Berteman dengan Beda Agama

“Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu…” (Gus Dur)

Ilustrasi diambil dari: www.hidupkatolik.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.hidupkatolik.com

Perbedaan agama dan keyakinan tak menghalangi saya untuk berteman akrab dengan mereka. Saya yang notabene beragama Islam keturunan—sampai hari ini telah mengakrabi paling tidak empat orang yang berbeda keyakinan. Tiga orang beragama Kristen, adapun yang satu lagi Hindu. Beberapa bulan lalu nyaris akrab dengan orang yang beragama Budha—tetapi entah kenapa, tampaknya dia mundur teratur dan hilang kontak.

Sudah sejak kelas 1 SD saya akrab dengan teman yang berbeda agama. Eko Kristianto, misalnya—dia teman akrab saya sejak kelas I-VI SD. Saking akrabnya, saya sering pinjam duit sama Eko untuk jajan di sekolah—kalau kebetulan emak saya tak membekali duit. Dia pun begitu sering minjam duit ke saya, tetapi sayangnya saat gilirannya pinjam duit—eh saya yang malah sedang tidak ada duit. Walau begitu kami tetap akrab sampai kami tamat SD.

Bukan hanya Eko yang menjadi teman akrab saya saat SD. Dua teman perempuan, Betty dan Maria juga satu angkatan. Bedanya, kedua cewek itu beda kelas. Saya dan Eko berada di kelas A, sementara Betty dan Maria di kelas B. Bedanya lagi, selama kenal sama dua cewek berwajah imut itu (masih kah sekarang imut?)—saya hampir tidak pernah meminjam duit sama mereka, kecuali saling tolong dalam bentuk lain. Saya merasa, memiliki teman yang berbeda keyakinan itu asyik—walau saya baru merasakannya 7 tahun terakhir ini.

Selama mengenyam SMP-SMA, saya hampir tidak menemukan teman yang berbeda agama. Sebab, kedua sekolah tersebut bukan sekolah umum melainkan sekolah yang berbasis agama. Ya agama Islam. Meski begitu, saya tetap punya teman “singkat” yang berasal dari sekolah di bawah yayasan agama Kristen—Sint Carolus. Meymey namanya. Berwajah Tiongkok kelahiran Bengkulu. Saya kenal dia karena sering satu angkot kalau berangkat ke sekolah. Mey, kamu di mana sekarang?

Saat kuliah adalah masa-masa saya lebih dekat dengan orang-orang yang agamanya berbeda dengan saya. Maklum, kalau aktif di organisasi ektra kampus, biasanya banyak berhubungan dengan kampus lain dan mahasiswa yang berbeda. Banyak kegiatan. Diskusi, jalan-jalan bareng, dan kegiatan sosial. Suatu kali, teman satu kampus mengajak saya menghadiri sebuah acara di gereja. Pembicaranya adalah dua sastrawan kenamaan: Seno Gumira Ajidarma dan Acep zamzam Noor.

Yang menarik, sebelum acara pemaparan sekitar proses kreatif mereka dalam mencipta karya sastra, sebagian peserta ada yang salat Magrib terlebih dahulu di sebuah ruangan di sebelah kanan gereja yang masih satu kompleks. Saya tak menyangka kalau di kompleks bangunan gereja tersebut terdapat ruang salat. Saya pun akhirnya ikut salat di sana. Yah, pengalaman keberagamaan yang menarik.

Sementara saat saya terjun di dunia kerja—selepas kuliah—pun saya bertemu sekaligus berteman akrab dengan orang yang berbeda keyakinan. Saya pun—lagi-lagi mendapatkan sesuatu—yang mungkin tidak didapatkan oleh orang lain. Saya ,malah bisa berdiskusi dengan mereka—utamanya kenapa mereka sampai memilih kalau agamanya itu benar.

Yah, pokoknya asyik lah. Saya berterimakasih kepada mereka yang telah mewarnai hidup saya dengan berbagai hal. Dan, saya punya prinsip akan selalu menjalin pertemanan dengan orang-orang yang berlatar belakang apapun, baik suku, agama, ras, dan lain-lain. Pastinya, selagi mereka itu manusia, saya siap menerima mereka. Kalau dengan orang gila?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s