Utang

Saya pantas berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa memberi utang kepada saya. Saya nilai, mereka adalah orang baik karena telah rela diteror dengan satu pernyataan, jika tak ingin disebut pemaksaan: “Minjem duit, dong! Gue lagi butuh, nih!”

Saya terpaksa melontarkan kalimat itu jika saya benar-benar bokek. Saya akui saya bukanlah manajer yang baik dalam mengelola duit. Pertanyaannya, ngelola duit aja enggak becus, apalagi ngelola yang lain? Saya akan jawab: sudah pasti! Dan semua akan berantakan pada waktunya!

Yah, mau gimana lagi. Saya tak bisa menghindar dari berutang dan mengutangi. Tapi jujur, saya lebih suka mengutangi daripada berutang, meski selama ini saya lebih banyak berutang. Satu kekurangan saya: jika saya mengutangi orang, saya tak pernah berani menagih, betapa pun saya butuh!

Soal berutang-mengutangi ini, sejak kapan saya mulai, dan siapa yang mengajari, saya benar-benar tidak tahu. Saya berkeyakinan, pastilah ada manusia yang mengajari saya berutang, meski mungkin tidak saya sadari. Nah, siapa, ya mereka? Oke, saya mau berpikir dulu.

Aha! Saya teringat bapak saya sering ngomong ke emak, ”Nyi, ngambil beras dulu lah ke Prapti. Jangan lupa rokoknya sebungkus. Bilang aja nanti diganti pas gajian atau panen padi.” Kalimat-kalimat itu sudah saya dengar sejak saya ingusan sampai jelang tamat SD. Hebatnya, kata “ngutang” tak pernah terlontar dari mulut bapak. Konspirasi banget, kan?

Apakah ibu saya ngutang kebutuhan pokok hanya ke Prapti? Oh, tidak! Di sana ada Ceu Uun, Menuk, Sarinah, Darto, Turino, dan mbok-mbok yang di pasar itu yang tidak bisa disebutkan di sini. Yang akhirnya, saya pun, kalau minjam duit sekarang-sekarang ini tidaklah ke satu orang. Jaringan saya banyak: ada Iwan, Hilil, Monay, Miday, Novaniz, Ridhaiz, Arif, Revay, dan lain-lain yang kalian tidak tahu siapa mereka.

Satu lagi, sebelum saya lupa. Jadi, ketika saya “transaksi” minjem duit, saya tak pernah menjanjikan waktu pengembaliannya, ”Minjam duitlah, ntar aku balikkan akhir bulan!” Tidak pernah seperti itu. Minjam ya minjam aja. Pengalaman, saya pernah bilang akan mengembalikan duit itu pada waktu tertentu, eh malah meleset! Kan, malu!

Anehnya, beberapa teman yang biasa saya pinjami duitnya selama ini, mereka juga tidak pernah ngomong, ”Kapan mau dibalikkan duitnya?” atau,”Boleh, mau berapa dan kapan bisa dibalikkan?” Untungnya tidak ada yang bilang seperti itu. Satu sisi, saya bersyukur. Di sisi lain, saya bergumam,”Sampai kapan saya harus berutang?”

Saya kira, saya harus mengakhiri tulisan ini dengan perasaan was-was, karena setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah utang saya untuk Oktober ini lebih besar dibanding bulan sebelumnya. It’s amazing! Tapi, saya tetap menikmati gali lobang tutup lobang itu dengan penuh suka cita, walau kata Bang Haji, orang kaya adalah orang yang tak punya utang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s