Berkirim Surat, Yuk?

Siapa yang mau berkirim surat manual dengan saya? Atau, siapa yang mau saya kirimi surat dari saya hasil tulisan tangan saya-dan surat itu nanti diantar ke rumah teman-teman oleh pak  pos? Seru, kan?

Kalau sekiranya teman-teman di sini, utamanya sahabat maya mau membudayakan kembali berkirim surat lewat pos dan bertulis tangan, saya siap menjadi mitra baik teman-teman. Bukan apa-apa, ya, rasanya enak aja gitu. Yang pasti, keasyikannya bakal terasa.

Bukan saya berniat mengacangi teknologi yang super duper canggih ini, lho. Tetapi, menulis surat manual dan mengirimnya via pos, itu ya bisa dibilang sesuatu yang jarang dilakukan di zaman gadget ini.

Intinya saya ingin kembali ke masa lalu. Kalau ada yang bilang, bahwa lupakan masa lalu-pendapat itu tak juga sepenuhnya benar. Saya kira itu bergantung kebutuhan dan selalu berpikir kira-kira apa hal yang bermanfaat atau mengasyikkan bila kita mengulang masa silam.

Ya, barangkali ini hitung-hitung membantu Pos Indonesia guna menggalakkan kembali kebiasaan yang selama ini sempat tak populer, yakni berkirim surat via pos. Disadari atau tidak, kian canggih teknologi-ternyata dampaknya merugikan perusahaan BUMN tersebut. Omzet pasti terkerek.

Bagi saya, keunggulan lain dengan berkirim surat lewat pos adalah rasa penasaran itu kian tinggi di benak kita. Bagaimana tidak penasaran, betapa kita menunggu-nunggu kabar dari orangtua, pacar, sahabat, rekan, atau relasi yang berjauhan kalau tidak berkirim surat.

Ini pengalaman saya. Tiga tahun saya sempat berpisah dengan kedua orangtua. Saya dan mereka harus berpisah lantaran saya harus belajar di pesantren yang letaknya di provinsi tetangga, Sumatera selatan. Sedangkan ayah dan ibu saya berada di Bengkulu.

Kala itu, mana ada saya pegang hape atau BB. Bisa saja saya numpang nelepon dari pesantren menggunakan telepon rumah, tetapi apakah saya-yang rumah kedua orangtua saya berada di pedusunan, udah masang telepon juga? Kan tidak, dunk, Bro.

Waktu itu pun, kalau orangtua saya kirim duit, ya lewat pos. Mana ada saya punya kartu ATM. Suatu ketika, saat saya kelas 2 Mts, tiba-tiba ada kiriman surat dari orangtua ke saya. Saya deg-degan juga mau membukanya kala itu. Syukur-syukur kalau di lipatan kertas surat itu terselip uang. Kalau tidak?

 Sukamakmur, September 2001 

Kepada Ananda Cecep Hasannudin

di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Sakatiga, OKI, Sum-sel

Assalamualaikum wr.wb.

Teriring salam doa, bahwa kami kabarkan  apak dan emak dalam keadaan sehat wal afiyat. Maaf apak dan emak baru bisa kirim surat sekarang. Bukan tidak ingat Cecep, tetapi apak dan emak selalu tidak sempat-sempat menulisnya.

Cep, maaf juga kalau selama beberapa bulan ini apak dan emak tidak bisa ngirim uang buat jajan. Tapi, apak dan emak selalu berbaik sangka saja, bahwa uang beasiswa itu cukup buat jajan juga. Nantilah bulan depan apak kirim buat tambahan.

Cep, ini ada musibah seminggu lalu. Tapi, jangan marah, ya. Sebenarnya, apak dan emak enggak mau beritahu ini ke Cecep, tapi tiap hari, sejak kebakaran itu apak dan emak selalu kepikiran terus. Jadi, rumah lama yang beratap alang-alang dan berdinding kayu itu, habis terbakar enggak bersisa.

Cep, tapi untungnya, begitu rumah lama itu terbakar, rumah di sebelahnya yang baru dibangun sebulan lalu baru dipasang genting. Tapi, ya itu, lemari, piring-gelas, pakaian, surat-surat penting enggak ada yang bisa diselamatkan.

Cep, tapi untungnya, pas kebakaran rumah itu, emak dan Imam sedang tidak ada di rumah. Pokoknya, Cecep jangan khawatir, ya. Berdoa saja yang terbaik. O, iya, ayam Cecep yang kemarin dibeli udah bertelor.

Wassalam

Emak dan apak

 

Itu saja. Yang mau bermitra sama saya berkirim surat menggunakan tangan, silakan kirim alamat lengkapnya beserta kode pos. Sebab, saya sudah rindu dengan amplop, lem glukol, perangko, dan bertemu dengan gedung pos dan pak pos.

 

Iklan

42 thoughts on “Berkirim Surat, Yuk?

  1. Ah surat, wesel, kartu2 itu masa2 mendebarkan saya jaman kuliah dulu..yg selalu ditunggu, jadi kangen ya. Tapi belakangan ini meski gak aktif, saya budayakan kembali kirim2an kartu..
    kemarin baru aja kirim kartu ke Belgia.. ongkos kirimnya 30rb..itu aja diambil oleh si penerima, bukan sampai tujuan nantinya.
    padahal whatsappan ya tiap hari sama yg di mbelgi…cuma pengen nostalgiaan aja 🙂

    Hmmm… ayo terutama buat yang anak muda nih, yg blm pernah ngerasain surat2, monggo di coba 🙂

  2. saya mau mau…
    Ponpes Al’Ihsan
    Jl. Cibiru Hilir No. 23 rt. 01 rw. 02 Cileunyi Bandung 40393 telp. 022 7807641
    (ponpes al ihsan, Asrama Putri 1, kamar Ibadurrahman)…
    alamt yg d dalam kurung perlu diikutsertakn… hhe
    sya hobbi bgt nulis d diary… kali2 boleh lh sya nulis surat ky gt. hhe

  3. Aku terakhir berkirim surat pas SMU mas Hasan. Tapi sampai sekarang masih pakai jasa kantor pos utk berkirim paket. Apa kita berkirim paket saja ya? 😀

  4. aQ maunya dikirim kartu pos aja ahh.
    saya jg dulu sering dikirimi Bapak Alm. surat begitu, dan sekarang bersyukur karna stiap kangen saya cuma baca tulisan dy aja udah cukup terhibur 🙂

  5. Kalau saya sebaliknya,gak pernah ada menggunakan via pos untuk kirim surat,semua dari gadget,maklum,belum menginjak remaja aja gadget udah melimpah..
    udah dah lama ni gak kesini,lage sibuk terobosan untuk menghadapi UN tgkt SMA.
    Pie kabare mas????

  6. Pos Indonesia sekarang mengandalkan pendapatan dari pengiriman paket, dan konon hasilnya cukup besar, hehe…

    Hmmm… kapan ya saya terakhir kali berkirim surat manual… Mungkin sepuluh tahun yg lalu…. *menerawang

    • Wah..wah..wah..udah lama banget, tuh. Bahkan, dengan hanya mengandalkan pengiriman paket, itu hingga bikin bangkrut. Makanya, wacana PT Pos Indo mau dibubarkan sempat mengemuka..

  7. Hadeuh jadi keingetan jaman baheula 🙂 trus diakhir surat itu mesti ada N.B-nya. Akang sendiri ngga ngerti artinya apa karena orang2 bilang N.B itu artinya nambih yang berarti menambahkan dalam bahasa sunda.

  8. Wah terakhir bikin surat dengan tulisan tangan rasanya jaman kuliah deh. Sekarang kalau mau nulis dengan tangan hasilnya kacau, Mas. Awal-awal masih kebaca tulisannya, makin lama makin gak jelas dan amburadul, ha ha ha . . .

  9. udah lama saya nggak kirim surat semenjak saya tahu email hehehe 😀
    tapi biasanya saya sering kirim surat untuk kantor redaksi koran buat kirim tulisan artikel. Tapi sekarang udah nggak lagi hehehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s