Kautahu Apa yang Kumau

Foto bus diambil dari: www.bismania.com

Foto bus diambil dari: http://www.bismania.com

Horeee. Saya akhirnya jadi mudik pada H-5 lebaran. Dan mudah-mudahan hari raya tahun ini jadwalnya serentak. Lalu yang menggembirakan itu—saya dapat kursi bus sesuai yang saya ingini: kursi nomor 2. Begitu mudah saya mendapatkan kursi duduk paling depan itu. Padahal, saya baru pesan tiket dua minggu ke belakang—waktu yang tak memungkinkan lagi bagi saya dapat tiket nomor segitu. Namun, Tuhan tahu apa yang kumau.

Sedari awal saya sudah cetuskan dalam hati, pokoknya kalau saya mudik pakai jasa bus tahun ini—duduknya mesti di depan. Enggak mau kursi yang di tengah, belakang, atau paling belakang sekali. Pastinya, sungguh tak enak duduk di kursi bus yang saya sendiri tak ingini—walau jelas-jelas bus itu AC EXECUTIVE! Duduk di kursi depan itu lebih asyik. Saking asyiknya, saya tak sanggup menggambarkannya.

Lagi pula untuk apa saya capek-capek menggambarkan atau menjelaskan manfaat  atau kelebihan duduk di kursi bus di bagian depan dan kekurangnnya duduk di kursi bagian tengah, belakang, atau paling belakang. Saya kira enggak ada gunanya, selain hanya akan dianggap berlebihan. Toh, tiap orang yang sering gunakan jasa bus untuk sebuah perjalanan—mereka tahu seperti apa suasananya, baik itu yang duduk di kursi bagian depan maupun di belakang.

Jadi ceritanya dua minggu ke belakang itu—sepulang kerja saya mengajak seorang teman dengan niat minta ditemani membeli tiket bus buat mudik ke Kota Bengkulu. Meluncurlah kami ke loket bus Siliwangi Antar Nusa (SAN)—yang terletak di By Pass—nama lain jalan Soekarno-Hatta (bukan Prabowo-Hatta, lho! Apalagi Jokowi-Kalla). Saya tanya ke petugas loket masihkah ada kursi kosong buat ke Bengkulu tanggal 24,25, atau 26 Juli? “Penuh, Om!” katanya.

Foto tiket diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/

Foto tiket diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/

Petugas loket itu kembali katakan, ada kursi tanggal 26 Juli, tapi di belakang. “Mau enggak? Soalnya semua kursi bus udah pada dibuking semua. Eh, iya, tapi ini yang tanggal 24 ada kursi di depan nomor 1 dan 2 yang dibatalkan. Kalau mau mah ini aja atuh ganti yang batal. Gimana?” Pernyataan terakhir itu yang membuat saya suka. Andai itu ditulis oleh seseorang di status facebook, demi Tuhan—saya bukan hanya meng-klik LIKE, tapi juga ikut berkomentar.

Saya bilang ke petugas loket bus itu kalau saya mau mikir dulu sembari menghubungi teman saya yang di Jakarta—yang katanya dia juga mau mudik sekitar tanggal 24, 25, atau 26 Juli. Saya BBM teman saya yang di ibu kota itu kalau mau mudik bareng saya tanggal 24 Juli—karena selain tanggal itu kursi bus SAN sudah full dan saya tambahkan ke dia, tanggal 24 Juli itu ada dua kursi kosong di depan: 1 dan 2. Dan, sesuai yang saya prediksi, teman saya itu setuju.

Tak berapa lama, saya langsung bilang oke ke petugas loket kalau saya jadi pesan dua kursi di depan yang batal itu. Dia balas mau bayar lunas atau mau bayar depe berapa. Ya sudah saya bayar depe saja dulu dua tiket itu masing-masing Rp. 100.000. Ongkos bus per-orang Rp. 550.000–naik dibandingkan hari biasa yang Rp. 330.000 per-orang Bandung-Bengkulu atau sebaliknya. Jadi, Rp. 900.000 lagi sisanya akan saya lunasi  pada hari keberangkatan: 24 Juli!

Dan mungkin teman-teman belum tahu, apa doa saya sebulan sebelum saya pesan tiket bus malam itu. Sebagiannya mungkin sudah tahu karena sedikit sudah disinggung pada tulisan saya sebelumnya. Makanya, ketika saya berhasil dapat kursi bus di depan—entah, ini sebuah kebetulan atau doa saya yang terkabul. Tuhan sajalah yang lebih baik mengetahuinya.

“Tuhan, saya ini mau mudik tahun ini pake bus SAN ke Bengkulu. Aku mau Kau beri aku kursi yang di depan. Kalau enggak nomor 1, ya nomor 2. Tolong, ya Tuhan. Andai kursi itu telah dipesan orang lain, batalkanlah keberangkatan mereka pada hari itu, ya, Tuhan. Pokoknya, aku enggak mau dapat kursi di tengah, belakang, atau paling belakang saat mudik nanti. Oke, Tuhan, tolong, ya. Bukankah Engkau Maha Segalanya? Aku tunggu keputusannya, ya…”

2 thoughts on “Kautahu Apa yang Kumau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s