Selamat Jalan, Kami Menyusul

Gambar diambil dari: www.republika.co.id

Gambar diambil dari: http://www.republika.co.id

Ada saja ide buat saya menulis hari ini. Kemarin (Minggu, 26/2) adalah hari duka cita bagi keluarga besar saya. Kakak ipar saya, Kak Ton telah lebih dahulu dipanggil Tuhannya sekitar pukul 04.30 atau menjelang subuh waktu Kota Bengkulu  karena kalah bertahan dengan diabetesnya.

Saya dapat kabar duka ini dari kakak pertama saya ketika saya masih terlelap dipeluk mimpi. Saya terbangun karena beberapa kali panggilan di hape bergetar. Antara sadar dan tidak, maka cepat saya angkat ponsel itu,”Cep, ini ada kabar duka. Kak Ton meninggal barusan!”

Saya masih tak percaya kakak pertama saya bilang begitu. Maka, saya pun mencoba menjawab,”Yang bener, A?” Tampaknya, mendapat jawaban yang demikian, kakak saya ini agak kesal, “Lho, masa kamu enggak percaya sama Aa? Memangnya Aa main-main, gimana kamu ini?”

Saya bukan tidak percaya mendapat kabar duka itu. Tetapi, pas malam minggu itu, saya baru sms-an dengan salah satu keponakan saya, Imam-yang juga anak pertama Kak Ton itu. “Kalau bapak gimana sekarang, Mam? lontar saya lewat pesan singkat ke Imam.

“Agak mendingan, Mang! Dagingnya mulai tumbuh. Doakan saja, ya, Mang.” begitu balas keponakan yang baru dua bulan punya pacar itu. “Kalau gitu, salam ke semuanya, ya: ibu, Ari, Rahmat, dan Opik. Sesekali sentuhlah sajadah di kamar itu,” tutup saya.

Dua hari sebelumnya pun, saya mengirim sms ke Teteh saya. “Teh, gimana Kak Ton? Ada perkembangan?” Kira-kira setengah jam kemudian, Teteh yang sudah memiliki anak empat ini membalas sms dari saya,”Sudah agak lumayan, Cep. Daging di kakinya sudah mulai tumbuh. Minta doanya aja, ya.”

“Innalillahiwainnailaihirajiun,” baru saya bilang begitu sebelum Kakak pertama saya menutup teleponnya. Setelah mendapat kabar seperti itu, subuh itu saya tak bisa lagi tidur walau sebetulnya dingin sekali di kos saya. Saya lantas kirim sms ke beberapa saudara dan sahabat mengenai duka itu.

Tak lama, sahabat saya balas, “Kan masih muda, Cep? Penyebabnya apa?” Saya bingung mau jawab apa ke sahabat saya ini. Sambil gemetar, saya jawab sekenanya,”Memangnya Izrail pilih-pilih orang kalau nyabut nyawa? Mau tua atau muda, bagi Tuhan sama saja, Bro! Kena diabetes.”

Saya langsung hubungi Teteh. Lama enggak diangkat. Saya tahu, kakak kedua saya ini pastilah sedang kalut sekaligus terkejut. Akhirnya, diangkat juga telepon saya. “Iya, Cep. Bapak Imam meninggal setengah jam lalu.” Suara gaduh terdengar. Teteh pun terbata saat bicara.

“Teh, sabar, ya. Kuat, ya, Teh!” saya hanya bisa bilang begitu dan langsung saya tutup. Beberapa menit, kakak ketiga saya yang ada di Belitung, menelepon saya, “Cecep udah tahu, kan? Kak Ton meninggal. Barusan Aa telepon,” ucap kakak saya itu.

Saya katakan ke kakak ketiga itu, bahwa saya juga dikasih tahu Aa perihal kabar duka itu. “Jadi, gimana A, ada rencana mau ke Bengkulu? Cecep pengennya ke Bengkulu, A. Tapi gimana ini, belum punya uang dan memang belum gajian,” berondong saya ke kakak saya bernama Harun itu.

Belum ada keputusan pasti dari kakak ketiga itu. Yang pastinya, pagi itu saya hendak menenangkan diri dulu sambil berguman dalam hati, “Ini soal waktu. Tinggal menunggu giliran saja, kapan saya akan dijemput sang penjagal kematian, Izrail. Ya, tinggal soal waktu.”

Seperti pada tulisan sebelumnya-KLIK DI SINI bahwa kakak ipar saya ini memang sedang mengidap diabetes/kencing manis. Kata orang, suami Teteh saya ini terkena diabetes melitus. Kaki kanannya-saat saya jenguk beberapa minggu lalu, itu sudah membusuk: jempol dan keempat jarinya terkena abrasi.

Kata Teteh, luka di kakinya bermula saat suatu siang tiga bulan lalu, sang suami itu berjalan di aspal bertelanjang kaki. Sesampainya di rumah, dampal kaki Kak Ton terkelupas-mungkin saking panasnya aspal. Sebetulnya, Kak Ton tahu kalau dia ini sudah sejak menikah terkena kencing manis.

Terkena luka sedikit saja, siapa saja yang sedang mengidap diabetes, itu bisa berbahaya kalau tak segera ditangani. Gula darah tinggi pula. Saya juga pernah baca artikel, yang menyatakan, bahwa diabetes adalah pintu gerbang segala penyakit.

Artinya, siapa saja yang mengalami diabetes, maka penyakit lain akan segera susul-menyusul. Itu kata medis. Tapi, apapun penyebab kakak ipar saya ini meninggal, ini harus menjadi pelajaran penting buat saya dan keluarga yang ditinggalkan, terutama perihal menjaga kesehatan.

Pola makan dan gaya hidup, itu perlu selalu diperhatikan oleh setiap kita. Gaya hidup yang tak sesuai dan pola makan yang serampangan lah yang menyebabkan mudahnya seseorang terserang penyakit. Terus, selalu lah berpikir positif.  “You what you eat and you what you think!”

Atas kejadian yang menimpa keluarga saya ini, saya hanya bisa bilang, “Mudah-mudahan kita selalu menjadi hamba Tuhan yang selalu bersyukur, ikhlas, dan sabar. Sedih boleh saja, tapi tak perlu berminggu-minggu, sebab tak ada gunanya. Kuat, kuat, kuat!”

Selamat jalan Kak Ton hingga ke terminal berikutnya. Kami menyusul.

Iklan

16 thoughts on “Selamat Jalan, Kami Menyusul

  1. Aamiin. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
    Mungkin ini terfengar klise bg kang Cecep, barangkali juga udah bosan.
    Semoga kluarga bisa tabah dan sabar mghadapi kenyataan ino. Hanya itu yg bsa saya sampaikan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s