Akik

Sesuatu yang menarik atau tidak, kadang-kadang tetap saya tulis, syaratnya ketika itu saya sangat ingin menulis. Jika tidak, ya tamat riwayat dan itu hanya berputar di kepala tidak sampai jadi paragraf. Seperti pagi ini, saya sebetulnya tidak punya ide mau nulis tentang apa. Apalagi di luar sana langit cerah, bumi merekah. Enaknya, kan nyantap soto Madura, bukan menulis!

Baiklah. Saya mau nulis tentang batu akik. Ada yang bilang, batu akik mulai jadi perhatian sejak dua tahun lalu—walau belum begitu booming seperti hari-hari ini—yang orang-orang mulai mencari dan menjadikannya sebagai gaya hidup. “Ini batuku, mana batumu?” Begitu yang sempat saya baca di beberapa media cetak yang mengulas tentang batu akik.

Kehebohan batu akik bukan hanya bagi pencintanya. Yang tadinya cuek dengan batu alam tersebut, kini mulai penasaran dengan keindahan dan keunikannya, bahkan rela memilikinya—walau harganya tak lagi murah (tergantung jenis batunya, sih!). Di sisi lain, ada pula orang yang geleng-geleng kepala melihat orang lain yang memburu batu akik. “Saya heran, di mana letak bagusnya batu akik itu, ya?”

Saya pernah dibisiki seorang teman perihal batu akik ini.”Bro, pakai batu akik itu sunah Rasul. Pakek, dong! Masa enggak pakai, sih! Jadi gagah dan berwibawa, lho kalo pake akik!” Waduh, sunah Rasul? Rasul dibawa-bawa sampai ke batu akik! Emang enggak ada yang lain, ya sunah Rasul yang bisa dipraktikkan dan bisa bikin gagah plus berwibawa?

Beberapa teman kantor pun—yang tadinya enggak pernah memakai akik, kini mulai gandrung. Akik yang mereka pakai macam-macam. Saya tanya satu-satu, katanya ada panca warna, giok (entah giok mana, saya tidak tahu: Aceh atau mana), kalimaya, dan akik jenis lain yang saya lupa mau menuliskannya di sini. Ukuran akik yang dipakai pun berbeda-beda. Dari seukuran pentol korek sampai ukuran ulekan batu.

Dua minggu lalu, bahkan adik saya—dengan agak menyombongkan diri mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan dia sedang memakai cincin batu akik. “Woy, ini batu Red Rafflesia asli Bengkulu! Jangan ngaku lanang (laki-laki) kalo gak pakai akik! Hubungi saya kalo minat. Harga nego!” tulisnya via BBM

Kata adik saya, sebulan lalu, harga batu Red Rafflesia perkilo hanya Rp.250 ribu yang diambil dari sebuah bukit di Bengkulu dari seorang pendulang batu. “Itu harga yang belum jadi, masih berbentuk batu kasar. Tapi karena semakin ke sini tambah ramai, harganya jadi Rp.900 ribu perkilo! Beli harga jadi sajalah kalo mau. Ni, Rp. 300 ribu aja. Kasih tahu kawan lain, kali aja minat!”

Sampai akhirnya, saya belum punya akik detik ini. Bukan tidak mau, tapi saran beberapa teman membuat saya mengurungkan niat untuk membeli akik.

“Gak cocok kamu pakai!”

“Pake akik harus punya istri dulu!”

“Niatnya apa pakai akik? Mau dilihat orang supaya keren atau memeliharanya karena kamu punya jiwa seni? Atau malah untuk nakut-nakuti orang? Atau buat jimat?”

“Kalo niatnya biar orang muji kamu karena pake akik, mening gak usah. Lebih baik kamu beli gorengan dan bagi ke teman-teman kosan!”

3 thoughts on “Akik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s