Tamu Lancang Itu Bernama Sariawan

Ilustrasi diambil dari: www.health.kompas.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.health.kompas.com

Yang paling enggak enak dan paling saya hindari itu sakit gigi dan sariawan. Sekeras apapun usaha saya untuk menghindari tamu yang amat menjengkelkan itu, tetap saja mereka datang tanpa permisi terlebih dahulu. Pokoknya saya kesel ke mereka! Dan, sudah dua hari ini saya disinggahi sariawan. Kau tentu tahu betapa sengsaranya mulut saat sariawan itu bertengger di dinding bibir, sekitar lidah, dan langit-langit tenggorokan.

Anehnya, sejak saya berada di Bandung–entah mengapa saya makin intens terkena sariawan. Kalau saya hitung-hitung setidaknya tiap dua minggu sekali saya mengalami bisul di sekitar mulut itu. Dan, biasanya, sariawan itu bertahan di mulut saya sekitar seminggu, bahkan lebih. Ia akan segera pergi kalau saya intens konsumsi jeruk, vitacimin, banyak makan sayur, dan rajin mandi sebelum subuh sembari gosok gigi.

Kalau enggak kayak gitu, uh–sariawan bisa sampai dua minggu. Saya juga heran, betapa betahnya dia bermukim di lingkungan mulut saya yang gersang. Yang saya tahu, sariawan yang menempel di sekitar mulut saya ini ada beberapa titik. Bibir bagian dalam di kanan kirinya, di bawah lidah, gusi, dan beberapa titik di punggung lidah. Waduh, sengsaranya minta ampun pokoknya, Bro! Mau bercanda saja rasanya saya enggak sanggup. Apalagi mau sekadar buka mulut. Seratus persen saya akan diam enggak berkutik kalau si sariawan sudah bertamu.

Padahal, saya merasa kebersihan mulut saya terjaga, kok selama ini. Apalagi, saya hampir tak pernah lupa gosok gigi, baik sebelum tidur maupun setelahnya. Belum lagi ditambah dengan cairan pencuci mulut semisal Laserin dan sejenisnya untuk berkumur. Walau begitu, selama ini pun saya belum rela meninggalkan kebiasaan makan gorengan. Di luar bulan puasa, pastilah saya jarang absen beli gorengan tiap pagi di kantin kantor. Bukan apa-apa, bagi saya gorengan itu sudah jadi camilan wajib sejak saya masih SD.

Ah, entahlah. Yang jelas sedari tadi malam saya begitu ripuh karena susahnya berdamai dengan sariawan. Sore jelang magrib, saya ke apotek beli Albothil dan vitacimin. Biasanya, kalau berkumur dengan air yang telah dicampur tetesan Albothil kepedihan di mulut karena sariawan sedikit berkurang. Minimalnya, kalau saya makan setelah magrib, mulut saya tidak tegang saat menerima kafilah nasi dan lauk yang akan diremukkan di lapangan mulut untuk kemudian dikirim ke terminal lambung.

Untungnya, di kulkas rumah ada sisa satu jeruk. Saya pikir buah itu yang bakal menjadi senjata tambahan saya buat melumpuhkan tamu yang tak pernah diundang itu. Dan, pagi ini para tamu lancang itu belum juga beranjak pergi dari ruang tamu mulut saya. Entah percaya atau tidak, si tamu itu kini bahkan semakin melunjak. Mereka malah ngacak-ngacak kamar tidur, ngotorin piring, numpahin sisa sayur, dan melakukan yang bikin saya jengkel! Ah, ternyata Albothil dan jeruk belum mampu meracuni mereka. Dengan tidak terpaksa saya harus berdamai dengan para tamu itu, entah sampai kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s