Saya Botak, Maka Saya Tak Mau Kopdar!

Gambar didonlod dari: www.kaskus.co.id

Gambar didonlod dari: http://www.kaskus.co.id

Apa yang ditakutkan dari sebuah pertemuan? Apa yang membuat tuan dan puan ragu sehingga memutuskan untuk tidak bertemu dengan seseorang, hanya karena alasan tidak pede dan takut? Tidak pede dan takut adalah dua kata negatif—yang kalau tetap dipelihara, ia akan tumbuh subur di hati dan menyebabkan pelakunya susah-payah.

Beberapa kawan blogger pernah mengungkapkan kepada saya perihal ketakutan dan ketidakpedean mereka saat harus kopdar dengan sesama blogger. “Sering, sih teman ngajakin kopdar. Padahal dekat, di Bandung. Tapi, ya itu, gue malas karena gak pede dan takut!” begitu kata teman saya suatu hari dan baru kemarin alasan itu diulanginya lagi.

Saya tanya alasan spesifiknya, kok bisa gak pede sekadar kopdar saja ke teman saya itu. “Kepala gue di bagian depan rada botak. Makanya, jadi rada malu dan gak pede pokoknya. Males…males…males!” kata teman saya itu beralasan yang sebetulnya—saya gak mau sama sekali mendukungnya dan malah bikin saya ketawa. Uh, segitu aja dipikirin! Capek, deh!

Susah juga saya mau jawab apa saat kawan saya itu mengatakan dengan jujur perihal alasannya gak mau kopdar gara-gara persoalan fisik—yang menurutnya gak sempurna dan kepala di bagian depannya harus tidak botak. Memangnya manusia ada yang sempurna? Saya bisa jawab apa ke teman saya itu? “Alasan loe gak masuk ke otak gue! Alasannya bikin muntah!”

Teman saya ini rupanya masih bisa berkata-kata, entah bernada apa namanya. “Kenyataannya memang gitu. Gue orangnya gak pedean, minder, dan takut. Dan kalo gue bener-bener kopdar, yang ada gue pasti diketawain sama mereka! Gue putusin, walau udah beberapa kali kawan blogger ngajak buat kopdar, gue gak mau ikut! Gue bilang aja ke mereka kalau gue lagi balik kampung atau apalah gitu.”

Saya kesal mendengar alasannya—yang menurut saya apa yang dia katakan itu terlalu lebay. Ingat, bukan kesal kepada orangnya, tetapi kesal karena alasannya. Tapi, saya cepat-cepat diingatkan, bahwa problem tiap orang itu berbeda dan saya tidak bisa memaksa seseorang harus mengikuti gaya dan cara saya dalam menghadapi dan atau menanggapi sesuatu.

Dan kenapa teman saya itu begitu tidak pede, minder, dan takut kalau mau kopdar—tentu saya harus cari tahu dulu “kenapa”-nya dan saya berusaha tidak mau menganggap sepele apa yang dia rasakan. Ibaratnya, pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana—itu harus saya munculkan di benak saya sehingga saya tidak cepat-cepat memvonis kepada kawan saya itu, bahwa dia lebay atau apalah yang kira-kira prasangka negatif.

Lantas, saya katakan saja ke dia, kok ente begitu tidak pede ketemuan sama teman blogger—yang notabene selama ini ente akrab betul di dunia maya sama mereka. Padahal, kata orang kalo punya wajah ganteng, pasti dia paling pede, tetapi tidak bagi kawan saya ini. Meski dia berwajah tampan—yang gak beda jauh sama saya, kok gak pede dan minder untuk bertemu seseorang hanya karena rambut di bagian depan kepalanya agak botak. Capek, deh!

Saya hanya katakan ke teman baik saya itu, ”Sampai kapan loe bersikap seperti itu? Mau ini malu, mau itu gak pede, mau begini selalu ngeliat kekurangan. Sampai kapan loe berpikir seperti itu? Orang belum tentu berpikiran seperti yang loe pikirkan, Bray! Itu mah dugaan dan pikiran negatif  kamu. Belum kejadian udah mikir macem-macem! Positif coba, positif, Bro! Gimana, sih! Lagian orang itu gak melulu liat penampilan fisik, tapi sikap, Bro!”

Saya berkesimpulan, bahwa karakter dan kepribadian seseorang itu tak ada yang sama. Pokoknya beda. Yang mesti saya hargai adalah menerima keberbedaan itu dengan lapang dada dan ikhlas bahwa Tuhan ciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Soal ada orang yang belum pede dan belum menerima dirinya apa adanya—biarlah, suatu saat mereka pun akan menjadi manusia pede dan tidak penakut seiring berjalannya waktu.

Barangkali saya menyebut orang yang ragu dan tidak pede adalah—mereka itu sedang ditimpa musibah psikologis dengan berbagai latar belakangnya. Mereka menjadi seperti itu—tentu ada musababnya. Meyakinkan orang tersebut supaya lebih pede dan tidak takut, juga perlu kesabaran ekstra, utamanya dari saya sebagai teman sekaligus sahabatnya—yang harus terus-menerus memotivasinya semampu saya.

Oke, ya. Kalian pasti bisa, kalian pasti sanggup meluluhkan prasangka negatif terhadap apapun.

9 thoughts on “Saya Botak, Maka Saya Tak Mau Kopdar!

  1. Padahal gimanapun tampilan fisik seseorang, pasti ada kurangnya. Kalo fokus ama ketidaksempurnaan kayaknya kita gak bisa jadi positif. Rugi sendiri malah. Alamat blognya manasih Mas Hasan? Ntar saya datengin. Buahahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s