sampah terhadap si teteh, tiba-tiba Nasya, buah hati mereka yang berumur 3 tahun meraung, memanggil-manggil ibunya. Saya dengar dengan saksama, bersamaan dengan raungan Nasya, seketika itu pula si teteh berteriak tak beraturan,”Sudahlah, Bang! Aku mau pergi saja dari sini! Anjing!”

Setelah itu saya hanya dengar suara gelas terpelanting dari kamar sebelah. Tangisan Nasya kian menjadi dan suara pintu terbanting. Siapa yang keluar dari kamar mereka, saya tidak tahu. “Anjing!” kata teman saya lirih sembari membuang puntung rokok ke asbak di depan kami.

One thought on “Anjing Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s