Jodoh, Maut, dan Rezeki

From my hape

Biarlah. Semua saya serahkan kepada Tuhan. Perkara apa pun. Jodoh, maut, dan rezeki. Hanya soal itu?

Jodoh. Tentu saya ingin, Tuhan yang memilihkan saya jodoh. Saya akan berjodoh dengan siapa, itu rahasia Tuhan. Terlebih, si jodoh itu adalah milik Tuhan. Jadi, saya hanya berusaha mendekati si jodoh dan sambil merayu Tuhan, supaya dia berjodoh dengan saya (ini doa egois, menurut ahli tasawuf). Andai Tuhan tidak suka dengan rayuan saya, ya sudah, Tuhan tentu Maha Tahu saya ini harus berjodoh sama siapa. Jadi nyantai, ya.

Maut. Saya pun tidak tahu kapan, di mana, dan dalam keadaan seperti apa saya ketika izrail menjemput saya. Jelasnya, sampai tulisan ini dibuat, saya tidak ragu, bahwa saya sudah siap mati. Tak perlu ragu untuk membahas soal kematian, sebab saya pun selalu bersenang-senang ketika membicarakan tentang kehidupan. Jika saat keluar dari rahim ibu saya, saya menangis, tentu ketika pulang, saya harus tersenyum. Semoga.

Rezeki. Apa yang disebut rezeki, otak saya selalu mengatakan, ia adalah uang, ia adalah pakaian, ia adalah makanan, ia adalah minuman, ia adalah tempat tinggal, dan ia adalah segala sesuatu yang menggembirakan hati. Dan segala sesuatu yang membuat hati saya sakit, itu bukan rezeki, melainkan musibah atau bisa juga kutukan. Apa benar begitu? Pemahaman saya soal rezeki, sampai detik ini, baru sebatas itu. Dalam arti lain, ingin mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, ya berusaha.

Ya, segini saja pagi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s