Lesbi dan Kondom

Beberapa menit setelah saya sampai di tempat penjual nasi goreng, saya mendengar celetuk seorang anak—perkiraan saya, dia kelas V/VI SD. “Lesbi, teh apa, Mang?” lontar anak paling ujung yang tengah duduk bersama dua temannya kepada seseorang—yang berdiri di depan kios aneka jus. Tampaknya, ‘seseorang’ dan anak-anak itu—mereka sudah saling kenal.

‘Seseorang’—yang usianya antara 20-25—itu lalu ketawa dan menjawab, ”Itu, yang biasa dipakai di rambut!” Anak-anak yang ada di sana pun balas ketawa—ngakak  sambil mengatakan, ”Oh, itu mah Gatsby, kaliii…” Saya memerhatikan obrolan mereka. “Kalo kondom, naon, Mang?” ucap anak yang lain sambil ketawa-tawa.

Seorang muda tadi tak menjawab pertanyaan kedua, tetapi  mengatakan, ”Waduh, anak zaman sekarang, kok sudah tahu yang kayak gitu, ya…” Si tukang nasi goreng rupanya juga menyimak, lantas berucap, ”Pas lagi kecil, boro-boro tahu lesbi ama kondom, yang lain aja aku enggak ngerti. Hahaha.”

Tak lama, si tukang ayam goreng yang berada persis di samping kanan gerobak nasgor, memanggil salah satu anak, ”Hey, ini pesananannya udah!” “Berapa, Mang?” ucap salah satu anak—sembari merogoh duit dari saku celananya. “Enam ribu aja.” Ketiga anak langsung meninggalkan tempat sambil berlari karena takut hujan semakin deras.

Lesbi (seharusnya lesbian) dan kondom. Dua kata itu yang saya ingat malam itu, jelang saya tidur—yang diucapkan oleh anak-anak bau kencur. Saat saya masih bau kencur—pernah beroleh kata ‘kondom’ dari teman sepermainan, tetapi tidak tahu apa arti dan fungsinya. Suatu hari—di depan saya—teman itu meniup kondom dan berubah serupa balon.

Dua hari setelah saya bertemu anak-anak yang menyebut lesbi dan kondom di tengah rintik hujan itu—tetiba seorang teman mengirim saya pesan via BBM, ”Aku semalam ngobrol sama seorang lesbian. Nyaman banget sama dia. Hangat orangnya. Seperti sudah kenal lama. Aaaa…” “Go on!” balas saya.

Cewek yang satu ini memang penasaran. “Bro, kalo nanti gue sering curhat sama dia dan dekat, apa bisa bikin gue jadi lesbi?” Andai teman-teman ditanya begitu, kira-kira apa jawaban yang pas buat dia? “Bisa jadi, bisa enggak,” ketik saya—yang mungkin tidak membuatnya puas.

“Aaaaa. Kalo ketularan lesbi, gimana?” tanya dia lagi. Ketularan lesbi dan tidak—itu tergantung kita—begitu kata saya. Kecuali—lanjut saya, kamu ada kecenderungan suka sesama jenis—itu lebih rentan jadi lesbi bila bergaul sama lesbian. “Susah tuk enggak suka sama dia. Anaknya asyik,” balas dia lagi.

“Jangan mikirin dulu kamu jadi lesbi apa enggak. Jalani aja dulu. Semuanya tergantung niat. Kalo kamu niatnya deketin dia ingin tahu lebih jauh tentang kehidupannya, ya silakan aja. Orang yang orientasi seknya berbeda dengan kita, enggak berarti seluruh hidupnya hanya untuk birahi.”

Saya katakan lagi, dengan siapa pun kita berteman, bersahabat, bahkan bersaudara—pada akhirnya kita akan menemukan risiko. Kenyamanan, kehangatan, keakraban, keasyikan, pengaruh negatif, bahkan penghiatan sekali pun–itu tetap akan dirasakan dalam menjalin suatu hubungan. Sudahkah memikirkan risiko-risiko itu? Nyantai aja—ambil sisi baik darinya—singkirkan yang kira-kira berefek tidak baik buat kita. Mungkin.

“Uhhhh,” sambungnya dan saya tidak membalas BBM terakhirnya itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s