Bukan Orang Baik

Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com

Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com

Sekali lagi, saya hanya ingin bilang, bahwa saya sangat berterimakasih kepada orang-orang yang telah mengatakan saya ini orang yang tak tahu diri, tidak mengerti, tukang menyakiti hati, punya duit tapi tak bisa menolong teman yang kesusahan, punya hape lebih dari satu tetapi tak rela menjual salah satu hapenya, dan hasil penjualannya untuk membantu teman yang sedang butuh, atau saya ini dianggap baik, tetapi sebetulnya saya ini tak persis seperti apa yang mereka kira.

Bagi saya, semua orang, baik yang kenal maupun tidak kenal sama saya—mereka berhak menilai apa pun tentang diri saya semau dan sepuas mereka. Bahkan, kalau memang harus menuding saya dengan perkataan yang mereka inginkan, saya akan tetap menerima. Dan tenang saja, saya berusaha untuk tidak naik pitam saat mereka melakukan aksi tersebut.

Saya, kan, kalau tidak salah, pernah bilang, bahwa saya ini tak layak mendapat pujian—walau sebetulnya, mungkin mereka pantas melontarkan pujian tersebut kepada saya dengan berbagai alasan. Makanya, ketika saya dinilai, dianggap, dikata-katai saya ini orang yang tak punya perasaan, tak tahu diri, tak peka dengan derita orang lain, tak rela berkorban—sekali lagi, saya berusaha tidak membantah juga berusaha tidak akan membalas balik dan mengata-ngatai mereka ini itu.

Kenapa saya tidak membantah? Kenapa saya tidak membalas balik dan gantian mengata-ngatai mereka? Saya sadar, saya ini manusia yang kehadirannya di alam ini—kalau tak berkesempatan berbuat baik, ya tentu melakukan hal yang bikin jengkel manusia maupun membuat Tuhan marah. Karena, dua kelakuan itu (baik-buruk) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari oleh manusia seperti saya ini. Jadi, memang saya ini bukan manusia sempurna, apalagi disebut baik atau saleh.

Kalau ada yang menilai saya ini orang yang baik—sesungguhnya itu penilaian yang salah alamat dan terlalu berlebihan. Apalagi, pernah ada yang bilang, saya ini orang yang terlalu baik. Nah, mendengar itu, saya langsung katakan,”Kamu terlalu berlebihan menilai saya. Kamu telah terjebak dengan sesuatu yang tampak baik, tapi belum tentu memberikan kenyamanan pada tahap selanjutnya. Sudahlah, kalo mau menilai, nilai saja penciptamu, bukan saya!”

Justru yang membuat saya senang dan bisa membuat ketawa, itu pada saat kamu katakan saya ini manusia jahat, tidak pengertian, nyakitin hati terus, pelit, sombong, tak tahu diri, punya utang gak dibayar-bayar padahal saya ini udah punya kerja, sms gak dibalas, telepon gak diangkat, atau kamu menyebut saya ini orang yang selalu memberikan janji dan tidak pernah memberi bukti. Oke, penilaian seperti inilah yang saya butuhkan dibandingkan saya ini baik, saya ini perhatian, dan bla bla bla.

Kalau misalnya setelah mereka—teman-teman saya itu menilai saya dari berbagai sisi dan ternyata mereka menyimpulkan saya ini termasuk orang yang tak pantas dijadikan teman baik atau sahabat penuh pengertian, saya tidak marah dan pula kecewa—sebab, saya katakan di awal—mereka berhak  menilai saya, terlepas penilain itu atas dasar keikhlasan atau sekadar meluapkan emosi karena orang yang bersangkutan sedang ingin minta diperhatikan.

Namanya hidup di dunia ini mestilah siap dituding-menuding, dicaci-memaki, dihina-menghina, dipuji-memuji, disakiti-menyakiti, menerima dan atau menolak sesuatu, bahkan saling membunuh, baik membunuh karakter maupun membunuh secara  fisik. Ini namanya dinamika kehidupan. Mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju, semua itu bakal kita lewati. Hanya saja, seberapa sadar kita mengingat-ingat itu semua, ya?

Saya yakin sikap yang saya tunjukkan demikian, itu tak semua orang setuju. Apalagi, saya pun tidak berharap orang-orang setuju dengan sikap saya ini—bahkan saya lebih suka, mereka itu harus berbeda sikap dengan saya dalam menanggapi berbagai hal dalam kehidupan. Dan, saya pun tidak pernah menganggap apa yang saya yakini ini cara yang paling benar atau sikap yang paling tidak populer.

Satu lagi, berani menjalin hubungan dengan manusia, entah hubungannya sebagai teman, sahabat, pacar, suami-istri, bahkan hubungan sesama jenis (gay-lesbian), bukan tidak berisiko. Sakit-menyakiti, perhatian tidak perhatian, cemburu-mencemburui, iri-irian, berusaha mencelakakan satu sama lain, saling ejek, puji, merasa terikat, menyanjung berlebihan, merasa kehilangan, dan perasaan-perasaan yang lebih dari itu bakal dilalui manusia.

Makanya, saya selalu berusaha sadar dan acap diingatkan, bahwa kalau saya melakukan ini, pastilah dampaknya itu. Kalau mengatakan ini, tentu akibatnya begitu. Pun bila saya tak melakukan itu, risikonya bakal seperti ini. Jadi, saya merasa, sebetulnya alur hidup yang saya jalani tak penuh kejutan sama sekali. Artinya, ya biasa saja dan tak ada yang istimewa dengan hidup ini. Saya hanyalah seorang musafir yang melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk menemukan diri.

Tentu, dalam helaan perjalanan bakal ditemui pengalaman unik yang mengultimatum, saya ini sanggup melanjutkan perjalanan ini atau tidak. Semakin saya sanggup menempuh perjalanan itu, semakin banyaklah risiko yang dihadapi. Dan salah satu risiko itu adalah banyaknya orang-orang yang akan menilai saya dengan beragam pendapat. Sekali lagi, saya bersyukur dengan itu—betapa saya ini makhluk Tuhan yang tidak baik!

Iklan

2 thoughts on “Bukan Orang Baik

  1. yang penting kalimat andalan penuh kepasrahan plus sedikit bawa2 Tuhan… jadi bisa tetap diam dan pasif saja, nggak perlu repot2 menyelesaikan masalah…dihindari saja. nanti juga ada orang lain yg menyelesaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s