Doa

Pukul 22.00 kemarin malam, sahabat saya mengirim pesan lewat BBM.

“Oi!”

“Ada apa, Bro?”

“Gak papa, kok!”

“Bener, nih gak papa?”

“Ini aku mau langsung tidur. Tadinya mau ngucapin selamat ulang tahun ke kamu tepat pukul 24.00…hahahahaha.”

“Nyantai aja, Bro…hahaha. Doakan saja kita bisa menua bersama…”

“Amiiinn. Aku kurang enak badan soalnya, jadi sekarang mau tidur duluan, ya…”

“Iya, rehatlah dulu biar bugar badanmu besok.”

“Amiiin…”

Setengah jam sebelumnya, teman lama dari Sumatra yang wilayahnya terkena dampak kebakaran Riau, menelepon saya. Awalnya saya tidak mau mengangkat, karena saya tahu sinyal hape di kosan saya jelek. Dipaksakan diterima pun pastilah suara dia tidak jelas saya dengar. Pun suara saya, tentu tidak jelas dia dengar.

Saya putuskan saya angkat panggilan telepon teman saya itu, karena sudah  4 kali menelepon saya., meski ragu apakah suaranya nanti kedengaran atau tidak.

“Selamat menjadi tua ya,” kata dia pertama kali.

“Selamat apa?” saya sengaja balas begitu.

“Pokoknya selamat lah!”

“Oke.”

Suara dia semakin tidak jelas, sementara mie yang saya seduh, kalo enggak segera disantap nanti enggak enak. Saya terus bilang halo..halo..halo. Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Teman saya nelepon lagi. Saya biarkan telepon berdering. Kau tahu lah kalau saya angkat, sebanyak apa pun dia ngomong, tetap percuma. Intinya percuma diangkat juga.

Tak lama, ada sms masuk. “Yaudah lah. Skali lagi met ultah yo untuk besok. Siap-siap cepat mati…”

“Siap-siap cepat mati…” Pesan itu sesungguhnya yang paling berkesan hingga tulisan ini dibuat. O, iya. Saya tafsirkan saja pesan terakhirnya, bahwa semoga kesombongan yang saya pelihara segera “cepat mati”. Semoga pula kemalasan yang menggurita yang ada di dalam diri saya, juga “cepat mati”. Juga unsur-unsur negatif, yang secara tidak sadar merasuk jiwa  saya, pun segera “cepat mati”.

Semoga itu yang teman saya maksud dengan “cepat mati”. Bagaimana jika bukan itu yang dimaksud teman saya? Misalnya, sebenarnya teman saya itu benar-benar mengharapkan saya ini mati (cepat mati) secara jasad/fisik. Oh, no problem, sebab saya belum pernah diberi takut untuk mati sampai detik ini. Entah kenapa. Apalagi, sebanyak apa pun orang mendoakan saya supaya cepat mati (tercerabutnya ruh dari jasad), saya tidak akan pernah mati sebelum Dia berkehendak. Jadi, tetaplah tenang. Ditakutkan ataupun tidak, kematian tetap menghampiri saya, kamu, dia, dan mereka.

Duh, kok saya jadi serius begini, ya. Sorry, guys…haha.

O, iya. Jelang subuh, saya periksa hape. Ada sms dari sahabat saya yang tadi BBM-an sama saya, yang dia tidur duluan sebelum pukul 24.00 karena enggak enak badan. “Happy birthday cuy. Moga tambah sehat, sukses, dan cepat nikah yaaaa. All the best wishes for you. Aamiiin.”

Saya cek BBM. Adapula pesan dari sahabatnya sahabat saya itu. Begini,”Happy bday my brother. Semoga keberkahan selalu menyertaimu, dan kemudahan selau diberikan Allah. Aamiin. Moga kita bertiga cepet dpt jodoh, nikah, jadi triple date, hehehe. Bikin keluarga besar, barengan selamanya….”

Tentu, atas semua doa itu saya terharu. Moga Tuhan menjawab doa mereka buat saya. Thanks.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s