Bukan Catatan Harian Emon

Buku catatan harian pertamaku.

Buku catatan harian pertama saya.

Benar-benar sulit kalau saya harus menulis sesuatu yang saya tidak kuasai. Awalnya, saya ini mau nulis tentang politik. Tetapi, dengan hormat saya harus mengakui bahwa saya belum sanggup mengulas tentangnya. Kalau dipaksakan—saya tahu tentu akan cedera di mana-mana. Lebih baik tidak usah. Saya menulis apa yang saya pikirkan saja. Baiklah.

Saya punya tiga buah buku catatan harian. Ketiganya saya tulis selama saya kuliah tiga tahun lalu. Kalau saya rindu catatan-catatan super lebay saya—maka saya tak segan mengambil satu, dua, atau ketiga catatan harian saya itu. Saya baca sambil ketawa-tawa. Dan itu saya lakukan, biasanya sebelum tidur malam.

Membaca lembar demi lembar catatan harian—sebetulnya saya membuka tabir kebodohan saya masa lalu. O, jadi sekarang saya tidak bodoh lagi? Bukan, maksud saya, bahwa hampir semua isi catatan harian saya itu tidak jauh dari keluhan sehari-hari yang pada waktu itu saya alami. Pokoknya yang ecek-eceklah. Selebihnya puisi yang tidak puitis.

Buku catatan harian kedua saya.

Buku catatan harian kedua saya.

Dan yang ecek-ecek, terus keluhan-keluhan yang ada di dalam buku catatan harian saya itu—ya saya sebut saja semuanya kebodohan saya. Sebaiknya, dulu—saya tidak menulis tentang kegalauan, tapi ya mungkin yang lebih penting dari sekadar galau, misalnya semacam artikel yang biasa dipampang di koran-koran. Memangnya segala kegalauan hati tak penting, ya ditulis? Kata siapa? Saya salah!

Justru—ketika siapa pun ditimpa galau—tak ada cara yang lebih bijak selain menuliskan kegalauan tersebut—bisa di diary, leptop, blog, atau di selembar kertas yang ada di atas meja. Tuliskan dengan jujur ketidakenakan hati itu segera! Dengan begitu, kata beberapa seumber yang pernah saya baca—ternyata bisa menyehatkan dan mengurangi stress. Ya buktikan sendiri kalau enggak percaya.

Yang saya sayangkan—sampai detik ini pun saya masih belum bisa meninggalkan kebiasaan saya menulis catatan harian. Bedanya, kalau sekarang saya menulisnya tidak tiap hari atau jelang tidur malam seperti ketika saya sedang kuliah dulu—tetapi setiap tanggal 9 tiap bulannya. Kebetulan buku itu hampir penuh dan harus beli lagi buku baru.

Buku catatan harian ketiga saya.

Buku catatan harian ketiga saya.

Saya, sih sempat berpikir—bahwa apa yang saya lakukan ini tak ada gunanya sama sekali—bahkan memalukan. Mana ada cowok lain—teman-teman  saya—yang  kelakukannya sama kayak saya? Entah kalau para cowok lain di luar jangkauan saya. Biarlah, saya mau egois sebentar: mereka ya mereka, saya ya saya.

Saya pun tidak pernah berpikir untuk apa pada akhirnya catatan harian saya itu. Pokoknya nulis ya nulis aja. Setidaknya, buku-buku catatan harian saya itu akan saya kasih tahu kepada anak-anak saya. “Nak, tahu gak kalau ayahmu ini sebetulnya lebay, lho? Ni buktinya, ayah punya catatan-catatan kelebaian di buku ini. Baca, ya, Nak!”

Tapi ingat, ya. Saya ini bukan AS alias Emon pelaku pedofil di Sukabumi—yang katanya, korban Emon sudah mencapai 100-an. Kenapa mesti si Emon? Saya baca di Koran Tempo, bahwa Emon pun ternyata punya buku diary. Nah, di dalam diary tersebut, Emon mencatat daftar anak-anak yang pernah ia “gituin” selama ini. Jangan main-main dengan diary! Diary dapat ungkap segalanya! Duh, emen, eh Emon…

Begini kalau disatukan pemirsa budiman.

Begini kalau disatukan pemirsa budiman.

One thought on “Bukan Catatan Harian Emon

  1. Kren,saya pernah mencoba menulis diary,tapi karna malas ya gagal separuh jalan..
    bagi saya diary tuh bermanfaat,kita bisa melihat catatan apa yg kita lalui dlu,dan bisa belajar dari kesalahn yang misalnya kebetulan kita catat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s