Men-Cret

Picture taken from: www.necturajuice.net

Picture taken from: http://www.necturajuice.net

Nulis itu kayak ngobrol. Ngobrol sesuatu kepada orang lain tentang berbagai hal—baik itu yang penting maupun tidak. Kali ini saya mau ngobrol tentang yang tidak jauh-jauh dari diri saya. Dan tampaknya tidak penting. Kalau sekira tidak penting, kenapa ditulis? Saya memang suka menulis hal-hal yang tidak penting.

Saya ini orangnya bandel. Sulit nurut dengan nasihat orang lain. Iya di mulut. Oke di gestur. Sip di sms. Dan menyatakan terima kasih kepada teman-teman yang telah beri saran, tapi sebetulnya agak sulit melaksanakan nasihat itu—padahal itu SANGAT PENTING buat saya. Ada apa dengan saya?

Pekan lalu, Rabu-Kamis saya tidak masuk kantor  karena sakit. Senen-nya, selepas pulang kantor saya beli cuanki—yang menurut saya super pedas. Padahal, saya tahu saya ini punya riwayat maag, terus kalau makan sesuatu yang pedas suka berakhir dengan mencret (sejak kuliah suka gitu). Semangkok cuanki pun habis, yang tersisa cuma sedikit kuahnya.

Sekira dua jam setelah makan cuanki, barulah saya makan malam. Biasa. Nasi ditemani ayam goreng—yang juga ada sambalnya—walau tidak pedas. Alhamdulillah kenyang. Malam itu, keadaan perut masih biasa. Normal. Namun, keadaan berubah saat saya sedang berada di kantor keesokan harinya atau Selasa.

Selepas asar, satu jam sebelum habis jam kantor, saya menyeduh minuman rasa jahe (yang biasa dijual di warung) dengan maksud—siapa tahu tubuh saya bugar dan jauh dari ngantuk. Secangkir minuman rasa jahe pun berhasil masuk lambung. Sejam kemudian, atau saat pulang ke kosan, kok perut saya terasa enggak enak. Kembung.

Saya cuekin saja protes yang ada di dalam perut. Saya banyakin minum air saja malam itu—siapa tahu kalau disiram air bening, isi perut jadi adem, hening, dan enggak banyak protes. Saya pun memutuskan cepat-cepat tidur dan berharap esok pagi saya bugar dan bisa tetap ke kantor.

Tengah malam saya bangun. Badan panas, tapi juga menggigil disertai nyut-nyut di kepala. Saya cari selimut dan saya pun menambah satu baju lagi di badan. Saking dinginnya. Mana di kamar sendirian. Duh, gimana kalau saya mati sekarang, ya? Sempat pula pikiran saya begitu malam itu—entah pukul berapa. Saya tidurkan lagi. Tetap enggak enak—walau lama-lama terlelap juga dengan tubuh panas.

Pukul 06.00 saya baru bangun yang sebenarnya. Pas azan subuh sebetulnya saya buka mata, menggeliat perlahan, tapi enggak kuasa duduk atau berdiri. Badan pegal semua. Kepala masih sakit. Badan masih panas. Masuk enggak, ya ke kantor. Masuk enggak, ya. Pekerjaan numpuk, lho. Malu kalo enggak masuk!

Sebelum pukul 07.00—walau dengan agak sungkan, segan, dan sedikit deg-degan, tapi pasrah—saya coba kirim pesan via WA ke manajer saya di kantor. “Salam. Izin hari ini, Bos. Terasa demam.” Sebetulnya bukan demam, sih—sebab kalau saya bilang saya ini mencret, ah betapa malunya nanti saya ketika masuk kantor. Bahan kena BULLY. “Ganteng-ganteng, kok sakitnya mencret! Uh, enggak level!”

Saya katakan saja demam ke atasan. Saya enggak bohong. Akumulasi dari pegal, sakit kepala, mencret, kan tentu ke demam, to? Teman saya bilang kalau demam itu bukan penyakit, tapi…ah saya lupa apa penjelasannya.   Panas badannya (suhu badan lebih tinggi daripada biasanya, umumnya karena sakit). Begitu penjelasan kata “demam” menurut KBBI yang saya baca.

Setelah saya kirimkan pesan itu ke atasan, saya langsung ke jamban—karena merasa perut tambah kembung dan ingin buang air besar. Smartphone saya bawa ke jamban. Saya pikir, enggak asyik ke jamban enggak bawa alat komunikasi sepintar itu. Tiba-tiba, saat sedang asyik memainkan keran air di tempat berkeliarannya ide itu, ada pesan masuk,”Ok.”

Ya, itu pesan dari manajer saya. Saya sedikit lega. Jawaban “oke” saja sudah cukup, sebab kalau dia malah tanya ini itu—saya juga bingung mau jawab apa nanti. Ya udah, tak lama saya keluar jamban sambil menepuk-nepuk kanan-kiri perut saya. Ternyata masih kembung. Dan barusan, di jamban itu yang keluar dari perut saya cuma cairan. Ceeeeeeeer. Lancar. Mencret!

Saya tidurkan lagi. Masih enggak enak perut saya. Kepala masih sakit. Celengan berbentuk ayam terbuat dari plastik saya bedah. Saya agak sedikit gembira—walau isinya Rp 85.000. Gagal lagi. Gagal lagi. Katanya mau nabung, eh kok dibongkar! Biarlah, nanti beli lagi celengannya, lalu isi lagi. Sekarang beli obat biar sehat!

Saya sendiri di kamar. Semua teman di kosan kerja.  Mereka baru pulang—biasanya jelang magrib. Ceritanya saya kesepian. Ceritanya, lho. Padahal nyatanya di kamar enggak sepi. Musik full walau dari HP. Semut-semut juga berlari-lari kecil di sekeliling kasur saya. Sayangnya, mereka enggak tahu kalau saya sedang enggak enak badan.

Setengah jam kemudian, saya ke WC lagi. BAB lagi—walau ya, tetap gumpalan air saja. Perut tetap kembung. Ya udah nikmati sajalah. Tak pantas ngeluh. Saya udah gede. Saya ke warung padang beli lalap daun pucuk daun singkong plus nasi ditambah kuah dikit yang enggak pedas. Daun pucuk ubi, kata orang  tua dulu katanya baik untuk obat mencret selain rebusan air daun pucuk jambu batu.

Eh, iya, sebelum makan daun pucuk ubi saya lebih dahulu minum susu. Kata teman, susu itu pengganti cairan asam lambung—walau saya agak ragu, bukankah kalau orang yang sedang mencret tak dianjurkan mengonsumsi makanan/minuman manis? Enggak tahulah saya. Pokoknya, semua saran teman-teman saya tampung semua.

Perut saya agak lumayan tenang setelah daun pucuk singkong tenggelam di lambung yang udah beranjak uzur itu. Minimal tidak kembung lagi seperti pada pagi harinya. Mungkin cairan di lambung diserap daun singkong yang mengandung zat besi dan vitamin lainnya itu.

Walau begitu, badan saya masih terasa panas-dingin disertai sakit kepala. Saya agak terhibur karena teman kental saya datang ke kosan jelang magrib. “Bro, ke dokter aja lah yuk bentar lagi. Murah, kok kayaknya ke klinik dekat sini. Paling 35 rebuan.” Saya pikir betul juga sarannya biar sekalian minta surat keterangan tidak sehat andai besok saya belum bisa ke kantor.

Total biaya berobat ke klinik malam itu Rp.50.000 dengan enam jenis obat. Bila dirinci, ya di sana ada obat mencret, sakit kepala, antibiotik, panas, dan dua lagi obat lambung. Dari enam jenis itu, saya hanya minum obat mencret, sakit kepala, penurun panas, antibiotik. Lainnya disimpan aja.

Sekali lagi, saya ini bandel. Teman dekat saya paling tahu apa kelemahan saya. “Sudahlah. Lambung kamu itu sensitif, mulai sekarang enggak usah lagi makan bakso, mie, pokoknya yang pedas-pedas, tolong jangan lagi!” Saran itu mulai muncul sejak saya kuliah dan saya jawab,”Aku usahain, tapi tolong jangan goda aku buat lirik tukang bakso, ya!”

Teman lain pun begitu. Mereka rela membaweli saya supaya jaga kesehatan. Jaga kesehatan. Dan jaga kesehatan. “Janji, ya, San mau jaga kesehatan dan jangan makan sembarangan?” Atas nasihat itu pun saya katakan OK SIAP!

Untuk semua orang yang rela beri perhatian ke saya, saya ucapkan terimakasih. Mudah-mudahan kalian tidak bosan, ya. Dan jangan pernah bosan karena mau tidak mau, secara emosional, kita rekat sekali dan tak mudah dipaksa dipisahkan. I love you all!

2 thoughts on “Men-Cret

  1. kalo sakit yang urusannya sama perut emang susah sih jaganya San, punya riwayat maag akut juga tapi paling seneng makan pedes dan minum kopi pait.😀
    Sehat-sehat masbro..😀

  2. kalo anak saya mencret, biasanya saya kasih minum peresan buah sawo muda, sama perutnya dioles campuran gambir+getah pohon jarak..
    tapi tetetp minum obat juga sih huehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s