Enggak Kampanye Hitam Enggak Asyik

Ilustrasi diambil dari: www.Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.  Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik! Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampenya keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu! Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan? Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut: Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik. Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya! Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres. Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!

Ilustrasi diambil dari: http://www.pkspalembang.or.id

Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.

Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik!

Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampanye keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu!

Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan?

Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut:Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik.

Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya!

Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres.

Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!

One thought on “Enggak Kampanye Hitam Enggak Asyik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s