Seharusnya Istri Nyuci, bukan suami!

Teman saya seperti tidak suka, bahkan tidak setuju saat melihat bapak kosan sedang mencuci pakaian di belakang dapur. “Masa suaminya yang nyuci. Istrinya, dong! Gimana, sih!”

Apa salahnya dia nyuci pakaiannya atau pakaian istrinya? Apa urusan kita? Kamu mau bantu bapak itu? Jangan banyak omong, cepet turun tangga dan bantu si bapak. Ngurus diri sendiri saja sering tidak tuntas, kok ngurus orang lain, yang bahkan tak ada hubungannya denganmu? Saya terpaksa khotbah sekenanya, walau bukan hari Jumat.

Iya, maksud saya kenapa bukan istrinya yang nyuci pakaian? Tugas istri itu, salah satunya, ya nyuci. Istri macam apa nyuruh suami nyuci. Itu perempuan udah kebangetan! Saya tidak mau kalau punya istri yang punya karakter merintah. Awas saja, ya. Begitulah teman saya membalas, yang lagi-lagi saya belum setujui.

Hei, Bro, kata saya ke teman saya itu. Omongan kamu masih jeneral. Masih umum. Dan menghakimi sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Coba kalau berpikir itu yang panjang, dong! Jangan picik begitu. Hanya karena si bapak kosan nyuci, kamu langsung bilang bahwa si istrinya tak tahu diri. Tahu darimana si ibu kosan tak tahu diri? Mikir, Bro, celetuk saya.

Teman saya diam sambil garuk kepala, mungkin karena kehabisan kata-kata untuk membantah—atau memang di kepalanya banyak dihuni ribuan ketombe. Saya tidak tahu. Jangan dulu suuzon, tambah saya. Si bapak kosan nyuci pakaian tadi itu, bisa jadi si istri sedang sakit. Atau si bapak memang kreatif ingin membantu meringankan pekerjaan sang istri. Saya kira suami yang pengertian, ya yang sering bantu pekerjaan rumah!

Laki-laki jangan sok jadi bos! Terutama yang udah jadi suami. Istri itu partner suami. Pun sebaliknya. Suami jangan selalu nyuruh-nyuruh istri, jika memang itu masih bisa dilakukan sendiri. Ambilkan inilah. Ambilkan itulah. Jadi suami jangan resek bin manja. Juga, yang tak kalah penting, istri dituntut untuk mengerti apa kebutuhan suami. Yang dituntut mengerti bukan hanya istri, suami juga. Keduanya mesti peka! Saling mengerti. Itu intinya.

Teman saya semakin tidak mau komentar ketika saya nyerosos begitu—walau belum tentu apa yang saya katakan benar. Saya akhirnya nyuci, mungkin sekitar dua ember. Atas perintah hati, bukan istri.

2 thoughts on “Seharusnya Istri Nyuci, bukan suami!

  1. eh jangan salaaah.. menyediakan baju itu kan tugas kepala keluarga (suami), termasuk di dalamnya nyuci baju. ada hadisnya lhoo.. shahih pula ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s