Cinta dan Agama

Ilustrasi diambil dari: www.thequotepedia.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.thequotepedia.com

Itulah kenapa ada yang berpendapat nikah beda agama itu haram. Tanpa harus saya jelaskan di sini, saya kira masing-masing pemeluk agama mengerti dengan fatwa itu, meski tampak seram, padahal, kan enggak. Sekadar pacaran silakan saja, tapi  jangan serius amatlah, seperti tidak ada orang lain yang seagama yang baik dan pengertian.

Kalau Anda suka bahkan menaruh cinta kepada seseorang yang beda keyakinannnya dengan Anda, ya tahan sebentar rasa itu—sambil berpikir keras, layakkah perasaan itu Anda wujudkan? “Tak ada yang bisa menghalangi cinta kita walau dipisahkan dengan agama dan keyakinan!” Sungguh bulsit andai ada yang bilang kayak gitu.

Seseorang yang memegang teguh ajaran agamanya dengan baik, tentu tidak sembarangan dalam menentukan masa depannya. Kalau sekadar cari teman atau sahabat, bolehlah dari orang beda agama, tapi untuk pacar atau calon istri/suami, tentu mau yang seagama, kan? Bukan orang di luar agama yang dia anut, to?

Siapa bilang bercinta tak perlu logika? Justru, berlogikalah dalam jalin cinta. Hei, jangan melulu ikutin perasaan, ya. Kaucinta sama dia yang beda agama. Kaumau nikah sama orang yang prinsip dan keyakinannya beda? Mau? Kecuali ego cinta kaulebih tinggi dibanding prinsip beragama kau.

Cinta, itu pun harus bersanding dengan agama. Kau berpikir cinta saja, tanpa menyandingkan agama, rasanya kau nanti akan kecewa—meski yang merengkuh kedua-duanya (cinta dan agama), juga tak lepas dari rasa kecewa. Dengan kata lain, kekecewaan akan mampir kepada tiap orang—mau bergama mau tidak.

Terlepas agama apa yang kauanut, sungguh berat agama yang tercantum di KTP-mu. Dan kau tentu paham, tatatertib agamamu yang mengatur soal pernikahan? Kalau tidak paham, wajar karena kauselama ini menganggap agamamu sebagai topeng semata. Salah? Tidak salah! Prosesnya memang seperti itu.

Kalau agama bisa bikin hidup kauterarah, kenapa kautak ikuti anjurannya? Bila tidak senang atau kurang srek dengan kitab yang kauyakini, lalu buat apa beragama. Iya, kan? Beragama tak harus kaku, tapi kalau sudah menyangkut prinsipil, misalnya soal nikah, apa juga kauenggan hadirkan agama di sana? “Mikir!” Begitulah Cak Lontong selalu mengingatkan.

Sudahlah, saya tak begitu paham soal cinta. Agama pun jauh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s