Keluarga Sabtu, Saya Minggu

Ilustrasi diambil dari: www.konsultasisyariah.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.konsultasisyariah.com

Keluarga besar saya itu berlatar Muhammadiyah. Jadi malam ini mereka mulai tarawih. Sedangkan pemerintah telah menetapkan bahwa puasa ramadhan tahun ini jatuh pada 29 Juni 2014. Saya sendiri ikut yang mana? Saya ikut pemerintah saja-supaya lebih semarak, begitu kata orang awam.

Sama seperti tahun yang lalu, awal puasa tahun ini saya tidak bersama keluarga besar. Mereka di Bengkulu, sementara saya sekarang ada di Bandung. Saya baru akan mudik-bila tak ada aral melintang, ya nanti pada 25 atau 26 Juli 2014 atau 3 sampai 4 hari jelang lebaran. Mungkin mudiknya naik bus saja. Pesawat bosan. Mobil pribadi enggak mungkin. Motor belum berani. Becak, ya becak siapa yang mau antar saya.

Maunya memang saya ini awal puasa ya di rumah emak dan apak-biar bisa bareng tarawih sekaligus sahurnya. Kayaknya enak gitu kalau bareng mereka–walau ya mungkin menu sahurnya sederhana ala kaki lima. Makan spageti rasanya enggak mungkin. Atau si Ikimura–makanan khas Jepang itu. Biarlah, sama lauk asin dan tumis kangkung yang penting nikmat dan siang harinya supaya cepat ngantuk dan bangun 15 menit jelang beduk magrib.

Saya hanya berdoa saja buat teman-teman blogger–ya utamanya yang tergabung dalam naungan wordpress yang suka puasa kala ramadhan datang, semoga saudara sekalian tetap semangat jalani ibadah selama di bulan berkah ini. Gairah menulisnya tak pernah padam, juga selalu optimistis bahwa ruh ramadhan akan menjadikan saudara sekalian jadi lebih dekat dengan-Nya.

Ya ampun, emak-apak dan semua keluarga saya itu keluarga yang baik. Wajib rasanya saya mendoakan mereka supaya umurnya panjang dan selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Berkah rezekinya. Anak-anak kakak saya Tuhan menjadikannya berbakti. Terus, kepinginnya emak-apak saya ini naik haji–walau antriannya itu sampai 5-6 tahun, saking orang-orang Indonesia ini maniak terhadap rukun Islam ke-5 itu. Kalau harus nunggu lama begitu, terus ada cukup duit, ya lebih baik umrah sajalah didahulukan, yang penting nanti sudah pernah lihat hajar aswad dan ka’bah. Makanya, karena ramadhan ini bulan sakral, keluarga saya mesti banyak berdoa apapun yang diinginkan.

Eh, iya. Dua kawan saya di kosan tetiba ngajak saya sahur. Saya bilang ayo saja, tapi kalau paginya saya lihat di dekat kosan ada si bibi jualan nasi kuning, saya tetap beli buat sarapan sebelum pukul 10 pagi. “Iya enggak papa. Yang penting kamu temenin kami sahur. Kamu nanti mau neruskan puasa atau enggak, kami enggak rugi, kok! Tapi minimal Tuhan telah mencatat, bahwa kami telah beramal.” Begitu kata salah satu teman saya–yang sebetulnya saya jengkel sekali mendengarnya.

Okelah. Saya lelah dengan dunia di sekitar saya. Lebih capek lagi karena salah satu teman yang katanya mau sahur nanti sebelum azan subuh, mengatakan bahwa pada 9 Juli mendatang bakal milih salah satu dari capres-cawapres yang dia jagokan, tetapi diujung obrolan dia memandang negatif capres-cawapres lain dan katanya haram kalau memilihnya. Saya benar-benar capek mendengarnya. Karenanya saya mau tidur sekarang dan mau bangun kalau dibangunkan buat sahur.

One thought on “Keluarga Sabtu, Saya Minggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s