Grogi

Grogi tak dapat dicegah—betapapun segala persiapan untuk berbicara di hadapan banyak orang telah dilakukan. Bagaimana bila tidak dipersiapkan? Saya termasuk orang yang paling tidak antusias jika harus ngomong di depan publik. Saya takut. Saya takut apa yang saya katakan—orang lain tidak mengerti dan ngeri dinilai membosankan.

Padahal, ingin sekali saya ini menjadi orang—kalau berbicara di depan banyak orang—mereka tertawa ikhlas—dan paling penting hadirin memerhatikan dengan antusias apa yang sedang saya bicarakan. Gimana mau merhatikan, wong sebagian mereka sibuk dengan smartphone-nya, Bro!

Sudahlah. Kau tak perlu menuntut banyak dari orang lain. Bahkan, berusahalah untuk tidak menuntut. Harus inilah. Harus itulah. Nyantai and woles, oke? Tugasmu berbicara di depan mereka kalau memang diperlukan, bukan menyuruh mereka memerhatikanmu. Soal memerhatikan tidak memerhatikan, itu kembali ke individu.

Pagi ini saya ngomong di hadapan teman-teman kantor tanpa persiapan. Dan hasilnya belepotan. Ngomong gak fokus. Samar. Yang membuat saya menyesel, saya sendiri tidak paham apa yang saya bicarakan. Saya bicara terburu-buru. Malu-malu, gitu, deh! Kepercayaan diri lenyap ditelan grogi.

Kenapa tanpa persiapan dan grogi? Saya tiba-tiba harus menggantikan orang lain untuk memimpin doa pagi! “Ya, Hasan aja yang gantiin!” celetuk teman-teman—setelah tahu teman yang seharusnya mimpin doa tidak hadir. Otomatis, pikiran dan tubuh saya seketika tidak keruan. “Saya mau ngomong apa?” saya membatin.

Pastinya, hari ini saya tidak bisa memberikan yang terbaik buat diri saya dan orang lain. Seharusnya saya pagi ini ngomongnya teratur, tertata, dan tetap tenang. Tetapi buktinya belum bisa. Orang lain mungkin kecewa dengan penampilan saya. Ya silakan kecewa. Memang demikian seharusnya.

Bukan berarti jika saya ngomong di hadapan orang banyak dengan persiapan matang sebelumnya, lantas saya ngomongnya teratur dan tertata, lho.  Tetap saja, kadang tidak fokus, bahkan tidak nyambung! Nah, apalagi tanpa persiapan! Kacau bin balau! Sekali lagi, saya benar-benar tidak bahagia hari ini.

Andai suatu saat saya harus berbicara di depan khalayak—Saya mesti lebih tenang lagi—bagaimana pun keadaannya. Bisakah? Ah, entahlah. Tetapi saya berkeyakinan bisa—asal saya banyak belajar—walau hasilnya tak mungkin sekeren Soekarno ketika berorasi. Ya iyalah gak mungkin juga kaleee…:P

7 thoughts on “Grogi

  1. Waduh… kebayang itu mas.
    Saya pas SMA dulu ikut lomba pidato, dah hafalin semua aja grogi. Ini tanpa persiapan….
    Gpp grogi deh. Yang penting lebih berani maju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s