Saya, Galau, dan Dia

Ilustrasi diambil dari: www.imgion.com

Ilustrasi diambil dari: http://www.imgion.com

Kalau kebanyakan orang cenderung ingin dipuji, minta diperhatikan, dan banyak berharap ini itu dari orang lain, tentu tidak buat saya. Pujian, perhatian, apalagi pemberian-itu tak amat-amat  saya butuhkan dari mereka.

Kalau toh di antara mereka ada yang memuji atau memberi perhatian kepada saya, terus terang-saya tidak kaget, apalagi sampai kedua pundak saya meninggi atau bahkan saya terbang melayang dan senang. Tidak, ya.

Sebaliknya, justru saya merasa malu sendiri bila tak sengaja tiba-tiba saya dapat pujian maupun sebentuk simpati lainnya dari kawan, sahabat, atau manusia yang sebelumnya tidak saya kenal. Lain kata, saya lebih suka dihina daripada dipuji. Itu lebih asyik.

Saya lebih senang, biasa sajalah dengan saya ini, toh saya-dalam berteman dengan siapa pun orang di jagat ini tak menuntut apa-apa. Murni berteman. Enggak neko-neko. Dia minta tolong saya bantu, pun bila saya minta tolong ke dia, misalnya enggak bisa, saya tetap ucapkan alhamdulillah.

Saya tidak merasa ribet dengan hidup di dunia ini. Lahirnya saya ke dunia ini saja saya telah merasa bersyukur. Makanya, dalam doa, saya sekali pun tak pernah meminta kaya maupun menolak miskin. Apalagi, saya tak bisa mengukur seperti apa kaya, seperti apa miskin.

Dalam doa, saya cukup bilang, “Tuhan, kalau kau berkenan, tolong jadikan hamba-Mu ini menjadi hamba yang selalu bersyukur di tiap helaan napasnya. Lapangkanlah dadaku. Jadikan pula hamba orang yang selalu berbaik sangka terhadap sesuatu.”

Saya hanya punya keyakinan, bahwa apapun kejadian yang menimpa pada diri saya, teman, saudara, dan di sekitar lingkungan ini-tak ada yang menggerakkan, kecuali atas kehendak dan izin-Nya semata-tentu berdasarkan sebab dan akibatnya.

Pun saya tak ikut-ikutan panik atau terpengaruh galau, misalnya jika ada salah satu kawan yang sedang dilanda sedih karena sebab tertentu. Biasa saja. Seperti biasa, saya akan katakan-ini pun kalau dia ini mengadu ke saya tentang masalahnya.

“Ada masalah, kemudian kau galau, itu biasa. Manusiawi. Tetapi, ya gak perlu lama-lama, setengah jam cukup, bahkan lima belas menit sajalah. Penangkalnya, ya adukan saja kepada pemilik hatimu, gak usah ke yang lain, apalagi ke manusia, sebab manusia itu bisa galau juga, mengadulah kepada Dia yang tak pernah  galau.”

Tampaknya, kata-kata saya itu seperti khutbah pendeta atau pastur maupun ustad. Sama sekali bukan. Pada dasarnya, tiap orang itu sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan tatkala dia dilanda masalah supaya masalah itu cepat segera pudar dari ingatan dan hatinya.

Namun, kebanyakan orang itu tak menyadari akan potensi diri yang sebetulnya telah Tuhan berikan di dalam sanubari masing-masing sebagai alat deteksi bila virus masalah maupun bakteri galau masuk ke dalam segumpal darah kita.

Ada yang bertanya, lalu bagaimana supaya manusia itu diberi kepekaan dan sadar diri, bahwa dirinyalah sebetulnya konselor utama supaya bisa menangani masalah pribadinya, sebelum dicurhatkan ke orang lain? Gampang, menurut saya.

Ya, perlahan tetapi pasti, kalau orang bersangkutan yakin bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhannya, ya dekati Dia, akrabi Dia dengan tulus, jadikan Dia sahabat di tiap detiknya. Sebab, seakrab dan seintim apapun kita kepada selain Dia, yakinlah kau akan tetap galau dan makin bermasalah.

Tapi, kalau hubungan kita sama Tuhan sudah jelas dan tak tampak samar, percayalah pula-Dia pasti bakal menjaga hatimu, menguatkanmu, dan membuatmu bahagia-mau bagaimanapun keadaannya di sekitar kita. Dan ini, saya kira berlaku bagi pemeluk agama apapun, sebab bila orang itu beragama, ia paham bagaimana memperlakukan Tuhan.

6 thoughts on “Saya, Galau, dan Dia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s