Rayakan Agustusan dengan Sederhana

Saya tak pernah mengitung sudah berapa tahun persisnya Indonesia ini merdeka. Kalau mungkin ada pertanyaan mengenai ini masuk ke dalam soal tes CPNS tahun ini—saya akan hafalkan dan hitung. Tapi, karena belum pasti masuk tidaknya pertanyaan sudah berapa tahun Indonesia merdeka pada 2014 di soal tes CPNS—maka saya tak perlu mengingatnya. Yang perlu dicatat itu—hingga 2014, apakah kalian sudah benar-benar merdeka secara pribadi?

Saya menulis tentang Indonesia merdeka kali ini karena beberapa teman di kantor mengingatkannya. Karena peringatan kemerdekaan tahun ini tepat pada hari Minggu (17/8), maka salah satu teman kantor mengusulkan,”Kita rayakan momen hari kemerdekaan kita besok (Jumat) saja, gimana? Karena Minggu rasanya enggak mungkin kita ke kantor.”

Teman-teman yang lain, termasuk saya juga ikut memberi masukan mengenai kegiatan apa saja yang sebaiknya diisi pada Jumat besok untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke…?? Baik, kalau gitu saya hitung dulu, ya—kita ini sebenarnya pada 2014 sudah berapa tahun merdeka. O, ternyata setelah saya hitung dengan kalkulator komputer, kita ini—tahun ini memperingati hari kemerdekaan ke-69! Benar, enggak, ya?

Setelah diskusi yang tidak melelahkan dengan beberapa teman kantor dan unsur pimpinan lainnya soal kegiatan apa saja yang akan diisi untuk menyambut sekaligus memperingati 17-an, maka disepakati untuk mengadakan lomba-lomba spontanitas yang sifatnya menghibur. Di antaranya: makan kerupuk jengkol, mengambil/menggigit koin di pepaya, dan balap sendok pake kelereng. Tarik tambang dan panjat pohon salak tidak dikabulkan—padahal itu usul saya.

Sebelum lomba-lomba spontanitas itu dilaksanakan, pada pagi harinya kami harus mendengarkan sambutan dari ketua panitia kegiatan dadakan ini. Terus, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan puisi bertema perjuangan oleh salah satu dari kami, sharing cerita tentang pengalaman ber-Indonesia dan ber-negara dari masing-masing kami, sharing dari pimpinan perusahaan, dan terakhir ditutup doa sebagai rasa syukur karena kita telah hidup di bumi Indonesia yang merdeka yang dipandu oleh salah satu rekan kami.

Begitulah kegiatan kami menyambut hari merdeka di tahun ini. Sederhana. Dan semoga tetap bangga menjadi orang Indonesia yang telah merdeka 69 tahun. Bagaimana pun keadaannya Indonesia, siapa pun pemimpinnya—secara pribadi saya bangga dan tidak ada niat untuk pindah kewarganegaraan—seperti yang saya dengar dari beberapa anak bangsa ini—jika presidennya dipimpin anu, maka mereka akan memutuskan pindah negara.

Semoga jadi mereka pindah negara—sebab Indonesia tidak butuh orang yang berwatak demikian hanya karena capres-cawapres yang mereka pilih saat Pilpres kemarin belum ditakdirkan menang. Ya sudahlah. Tak usah lagi ngomongin soal capres-cawapres. Kita tunggu saja hasil keputusan para hakim MK memutuskannya nanti.

Rasanya tak cukup kita meneriakkan kata-kata,”Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Akan lebih merdeka bila kita berupaya melakukan upaya-upaya kebaikan—bukan saja bagi diri kita, tetapi buat bangsa tercinta ini. Tak perlu jauh-jauh berpikir, misalnya,”Apa yang bisa kita berikan buat bangsa ini?” Sebelum berbuat untuk bangsa Indonesia, lebih baik kita berbuat untuk kebaikan diri kita, keluarga, pacar, calon istri/suami. Yang paling penting dari semua itu, merdekakan terlebih dahulu hatimu sebelum memerdekakan yang lain.

Merdeka hatimu, merdeka Indonesia!

One thought on “Rayakan Agustusan dengan Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s