Kunci Tak Hafal Terpaksa Murattal

Hal yang paling menegangkan di antara yang tegang adalah ketika saya diminta ngaji atau baca Quran di suatu acara yang dihadiri banyak orang. Bukan apa-apa, tapi saya benar-benar hampir lupa sebagian kunci-kunci lagu tilawah itu. Atau biasa disebut tausikh. Apalagi sudah sekitar 3 tahun saya tidak lagi mengulang kunci lagu dalam tilawah Kitab suci itu.

Dan kemarin, kantor saya mengadakan buka puasa bersama. Seperti biasa, sebelum menikmati acara intinya, kami para karyawan dan pimpinan perusahaan mesti mendengarkan terlebih dahulu siraman rohani dari seorang ustad–yang seolah-olah rohani kami ini bermasalah. Nah, supaya acara kami kian berkah–sebelum penceramah naik mimbar, tentu harus ada pembacaan kalam ilahi dulu. Dan kebetulan saya yang dipercaya untuk itu.

Saya tidak kuasa menolak saat pertama kali ketua panitia kegiatan tersebut menunjuk saya untuk baca Quran pada acara buka puasa bersama di kantor saya. “Kamu siap-siap besok ya tilawah Quran. Putri sebagai sari tilawahnya. Yang rapi, ya pakaiannya. Kalau bisa pake baju koko dan berpeci.” Begitu saran panitia kepada saya yang saya tak berani menolak kalau saya ini sebenarnya malu kalau harus tampil di hadapan audiens. Yang paling mengkhawatirkan dari sekadar malu adalah saya sudah lupa kunci lagu tilawah.

Hafal kunci lagu tilawah itu penting. Tapi yang lebih penting adalah kualitas suara dan memiliki nafas yang panjang saat mendendangkan ayat suci–saya kira jauh lebih penting. Nafas pendek dan tak hafal kunci lagu, itulah problem saya sejak dulu sampai sekarang. Kalau suara, bolehlah saya katakan suara saya ini agak mirip-mirip qori kenamaan kita, Muammar ZA atau Chumaidi. Hahahah. Ya, maunya bagitu. Tapi mana mungkin saya bisa menyaingi atau menyamai kualitas vokal suara mereka. La wong latihan saja jarang!

Daripada saya ragu baca Quran berirama, maka lebih baik saya bacanya dengan gaya murattal saja. Gaya biasa. Nyantai dan enggak perlu atur nafas secara teratur. Dan itu saya praktikkan kemarin. Apakah kalau saya baca Qurannya dengan gaya murattal nanti akan mengecewakan para hadirin? Nah, itu dia yang semalaman menggangu benak saya. Kalau mereka kecewa, kan saya yang malu. Apalagi acara itu dihadiri para CEO, komisaris, manajer, dan semua karyawan yang ada di Kota Bandung dari berbagai lini dan divisi. Akhirnya, walau agak sedikit pesimistis, bismillah saya putuskan ngajinya bergaya murattal saja. Terserah mau apa tanggapanya setelahnya.

Ya sudah, kemarin itu saya benar-benar telah menunaikan kewajiban saya baca Quran. Rasanya itu seperti bisul pecah kalau sesuatu yang saya lakukan itu kelar–walau tak tahu hasilnya seperti apa. Sejak saya selesai membacakan kalam Ilahi, belum ada saya dengar–utamanya dari teman-teman di kantor maupun salah satu pimpinan di perusahaan saya komplain atas penampilan saya beberapa menit itu.

Apakah mereka segan untuk mengkomplain saya atau bagaimana, ya? Sebab, saya sendiri merasa penampilan saya kemarin itu kurang greget–apalagi, seperti saya katakan sebelumnya, saya lantunkan sebagian ayat suci itu dengan bermurattal tidak dengan berirama. Atau misalnya, saya lebih suka ada yang mengingatkan,”Eh, loe tadi bacaannya kurang pas. Pelafalan hurufnya keliru, seharusnya bukan itu tapi begini. Dan lain kali kalau di acara besar seperti ini baca Qurannya pakai lagu, ya. Pakai murattal itu kurang cocok, kecuali buat ngaji untuk pribadi di rumah.”

Tapi ya sudahlah. Saya pun, eh ini rencana lama sebetulnya–ingin sekali belajar kembali atau istilahnya kursus lagi seni baca Quran berirama yang baik dan pas–entah di pesantren maupun kepada teman yang memang mahir. Supaya kalau suatu saat saya diminta lagi untuk baca Quran saya lebih siap membacanya dengan lagu berirama tidak dengan murattal. Semoga.

Iklan

One thought on “Kunci Tak Hafal Terpaksa Murattal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s