Selingkuh

Yang harus dicari itu apa penyebab dia selingkuh? Kalau sudah tahu penyebabnya, tentu saya dan kita—barangkali akan paham dan tidak lagi membicarakannya. Paling banter,”O, gitu, ya? Pantesan atuh! Wajarlah kalau dia cari “kehangatan” di luar. Udahlah, itu urusan mereka, bukan kita!”

Masalahnya, saya ini termasuk orang yang selalu pengen tahu, bukan saja “why”-nya, tapi “how”-nya dia selingkuh. Jadi, enggak berhenti pada,”Ya udah, itu urusan orang lain!” Justru saya ingin tahu lebih dalam sejarah dan seluk-beluk mereka berselingkuh. Saya harus kepo. Kepo yang cerdas! Soft kepo, istilah lainnya.

Salah satu rekan kantor, sebut saja Mang Ilham, menyebutkan selingkuh itu tidak wajar. Kenapa, Mang? “Selingkuh, pasti ada yang tersakiti. Perbuatan menyakiti, itu kan tidak baik, ceuk (kata) saya mah!” Pria beranak tiga ini bahkan mengatakan,”Makanya, kalo jadi lelaki itu tak perlu banyak duit! Bahaya!”

O, jadi penyebab laki-laki berselingkuh itu karena banyak duit? “Iya, karena dia merasa mampu untuk membiayai hidup wanita lain selain istrinya. Bukan tidak boleh kaya, tapi bisa enggak laki-laki itu menghargai perempuan? Makanya, ketika suami gajian, segera setor ke istri. Kalau lama dipegang suami, bisa jadi uangnya untuk membiayai orang lain.”

Bukan berarti beristri lebih dari satu itu tidak boleh. Tapi,”Caranya yang penting. Kalau dia niat mau nikahin lagi wanita lain, ya coba lah dengan cara yang baik. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan dan fitnah di mata orang lain. Sementara istri di rumah enggak tahu kalau sang suami jalan bareng sama wanita lain. Apakah ini sesuatu yang dibenarkan?” Ilham tampak sinis. Saya malah jadi deg-degan.

Bagaimana baiknya? “Cari dulu masalahnya kenapa dia selingkuh? Apakah di rumah memang si suami dan istri enggak harmonis, atau apa? Kalau secara ekonomi, kan dia (suami) mapan, to? Anak udah tiga lagi. Apa si istrinya yang posesif? Eh, posesif, teh naon, sih? Hahaha.” Mang Ilham seperti motivator yang ada di tv.

Saya jawab, posesif itu merasa menjadi pemilik dan mempunyai sifat cemburu. “Posesif itu bahkan wajib, Mang! Tapi itu tadi, sekadarnya saja, enggak berlebihan. Apa pun, tentu yang berlebihan itu efeknya tidak baik. Nanti kepala suami pusing kalau terlalu diposesifin. Percaya aja, deh sama suami! Akibat pusing, karena ngikutin ego, jadilah lari ke wanita lain!”

Bila merasa kurang puas (memang hidup ini untuk cari kepuasan? Kepuasan apa?) dengan istri pertama, suami yang bijak, tentu akan bilang kepada istri pertamanya,”Ma, papa mau nikah lagi, izinin, ya?” Yang penting jujur dulu sama istri—soal tanggapan istri selanjutnya, itu nomor sekian. Jelasnya, si istri harus tahu dulu keinginan suami.

Risiko bila akhirnya istri tidak setuju bahkan marah—atau menggugat sang suami agar menceraikannya. Risiko pula—andai sang istri mengizinkan suami menikah lagi. Cinta suami yang tadinya 100% buat istri, tiba-tiba  harus dibagi setengahnya ke istri kedua. Semuanya penuh risiko, Bro! Bergantung cara pandang—risiko bisa mengindahkan bisa pula menyakitkan.

Saya enggak sadar ternyata Mang Ilham masih ngoceh. “Mana ada, sih manusia yang pernah puas? Sudah punya istri satu, eh mau istri dua. Bener, nih udah punya dua istri, enggak niat punya istri ke-3? Sudah punya satu gunung, masih mau gunung yang lain. Manusia…manusia. Saya juga ingin kayak gitu, tapi saya merasa tidak mampu.”

Mang!

Iklan

4 thoughts on “Selingkuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s