Ayo Bergerak!

Beginilah saya. Yang bangun kesiangan, kadang tidak. Setelah itu berangkat ke kantor jalan kaki. Dan begitulah kalian yang kegiatannya beda dengan saya. Sebelum ajal menjemput, mau tidak mau saya harus bergerak. Pokoknya bergerak. Mumpung masih hidup!

Bergerak tak harus ada tujuan. Jika kita bergerak setelah ada tujuan, yakinlah kita akan tetap bergerak, tetapi kalah cepat dengan orang-orang yang tak pernah merencanakan. Bergerak ya bergerak. Tujuan di akhirkan saja. Itu lebih baik. Kata siapa?

Sebab tidak sediki orang telah merencanakan sesuatu, eh, pada hari H malah tidak jadi. Yang ada apa? Pastilah kekecewaan. Maka saya berkesimpulan, setelah semua rencana kerap gagal, baik secara pribadi maupun kelompok, ya sudah, mulai sekarang saya tidak mau merencanakan. Jika pun mau ini atau itu, selagi ada kesempatan, ya langsung saja!

Mungkin itu pula sebagian orang juga bilang: kalau direncanakan suka enggak jadi, euy! Iya, tapi sebagian yang lain, tentu akan katakan: tidak selalu yang telah direncanakan itu gagal. Juga tak selalu yang tidak direncanakan itu berhasil! Jadi gimana, dunk?

Enggak usah bingung. Kalau saya, pantang merencanakan, tapi apa yang menjadi tujuan saya, itu harus berhasil, walau kemungkinan digapainya tidak secepat orang yang merencanakan. Jadi gini lah: saya tidak pandai merencanakan, tapi suka enggak ketahuan kalau saya mengeksekusi apa yang saya mau!

Siapa perencana terbaik? Dia adalah orang yang tak pernah merencanakan sesuatu, tapi apa yang menjadi tujuan hidupnya mudah tercapai! Nah, ini. Tujuan hidup memang apa? Saya yakin tiap orang akan punya jawaban berbeda bila pertanyaan itu disodorkan. “Mencari ridha Ilahi!”, “Beribadah!”, “Mencari kebahagiaan!” Itu semua jawaban klasik! Basi! Normatif!

Lah, buktinya? Tidak sedikit orang melakukan/mengucapkan sesuatu yang bahkan jauh dari “ridha Ilahi”. Katanya mencari ridha ilahi, kok gitu perbuatannya? Beda ucapan, beda perbuatan! Tapi enggak papa, hidup memang tak harus konsisten. Sebab, sesuatu yang konsisten adalah membosankan. Hei, jangan pernah mengiyakan jika belum pernah konsisten!

Terus, katanya hidup untuk ibadah. Bulsit, ah! “Tapi, kan saya solat terus. Zakat enggak pernah absen. Sahadat udah. Puasa tiap tahun. Cuma haji aja yang belum kesampaian. Tapi, saya tidak akan berniat berhaji, setelah tahu daftar tunggu haji sampe 15 tahun. Lamaaaaa. Jadi males!” ucap sebagian teman. Jadi, loe pikir ibadah hanya soal ritual itu saja? Ibadah yang mana dulu, itu pertanyaannya!

“Mencari kebahagiaan”, itu jawaban selanjutnya jika ditanya apa tujuan hidup. Sudah bahagiakah dari sekian tahun kita hidup di dunia ini? Seberapa persen yang membuat bahagia? Jika belum bahagia, artinya kita telah salah tujuan. Maksud saya, kalau kita bilang tujuan hidup adalah “mencari kebahagiaan”, itu bohong! Jangan pernah katakan lagi tujuan hidup “mencari kebahagiaan”!

Yang paling benar: mencari materi! Itu tujuan hidup sesungguhnya.

Sudah, sekian. Wasalam! Ayo bergerak cari materi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s