Saya Ngomong Apa

Gambar diambil dari: www.sodahead.com

Gambar diambil dari: http://www.sodahead.com

Kapan kau merasa bahagia? Aku bahagia saat ada siapa pun merasa sedih. Kapan kau merasa sedih? Aku sedih saat ada orang-orang di sekelilingku atau siapa pun sedang dilanda bahagia. Kapan kau merasa kesepian? Aku merasa diriku sepi manakala di sekelilingku ramai berkumpul saudara-saudaraku dan teman-temanku. Dan, kapan kau merasa terhibur? Aku terhibur tatkala orang-orang yang pernah dekat denganku mereka tak mau lagi mengucapkan kata-kata yang membuatku tertawa.

Hampir tiap hari aku sedih melihat orang lain atau siapa pun bahagia. Tiap waktu pula aku merasa bahagia kala menyaksikan orang-orang di sekelilingku bersedih. Entah kenapa, aku tak pernah merasa bahagia terhadap orang yang berbahagia, siapa pun itu. Aku pun heran, kenapa aku tak ikut sedih di tengah orang-orang yang sedang bersedih. Semacam ada perintah yang mendorongku. “Hai, kau jangan ikut-ikutan atau sok-sok bahagia, deh melihat saudara atau siapa pun bahagia. Kau harus jujur, sebetulnya kau itu sedih!”

Jadi orang jangan munafik–walau sejujurnya aku katakan bahwa sekali waktu aku harus munafik. Di ujung bibir aku katakan iya, tapi sebenarnya di hati mengatakan tidak. Atau aku ucapkan tidak di mulut, sesungguhnya di qalbu berujar iya. Aku kira ini bentuk kewajaran. Kewajaran katamu? Iya, karena aku bukan malaikat. Aku manusia yang pada saat yang lain harus menutupi kebenaran dan membuka keran kejelekan. Aku pikir juga, hidup ini bukan saja melulu harus diisi oleh kebaikan, tapi apa yang disebut tidak baik mestilah ikut menjadi tabungan dalam perjalanan ini.

Tak perlu protes kalau dulu-dulu aku pernah begitu taat kepada ajaran agama dan Tuhan, sementara sekarang aku begitu bebal jalankan titah-Nya–bahkan aku telah menganggap terlalu rajin menemui Tuhan justru kau akan segera diambil dan dimiliki-Nya. Bukankah kau berharap ngekos di dunia ini lebih lama? Dalam soal ini pun, kau mesti jujur–bahwa bermalas-malasan bercengkerama dengan Tuhan, itu membuatmu tambah asyik dan kau tak ada beban katakan,”Nantilah, hari esok masih panjang dan Tuhan tidak pernah tidur! Jadi tenang saja. Jika aku tak menemuinya hari ini, besok Dia pasti ada buatku.”

Pokoknya gampanglah kalau urusan kapan aku harus menemui Tuhan. Aku pikir untuk intim dengan-Nya tak harus di masjid, gereja, vihara, atau tempat-tempat yang dianggap suci oleh kita. Kalau saja menganggap Tuhan hanya berada di tempat yang aku sebutkan tadi, maka tak ada Tuhan di tempat lain. Artinya pula, aku hanya takut Tuhan tatkala sedang berada di tempat-tempat sakral itu–sementara ketika sedang di tempat lain aku tak setaat saat di masjid, misalnya. Hubunganku dan Dia, aku pikir bukan urusan kau. Karena aku tidak yakin kau dapat menyogok Tuhan supaya aku mulus masuk surga dan jangan sampai aku masuk neraka.

Saya ngomong apa di atas itu?

2 thoughts on “Saya Ngomong Apa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s