3 Orang 2 Telur

Foto didonlod dari: putrifaradiannotes.blogspot.com

Foto didonlod dari: putrifaradiannotes.blogspot.com

Tadi malam, saudara saya memutuskan tidak makan nasi yang saya masak di kosan—tetapi memilih memesan nasi goreng gerobak yang letaknya tak begitu jauh dari tempat saya. “Pengen nasi goreng aja ah, sekali-kali!” ucap dia begitu nasi di reskuker berbunyi KLIK “WARM”.

Saudara saya ini pun langsung ke luar kamar dan menuju TKP. Sementara saya dan dua teman kosan asyik melahap nasi bertemankan tahu mendoan, kerupuk, bala-bala, cabe rawit super pedas, dan sayur dari Warteg—lupa entah sayur apa, yang jelas kami kekenyangan setelahnya.

Ada mungkin setengah jam. Saudara saya yang tadi beli nasgor udah di depan pintu kosan lagi. Dia masuk kamar. Lihat tipi. Lalu saya tanya,”Gimana, Mang, udah makan nasi gorengnya? Harganya masih sembilan ribu, kan?” Ya, saya tanya gitu buat basa-basi aja karena gak ada obrolan lain.

Saudara saya bilang udah dan harganya masih 9 ribu. Tapi, dia melanjutkan,”Pas aku sampai ke tukang nasi goreng, di sana udah ada menunggu 2 orang yang lagi pesan. Dan aku liat si mamang nasi goreng itu hanya memasukkan  2 telor ayam ke kuali sebelum diaduk sama nasinya. Padahal, aku bilang ke tukang nasgor aku pesan satu. Tapi, aku perhatikan sampai nasi itu dihidangkan, si mamang tak menambah telor lagi ke kuali—kecuali nambah porsi nasinya aja.”

Saya bilang ke saudara saya itu—andai saya berada di sana, maka saya langsung bilang ke tukang Nasgor,”Eh, loe yang bener kalo jualan! Pesen tiga kok telornya dua. Gimana, sih! Mau gue bakar ni gerobak! Tambahin lagi telornya dan goreng ulang nih, nasi! Memangnya aku gak liat loe goreng nasi dan telornya cuma dua? Orang kecil mau loe bohongin! Loe nyaleg, ya? Dari partai apa?”

Untungnya, saya tidak sempat menemani saudara saya itu. Kalau sempat pun—rasanya saya tidak tega mau bilang begitu. Paling-paling, dalam hati saya bilang,”Nasi goreng ini masuk daftar hitam dan aku tidak mau berlangganan lagi di tempat ini. Semoga laku keras! Dan semoga ke depan loe goreng nasi gak pake telor!”

Saudara saya hanya senyum-senyum saja. Dia bilang,”Ah, biarlah. Nyantai aja. Yang penting aku kenyang, kok! Mungkin saja dia lupa nambah telornya saking asyik mengaduk-aduk nasi. Lagian aku kan punya telor kelesss. Hahaha,” ungkap dia dengan ledakan tawanya yang tak teratur sama sekali. Ya sudah kalau gak papa. Saya juga cukup bilang,”MASBULOH???”

Namun, ada satu hal yang saya tangkap dari pengalaman yang menimpa saudara saya malam itu. Bagaimana pun keadaannya, sebaiknya diusahakan tetaplah berbaik sangka—walau sebetulnya itu adalah hal yang menurut kita tak mengenakkan. Dan, amat jarang ditemukan orang yang selalu berpikir jernih ketika menanggapi sesuatu, apalagi sesuatu itu sebetulnya negatif, baik menurut kita maupun orang lain.

Hanya orang-orang yang hatinya dipelihara oleh Tuhan yang bisa selalu berbaik sangka. Nah, saudara saya ini—mungkin salah satu orang yang tak terlalu pusing hanya gara-gara nasi gorengnya tak ditambah satu telor lagi oleh penjual Nasgor. Dia cukup katakan,”O, mungkin si mamang lupa.”

Terus, kalau tidak bersikap seperti itu, lalu mau seperti apa?

7 thoughts on “3 Orang 2 Telur

  1. ha. ini salah satu contoh PHP ala hasan….
    memberi harapan mau ngelabrak, ternyata palsu karena ga tega (beda tipis sama ga berani)

    wkwkwkwkwk….
    piiiisss brooo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s