KSLB

from Diana Rikasari book: #88LoveLive

from Diana Rikasari book: #88LoveLive

Bila saya teringat, mendengar, ataupun melihat langsung orang-orang yang secara fisik tidak lebih sehat dari saya—saya kadang-kadang lupa bersyukur. Padahal, pemandangan tersebut sejatinya adalah alarm bagi saya supaya lebih pandai bersyukur kepada Tuhan. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan? Pertanyaan itu sebaiknya saya paku, setidaknya tiap detik di dinding ingatan saya.

Istri kakak saya, sebulan lalu menelepon saya ketika Isya menjelang. Saya pikir mau apa, sebab tak biasanya mau bicara sama saya, setidaknya via telepon. “Cep, maafkan uni, ya. Uni sedang sakit udah dua bulan ini. Enggak bisa tidur dan selalu dihantui kecemasan. Kalau Cep tahajud, tolong sertakan nama uni di dalamnya, doakan supaya uni cepat sehat…”

Ya, kakak ipar perempuan saya sedang dalam kondisi tidak normal, fisik maupun pikirannya saat itu, bahkan hingga saya menulis ini. Beda dengan saya. Saya, detik ini, bahkan sebelum uni menelepon, saya masih bisa tidur normal dan tak ada kecemasan apa pun, kecuali kecemasan bagaimana jadinya bila saya belum nikah juga tahun ini. Haha.

Suami uni menambahkan ketika itu,”Badannya udah kurus sekali, Cep. Kasian liatnya. Ke dokter juga udah. Tinggal berdoa aja lagi sekarang. Kalo ada doa-doa rukyah, tolong kasih tahu segera ke aa, ya…” Begitu tutup kakak saya malam itu. Apa lagi alasan saya untuk tidak bersyukur saat saya mendengar kakak saya bercerita, jika tubuh istrinya kini jadi kurus-kering akibat keadaan yang dideritanya?

Tak ada alasan untuk tidak bersyukur! Iya, saya wajib bersyukur, bahkan di tiap detiknya karena sampai hari ini Tuhan masih memberikan saya suatu keadaan—yang mungkin jauh lebih baik dari istri kakak saya. Setidaknya, dia sakit, saya sehat. Dia abnormal, saya normal. Coba liat uni, Cep, dia enggak bisa tidur! Dia kesusahan! Sedangkan saat ini kesehatanmu jauh di atas dia!

Itu baru di lingkup keluarga dan baru satu orang. Mampukah satu orang itu bisa membuat saya peka, bahwa itu tambahan bumbu buat saya supaya tambah bersyukur? Andai pun saya sakit tiga hari lalu, itu pun Allah cuma kasih saya flu, bukan sakit parah yang memerlukan perawatan berbiaya besar. Dan alhamdulillah, tamu berupa flu tersebut kini telah menyingkir, tentu atas izin-Nya pula.

Lagi-lagi saya diingatkan agar tak mengingkari nikmat sehat yang selama ini saya terima. Salah satu teman kantor, baru-baru ini ngasih tahu, bahwa dia divonis dokter terkena kanker stadium tiga. Setelah saya tanya kanker apa, dia jawab kanker getah bening. Kanker apa pun, saya kira itu bukan penyakit ringan. Nah, masihkah saya mengelak untuk tidak mau bersyukur, sementara saya oke-oke saja seperti kelihatannya?

Di luar sana—saya yakin ada banyak orang yang sedang berusaha melawan penyakit—yang bahkan lebih parah dari uni dan kawan saya di kantor. Lalu, saya harus melawan apa? Setidaknya saya harus melawan kesombongan yang nyaris mendarah daging di dalam diri saya—walau saya sadar, bahwa kesombongan tidak bisa diberangus sampai ke akar-akarnya. Tapi minimal, saya mampu menguranginya.

Ya Tuhan, saya benar-benar lupa bagaimana caranya bersyukur!!!

Judul tulisan ini : Ketika Saya Lupa Bersyukur (KSLB)

2 thoughts on “KSLB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s