Enggak Berani Selingkuh

Suatu malam, teman kosan iseng tanya ke saya, ”San, kamu berani enggak selingkuh?” Saya juga heran kenapa teman saya itu bertanya seperti itu. Apakah dia ada indikasi ingin berselingkuh dari pacarnya yang kini telah dipacarinya hampir 3 tahun—padahal, katanya awal tahun depan mereka akan menikah? Semoga indikasi itu tidak benar.

“Lho, kenapa ente tanya begitu ke saya? Ente mau jajal selingkuh, ya? Udah bosan, ya sama pacar yang sekarang?” Saya balik tanya begitu ke teman saya sembari menunggu apa jawaban sebenarnya dari dia. Sebelum dia jawab, saya lebih dulu katakan, ”Sampai hari ini aku enggak ada niat sama sekali untuk berselingkuh dari pacar saya, Bro!”

“Bukan begitu. Saya mah tidak berani dan takut kalau selingkuh itu. Soalnya, kalau saya atau kamu selingkuh, saya takut, nanti anak atau cucu kita pun akan berbuat sama dengan apa yang pernah kita lakukan. Soalnya, apa yang diperbuat seorang ayah/ibu, itu pasti akan menurun kepada anak-anaknya kelak!” lontarnya memberi efek kejut.

O, artinya kawan saya ini cuma ngetes saya aja, to? Dan, sebetulnya dia pun tak ada niat sama sekali untuk berselingkuh karena alasan khawatir dengan hukum karma. Atas alasannya dia tak ingin berselingkuh, saya belum percaya 100%. Tapi saya salut dengan alasannya tidak mau berselingkuh. Minimal, ia bisa menjaga hati dan perilaku.

Prinsip saya, saya katakan ke dia, ”Kalau sudah suka dengan satu cewek atau sudah punya pacar kepada si A misalnya, ya udah jalani dulu dengan benar dan sepenuh hati. Jangan main-main. Wanita atau pria mana yang suka dipermainkan, coba? Kecuali di tengah jalan tiba-tiba ada ketidakcocokan dia antara kita dan berakhir pisah, itu soal lain. Nah, barulah kalau mau pindah ke lain hati. Bagi aku, selingkuh itu no!”

Kawan saya tadi menimpali, ”Justru saya bersyukur karena pacar saya masih setia dan baik sama saya. Padahal, kalau kamu tahu, sebenarnya pacar saya itu jadi rebutan cowok-cowok lain, lho? Makanya, saya bersyukur banget punya dia, walau—kau tahu wajah saya biasa-biasa saja—ganteng jauh, jelek pun tidak!” ungkapnya jujur.

Saya katakan lagi ke dia sambil menyeruput kopi. “Sebetulnya, bagi cewek yang setia, dia pun berpikir sama, enggak mau berselingkuh dari cowoknya. Dan aku yakin, tampaknya pacar ente itu tipe wanita setia. Buktinya, kan sampai sekarang dia begitu sayang sama ente. Sama seperti ente, tiap hari ente antar jempu dia ke sekolah.”

Saya pun begitu. Saya yakin, walau saya dan pacar saya dipisahkan dengan jarak—saya yakin dia tidak berani untuk berselingkuh, walau sebetulnya, mungkin niat itu ada (isi hati seseorang siapa yang tahu). Saya pun begitu, hati terkadang kerap digoda, ”Cewek loe kan jauh, udah cari juga di sini!” Untungnya, saya bisa menangkal segala godaan itu. Satu yang saya lakukan: berpikir positif.

Sekarang, saya katakan ke kawan saya itu, ”Ada niat enggak kira-kira ente mau selingkuh?” “Ah, enggak lah! Saya, kan udah tunangan, Bro!” jawabnya sambil melanjutkan menulis sebuah artikel yang akan dikirimkan ke koran lokal karena isi dompetnya mulai menipis.

Iklan

4 thoughts on “Enggak Berani Selingkuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s