Guru Saya OB

Guru saya sekarang adalah seorang office boy di kantor. Tolong jangan anggap remeh teman saya ini—yang meski tubuhnya kurus, tetapi dia jago bahasa Korea dan bahkan dia satu-satunya di kantor saya (sependek yang saya tahu) yang mengerti dan paham bahasa yang serial film dramanya digandrungi anak muda dan bikin termehek-mehek.

Apa yang dia ngerti dan paham tentang bahasa Korea, minimal dia bisa transfer ke saya. Daripada saya kursus di luar yang harganya enggak murah, lebih baik saya manfaatkan dia supaya mau ngajari apa yang dia bisa. Oke, kan? Tinggal nanti dia saya kasih rokok kesukaannya dan sesekali saya traktir nasgor atau apalah asal jangan bakso karena saya pun ragu dengan makanan itu, jangan-jangan itu terbuat dari celeng!

Iya, saya kasih rokok dan makanan aja cukup. Saya yakin kalo saya kasih dia uang seratus atau limaratus ribu sebagai tanda terimakasih, dia enggak akan nerima dan malah nyebut saya berlebihan. Kecuali saya akan paksa dia nerima duit dari saya, jika setelah saya mampu mengalahkan dia dalam menguasai bahasa Korea. Andai saja itu jadi kenyataan, sesungguhnya yang hebat bukan saya, tetapi dia!

Pertama kali saya tahu dia mampu berbahasa Korea berkat teman saya yang asisten editor. “Si Deny yang OB itu bisa bahasa Korea, lho. Kemarin saya minta dia menerjemahkan beberapa lembar naskah Korea dan hasilnya bagus! Ngalir!” Saya agak terbelalak juga pas dengar gitu dan saya tak langsung percaya. “Ah, yang bener?” sambung saya sambil mengerutu dalam hati,”Ah, masa OB bisa bahasa Korea! Penampilannya aja enggak meyakinkan kalo dia mahir bahasa itu!”

Itu mungkin pikiran saya yang spontan dan sangat picik. Dan itu seharusnya tidak timbul di otak saya. Sayangnya, saya belum mampu menghancurkan pikiran seperti itu, setidaknya ketika sang asisten editor itu menyebarkan fakta: sang OB did kantor bisa bahasa Korea kira-kira dua-tiga bulan lalu.

Saya belum puas. Saya tanya lagi ke teman saya, kok, si Deny OB yang tamatan SMK itu bisa bahasa Korea. “Selepas SMK si Deny sempat belajar bahasa Korea sebagai persiapan jadi TKI. Pas mau berangkat, eh emaknya sakit. Kebetulan di rumah itu tinggal adiknya yang perempuan, sedangkan kakak-kakaknya udah pada nikah. Ya udah, dia lebih milih ngurus emaknya daripada pergi ke Korea. Gitu Deny cerita ke saya mah!”

Sekarang, teranglah kenapa sang OB kantor saya bisa bahasa Korea. Jadi, hari ini, besok, dan sampai kapan pun saya ini tidak pantas mendahulukan berpikir jelek tentang seseorang. Atau, tolong enggak perlu menilai orang itu dari penampilan, status pekerjaan, strata sosial, atau hal-hal di luar diri seseorang tersebut. Yakinlah, kalau saya selalu menilai sesuatu/seseorang hanya dari penampilan, sungguh akan tertipulah saya. Dan itu sangat berbahaya!

Back to Deny. Awalnya dia enggak ngaku pas saya tanya benarkah dia bisa bahasa Korea. Oke saya paham dan saya tidak menuntut dia supaya ngaku hari itu juga. Dan saya pun enggak butuh pengakuan dia. Yang lebih saya butuhkan adalah dia bersedia mentransfer apa yang dia bisa dan paham tentang bahasa Korea ke saya.  Saya jadi yakin, bahwa si Deny perlu saya dekati supaya ngajarkan saya bahasa Korea karena teman di divisi komik pernah bilang,”Serial komik Korea yang akan kita terbitkan itu diterjemahkan Deny kemarin, lho!”

“Den, kapan kau bisa ajarkan bahasa Korea ke saya?” Akhirnya saya kirim pesan itu via BBM seminggu lalu.  “Bilangnya jangan ngajarin, dunk! Tapi ayok sama-sama belajar aja, Bro!” balas pria asal Garut yang mirip aktor Epy Kusnandar. Tak lama, dia lalu mengirimkan beberapa huruf vokal dan konsonan dalam bahasa Korea yang tentu membuat saya bingung, gimana cara bacanya. “Nah, ini dulu aja untuk tahap awal, Bro!” kata dia lagi.

Oke. Gam sa ham ni da, balas saya.

Iklan

4 thoughts on “Guru Saya OB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s