Utang

Gambar didonlod dari: www.karmeyhesed.org

Gambar didonlod dari: http://www.karmeyhesed.org

Tak ada orang di dunia ini yang tak pernah berutang. Karena saya ini orang, maka saya pun pernah berutang—utamanya utang duit buat kebutuhan mendesak maupun sekadar mengetes saja—apakah orang itu bersedia membantu saya atau tidak. Andai ia tak bisa menghutangi saya, saya tetap senyum apa adanya.

Dan saya tak mau lagi berutang. Kenapa? Apakah saya mau tobat dari berutang? Salah satunya iya. Tetapi, yang lebih penting adalah—bahwa berutang itu bikin sengsara. Sengsara kalau membayar utang itu tak tepat waktu. Dan saya—termasuk orang yang susah harus tepat waktu kalau bayar utang.

Apakah saya ingkar janji? Bisa iya, bisa bukan. Menurut saya bukan ingkar janji, tapi lebih sering saya bilang, ”Nanti ah bayarnya. Dia kan orang baik. Kalo orang baik pasti segan mau nagih. Nanti aja lah. Gampang sama dia mah. Soalnya, kalo uang ini dikasihkan ke dia sekarang, uang saya berkurang dan untuk beli anu enggak cukup.”

Apalagi, selama ini—kalau saya pinjam uang ke siapa pun (masih orang), misalnya—saya jarang berjanji untuk mengembalikannya “kapan”. Saya hanya bilang, ”Pinjam dulu, ya. Nanti kalo aku pas ada duit, diusahakan segera aku balikkin. Soalnya aku lagi butuh banget, nih!”

Satu lagi, saya anti dengan orang yang kalau saya mau pinjam duit, misalnya—orang itu lalu ngomong, ”Emang buat apa uangnya, Masbro?” Nah, saya pikir orang itu—atau siapa pun rasanya enggak berhak menanyakan buat apa uang yang saya pinjam dari dia. Kalau mau minjamkan ya minjamkan, enggak usah banyak tanya ini itu.

Yang wajar itu, kalau orang yang menghutangi itu tanya begini, ”Mau pinjam uang berapa?” Kalau tanya buat apa uangnya, saya pikir malah bikin si calon peminjang duit—barangkali jadi ilfil. Entah kalau yang lain. Mungkin saja ada yang lebih senang kalau ditanya buat keperluan apa uangnya. Saya bukan tak senang, tapi kurang sreg!

Pastinya, utang ke siapa saja—sebaik apa pun orang yang mengutangi itu kepada saya—mulai saat ini saya tidak akan berutang lagi. Teman saya memotivasi dengan mengatakan, ”Lebih baik makan nasi bertemankan garam daripada bersahabatkan rendang tapi hasil utang! Enggak mati enggak berutang, kok!

Saya pikir, lebih pas saya menanam dalam jiwa saya dengan, ”Yuk nabung! No utang!” pertanyaannya, sudah berapakah uang tabungan saya saat ini? Nah, lo, Hasan!

Iklan

6 thoughts on “Utang

  1. Aku pun kurang suka ngutang mas. Beli barang kalau punya duit aja. Kalau nggak ada ya nabung dululah. Sering kejadian, yg punya duit susah banget nagih utangnya ke yg minjem. Malah yg minjem yg marah2 gara2 utangnya ditagih…

  2. Kata sebagian teman saya yang pegawai bilang, kalau gak berhutang ga bakalan nampak barang yang dibelinya. Kalau saya mah ogah, mending tahan nafsu, nabung dulu baru beli, dari pada hutang. barang udah dibeli, ga bisa bayar, ee tu barang musti di jual lagi. sama wae 😀

  3. Memang sebaiknya tidak memaksakan untuk mengeluarkan uang untuk hal-hal diluar kemampuan. Tetapi kalaupun terpaksa berhutang, menurut aku sih wajar kalau orang yang akan meminjamkan menanyakan untuk apa uangnya, apalagi kalau pinjamnya dalam jumlah besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s