Lien Auliya Rachmach

Saya berkunjung ke Kuningan—Jawa Barat—tiga pekan lalu menemani beberapa rekan kantor ke rumah Lien Auliya Rachmach—salah satu penulis di penerbit kami yang beberapa hari lagi bukunya terbit. Sepuluh jam sebelum kami menyambangi rumah perempuan yang baru tiga bulan menikah itu, atasan kami menerima pesan—yang kemudian dibagikan ke grup Whatsapp.

Assalamualaikum wr.wb. Td kira-kira  jam 21.00, saya coba telepon ibu, tapi HP-nya gak bisa dihubungi. Lien telah tiada bersama angan, harapan, dan cita-citanya yang selalu mulia di mata keluarga kami. Mohon doanya, semoga Lien dimudahkan jalan menuju surga-Nya Yang Maha Indah. Maafkan atas segala kekhilafan Lien, ya. Salam untuk saudara-saudara di kantor. Terimakasih atas supportnya selama ini, semoga bukunya bisa bermanfaat bagi setiap yang membacanya…”

Enam bulan lalu, Lien datang ke kantor kami di Bandung jadi pembicara dalam diskusi bulanan yang diadakan kantor. “Sejak 2004, saya divonis dokter terkena ginjal dan karena itu mengharuskan saya cuci darah seminggu dua kali, Rabu dan Sabtu di rumah sakit Kuningan. Tujuh tahun saya tidak bisa buang air kecil…” ucap Lien kala itu lirih.

“Lien selama menjalani proses cuci darah tak pernah mengeluh. Pokoknya enjoy saja seperti sadar bahwa semua yang ia alami sudah jadi ketentuan-Nya. Ia selalu tersenyum dalam keadaan apa pun. Ia pun suka sekali bantu orang,” begitu pengakuan kakak perempuan Lien saat kami ke rumahnya tiga pekan lalu.

Kakak ipar Lien menambahkan, ”Kami gembira Lien pergi karena di akhir ajalnya, saya menyaksikan sendiri mulutnya tak putus mengucapkan kalimat-kalimat baik seperti Lailaha Illah sambil tersenyum. Jadi, kami tidak khawatir, mudah-mudahan dia husnul khatimah (akhir yang baik),” tuturnya berkaca-kaca sembari memperkenalkan kepada kami, bahwa pria yang di sampingnya adalah suami Lien.

Suami Lien—yang juga penderita gagal ginjal menceritakan, sang istri adalah orang yang pengertian dan sabar, ”Benar, dia (Lien) walau saya cuma diberi kesempatan tiga bulan bersamanya, tapi membekas sekali di hati saya. Orangnya tak pelit senyum kepada siapa saja. Sebetulnya, atas kepergian dia, saya benar-benar tenang dan tidak khawatir, mudah-mudahan dia disayang Tuhan.” Kata lelaki berjanggut itu bersemangat.

Hujan kian deras. Azan magrib pun berkumandang. “Kami numpang salat dulu di sini sebelum kami pulang ke Bandung,” ucap salah satu dari kami. Hati saya seketika menggumam,”Gimana bila suatu saat Tuhan titipkan suatu penyakit yang melebihi Lien kepada dirmu? Siapkah?”

Jadikan hamba termasuk hamba yang selalu bersyukur. Begitu setidaknya yang selalu saya pinta kepada Tuhan tatkala saya berdoa—saya lambungkan terus permohonan itu—bahkan tak mengenal tempat dan waktu—apalagi setelah saya menginjak tanah Kuningan. Juga, Tuhan, jauhkan hamba dari sifat pengeluh yang berlebihan.

One thought on “Lien Auliya Rachmach

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s