I’m Sory

Saya jadi kepikiran terus, ketika salah satu teman saya bilang via chat di Whatsapp, ”Aku mah cuma curhat, sih. Pengen didengerin aja, gak pengen diceramahin juga. Hahaha.”

Sesaat setelah baca pesan itu, saya jadi deg-degan, tapi getarannya berapa skala ricther saya enggak tahu. Deg-degan itu spontan keluar dari diri saya karena, karena, karena pasti saya sudah salah ucap (via WA) dengan teman saya itu. Apa, ya yang salah? Tanya saya dalam hati. Saya kembali membaca ulang apa yang sudah saya ketik sebelumnya.

O,ternyata benar! Saya telah mengatakan ke teman saya, yang juga seharusnya saya hindari, tetapi karena saya kurang mengontrol emosi ketika mengetikkan kata-katanya ke teman saya, jadilah kata-kata itu terkirim. Dan saya sungguh tidak tahu, jika kata-kata yang saya layangkan membuat teman saya merasa ‘terusik’ alias tidak bikin nyaman. I’m sory, Friend. I’m sory.

Saya prediksi, barangkali yang membuat teman saya jadi protes, lebih tepatnya nyinggung saya adalah, karena saya memasukkan kata-kata yang bernada ‘perintah’, ‘saran’, ‘himbaun’,’petunjuk’, atau seolah-olah, ketika saya chat sama teman saya itu, saya ini seperti penceramah, seperti yang dia bilang. Oh my god, penceramah??? No. No. No. Anda tidak tepat menilai saya! Haha.

Oke. Saya terdiam sejenak setelah saya mengingat-ingat apa sebenarnya yang membuat teman saya menyinggung saya sebagai ‘penceramah’.  Akhirnya saya katakan ke dia,”Siapa yang khotbah? Loe mah gitu… lagian ini bukan hari Jumat, ini Minggu!” Saya belum tenang, meski saya sudah mengklarifikasi.

Dia jawab lagi: “Aku udah nyaman aja curhat sama kamu, tapi males juga kalo ujungnya cuma dinasehatin. Wkwkwkwk.”  Oke, meski pesan dia seperti main-main karena di ujungnya ada kata: wkwkwk, tapi ini serius. Serius saya telah berbuat salah! Dan saya mau ini tidak pernah terulang lagi. Dan saya mesti memperbarui sikap.

Saya katakan ke dia, mohon maaf jika isi chat saya tampak nyeramahin, nasehatin, petunjuk ini itu yang seolah-olah saya ini sok bisa nyelesaikan masalah, atau sok-sok bijak. Padahal, sama sekali saya tidak bermaksud demikian. Tidak sama sekali. Ini murni ngobrol belaka, yang semua kata-kata saya tidak harus dimamah.

Pokoknya, saya akui saya salah, saya akui saya keliru. Sebab, dengan dia mengatakan seperti itu, itu membuat saya jadi tahu di mana letak kesalahan saya. Coba kalau dia enggak terus terang, saya mungkin enggak pernah sadar, bahwa yang saya katakan itu sungguh tidak mengenakkan! Sekali lagi, thanks telah mengingatkan. Itu yang saya butuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s