Tuhan, Aku Galau

Segala kegalauan yang ada pada dirimu tak perlu kau panjang-lebar. Sebab, itu hanya akan memperpanjang usia kegalauan bersemayam dalam hatimu. Kegalauan apa pun yang kau rasa, segeralah ceritakan kepada partner setiamu—Tuhan. Dia yang menitipkan kegalauan—pun Dia yang akan mengambil titipan itu setelah kegalauan itu kau  rawat dengan apik.

Segala kegembiraan yang menyertaimu tak perlu kau rayakan berlebihan. Cukup katakan,”Tuhan, segala kegembiaraan yang kau limpahkan kepadaku saat ini adalah buah ketidaksenanganku beberapa waktu lalu. Tuhan, jadikan hatiku menjadi penggembira tetap ragaku kala ketidaksenangan menyapaku.”

Apa pun yang menyertai dirimu, baik galau maupun gembira, rengkuh ia. Peluk ia erat-erat, tak perlu kau risaukan. Ajak ngobrol ia. Sapa ia untuk berdialog denganmu. Masalah bukan musibah. Masalah adalah berkah yang tertunda. Masalah akan marah jika kau tak pandai mengajaknya bersenang-senang. Bujuk ia. Rayu ia supaya ia jadi baik kepadamu dan jadi sahabat paling setia dalam keseharian hidupmu.

Yang mau terus galau, ya silakan galau. Sesungguhnya, da akumah apah atuh, tak kuasa jua menyarankanmu harus begini, jangan begitu. Sebab aku pun, sama seperti dirimu, suka sama-sama galau, walau tingkat kegalauan kita berbeda dan cara penyelesaiannya pun pasti tak pernah sama. Kalau begitu, mari menggalau jika dengan begitu berat tubuhmu bertambah.

Iklan

One thought on “Tuhan, Aku Galau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s