Ngomongin Orang

Akan selalu ada orang yang enggak  suka sama kita. Apa pun alasannya. Bahkan, ada orang yang enggak suka sama kita tanpa alasan. Masalahnya, orang yang enggak suka sama kita, dia langsung bilang ke kita apa enggak? Atau dia ngomongin di belakang  sama orang lain—yang orang itu tak lain teman kita juga.

Wajar mungkin  orang yang enggak suka sama kita itu orang yang enggak dikenal. Tapi orang yang ngomongin kita itu teman kita, itu namanya enggak jentel. Kalau dia laki-laki, dia bukan laki-laki tulen. Bila dia perempuan, dia bukan perempuan beneran. Lalu apa namanya? Iya, dia hantu yang merasa seperti manusia. Orang seperti itu berbahaya.

Gimana caranya supaya kita enggak diomongin sama orang? Caranya adalah kamu enggak pernah lahir di dunia ini! Setiap manusia yang lahir ke dunia, sebaiknya dia sadar, bahwa hidup ini mesti siap diomongin orang—pun  bersedia mengomongkan orang. Siap diomongin yang baik-baik tentang dirinya, juga kudu tahan mental ketika dia diomongin yang tidak baik, bahkan fitnah.

Selagi dia manusia, dia enggak akan mungkin bisa menghindar dari omongan orang lainnya. Makanya saya bilang, kalau enggak mau diomongin sama orang, ya dia sebaiknya enggak usah lahir ke dunia. Andai dia nyesal karena telah lahir, cara terbaik apa selain bunuh diri? Atau, dia, sebaiknya dengan suka rela meminta orang untuk melenyapkan nyawanya. Apakah ada cara lain?

Yang harus dicari tahu itu, kenapa orang sampai ngomongin kita? Ngomongin soal apa? Benarkah apa yang orang lain bicarakan tentang kita? Enak kalau yang diomongin itu hal-hal yang setelah kita mendengarnya jadi motivasi bahkan inspirasi untuk mengubah hidup jadi lebih bermakna. Kalau yang dibicarakannya adalah kejelekannya, lantas apa yang bisa kita ambil?

Tetap akan ada yang bisa dipungut bila orang itu membicarakan kejelekan orang lainnya. Minimal, kita bisa berpikir,”O, iya, ya jangan kayak gitu, deh! Pokoknya aku enggak mau sepertia dia yang terus nyalahin orang.  Masa, sih ustad, kok ngelecehin santrinya. Semoga aku enggak kayak gitu, deh! Si Jamin itu pencopet, hati-hati, lho, Bro!” Dengan kata lain, kita bisa mawas diri.

Namanya mahluk sosial ya begitu, tiap hari rasanya sulit kalau tidak bicarakan orang lain. Orang yang sering ngurung diri di rumah pun bahkan bisa jadi bahan omongan, apalagi orang yang tingkat sosialnya tinggi. Asyik, kan hidup itu? iya, karena kita punya mulut, kecuali dia bisu. Eh, jangan salah, yang bisu pun sesungguhnya dia ngomongin orang juga—walau kita tak mendengarnya.

Selagi bisa ngomong, ya silakan ngomong. Tinggal, apakah yang kita omongkan itu sudah tepat sesuai cara dan situasinya. Cara ngomonginnya yang penting, bukan omongannya. Yang baik, yang jelek, ya langsung omongin di depan orang itu. Jangan ngomong di belakang. Orang juga senang kalau diomongin langsung daripada dia tahu dari orang lain.

Kalau enggak mau diomongin orang, ya jangan ngomongin orang. Saya kira ungkapan itu tidak berlaku lagi. Memang dulu pernah berlaku? Kapan? Orang yang hidupnya lurus-lurus saja alias enggak banyak neko-neko saja sering, kok diomongin orang—apalagi yang hidupnya bengkok-bengkok. Jadi gimana, dunk? Jadi serba salah, nih.

Gini aja, nikmati hidup ini dalam setiap episodenya—sembari sesekali merefleksi diri. Begitu kata ahli yang biasa memotivasi.

Selamat menikmati hujan.

Iklan

One thought on “Ngomongin Orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s