Masa Depan? Woles aja Keles

Ilustrasi diambil dari: www.m.bisnis.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.m.bisnis.com

Kenapa banyak orang selalu mengkhawatirkan masa depan? Padahal, siapa yang bisa jamin kalau nanti siang, sore, malam, atau besok saya ini masih bisa menghirup udara yang kian tercemar ini? Sebab itu, saya tak pernah khawatir akan masa depan saya akan seperti apa nantinya. Saya akan ikuti saja alur kehidupan ini apa adanya tanpa beban. Enjoy your life, Guys!

Kalau saja saya ini hidup, lalu masih ribet memikirkan masa depan, lalu kapan saya menikmati indahnya dunia ini? Hidup ini bukan melulu soal masa depan, tetapi soal bagaimana kita menjalaninya. Terlalu mendalam memikirkan masa depan, menurut saya hanya akan melahirkan manusia yang penuh tekanan. Stres itu pasti. Pusing itu menanti. Makanya, saya tidak mau stres dan tak pula mau pusing.

Ada yang bilang, bukankah hidup itu mesti punya visi jelas dan rencana yang pasti? Pendapat itu tidak patut juga dipersalahkan. Itu ada benarnya. Sebab, orang yang hidupnya penuh rencana—sebagaimana orang-orang yang pernah saya temui, orang seperti itu hidupnya serius. Selera humornya tidak ada dan sulit diajak bercanda. Ini payah. Sementara saya ini woles dan berselera humor—walau tak selucu Sule.

Padahal, sesungguhnya hidup ini tak lain hanya permainan belaka. Bermain-mainlah sepuasnya sampai saya—atau barangkali kita merasa puas. Baik itu puas—yang menurut orang berada di jalur benar ataupun di jalan agak sedikit tidak benar. Selagi saya puas atau Anda setelah melakukannya, kenapa tidak dipertahankan? Nikmati permainannya.

Satu lagi. Orang yang hidupnya penuh tekanan alias stres, tentu dia jauh dari kebahagiaan. Lantaran jauh dari rasa bahagia, maka ia sangat dekat dengan kematian. Tuhan akan mudah menurunkan semacam penyakit terhadap orang—yang tingkat kepusingannya melebihi kewolesannya. Misal, ia tetiba terkena struk, jantungan, diabetes, dan penyakit lainnya.

Orang yang mengalami tekanan psikologis alias stres, ia menganggap, bahwa ia sendirilah orang paling sengsara di dunia—sementara orang lain bahagia. Padahal, di luar sana—entah siapa terdapat orang yang lebih sengsara hidupnya dibandingkan orang tadi. Salah satu obat paling mujarab dari semua kesengsaraan hidup adalah selalu berucap syukur. Yakinlah.

Saya tidak menyesal dilahirkan menjadi manusia yang berbeda di dunia ini. Berbeda dalam cara pandang terhadap sesuatu, termasuk cara menyikapi bagaimana memaknai hidup ini secara sederhana. Dua kuncinya kalau mau hidup ini—justru bikin saya atau siapa pun berbahagia dan tak banyak beban: bersyukur dan bersabar. Apapun dan bagaimanapun keadaan yang menimpa, saya berusaha memegang erat kedua kunci tersebut.

Apakah saya ini sudah termasuk hamba yang pandai bersyukur dan selalu sabar? Saya tidak bisa menjawab “ya” atau “tidak”, tetapi paling tidak saya meyakini betapa dahsyatnya dua kunci itu bila saya praktikkan dengan sepenuh hati tanpa minta dipuji oleh siapa pun. Sekali lagi, saya tidak khawatir dengan masa depan saya. Apalagi, masa depan adalah misteri.

4 thoughts on “Masa Depan? Woles aja Keles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s