3 Kemiskinan Menurut Pendeta

Foto diambil dari:sentanaonline.com

Foto diambil dari:sentanaonline.com

Saya hari ini mendengarkan radio. Kebetulan, radio favorit saya adalah radio yang memutar lagu-lagu dangdut. Tetapi tidak hari ini. Selama lebih kurang satu jam saya menyimak siraman rohani agama Kristen yang narasumbernya berasal dari Sekolah Tinggi Teologi Bandung. Saya dengarkan baik-baik untaiannya—yang sesekali mengutip beberapa ayat Al-Kitab.

Rohaniwan itu mengatakan, paling tidak ada 3 kemiskinan yang melilit diri setiap umat manusia. Pertama, kemiskinan menjalin hubungan sama Tuhan Allah. Kedua, kemiskinan tak bisa memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Dan ketiga, orang yang miskin adalah mereka yang tak pernah puas dengan apa yang diberikan Tuhan.

Menurut pendeta itu, Tuhan Yesus adalah juru selamat—yang mau tidak mau harus didekati dengan cara yang santun. Dia juga adalah pribadi yang Maha Kudus, Maha Kasih, dan selalu hidup untuk kebenaran. Sebab itu, umat Kristiani tak perlu ragu untuk mendekati Tuhan Allah seintens dan seintim mungkin agar hidupnya tak diliputi kegalauan dan kesengsaraan.

Terus, karena Tuhan Yesus adalah Maha Kasih, maka sepatutnya—pengikutnya yang yakin akan kebenaran-Nya tak perlu ragu untuk membantu orang yang membutuhkan. Misalnya, jika menemukan saudaranya yang sedang kesusahan dalam finansial, ya cepat-cepat buka dompet dan bantu mereka semampunya. Dengan begitu, ungkap pendeta yang berlogat Jawa itu—yakinlah Tuhan Yesus bakal memberikan sesuatu yang membahagiakan daripada materi.

Ia melanjutkan, dengan mengelurkan 20% saja dari harta yang kita miliki, maka orang-orang miskin yang bejibun di negeri ini bakal terbantu. Sebab, salah satu timbulnya kaum papa tak lain adalah orang-orang yang mampu tak peduli dengan nasib mereka. Dengan kata lain, orang-orang kaya itu tak memiliki kepekaan sosial sama sekali dengan nasib saudaranya yang miskin.

Kata pendeta itu, kalau saudara-saudara terkasih ingin membantu atau menyumbangkan sesuatu terhadap orang yang tak punya—waktunya bisa kapan saja dan di mana saja tanpa harus menunggu momen, misalnya saat peringatan Paskah atau Natal. Walau sebetulnya mengeluarkan harta untuk orang lain itu terasa berat. Tak perlu pula harus menunggu pendeta berkhutbah dulu baru kemudian membantu orang lain.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tak pernah puas dengan apa yang dia punya? Ingat, kata pendeta itu, bahwa Tuhan Yesus itu selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Kenapa kita tidak bersyukur, betapa kita telah dianugerahi akal, kesehatan, harta berlimpah, dan nikmat bernapas. Masalahnya, kita ini tidak sadar dan kurang peka dengan apa yang kita miliki. Akibatnya, manusia selalu berkeinginan yang muluk.

Apakah tidak boleh memiliki keinginan atau harapan? O, boleh ucap pendeta itu. Bukan tidak boleh memimpikan sesuatu, tetapi lebih baik bersyukur terlebih dahulu dengan apa yang kita punya sebelum berharap yang lain.

Terimakasih atas pencerahannya hari ini. Kalau ada yang kurang tepat apa yang saya tulis, silakan koreksi, ya.

Iklan

4 thoughts on “3 Kemiskinan Menurut Pendeta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s