Berbeda Bikin Bahagia

Saya bingung mau menulis tentang apa sore ini. Tapi yang jelas, tiap saya sendiri di kamar kosan, tiap kali itu pula saya selalu berbicara sendiri. Ya, sendiri. Alias, saya itu-bisa dikatakan sering berdialog dengan diri.

Misalnya, di suatu sore yang selalu gerimis, dua hari lalu itu, saya bicara begini, “Hey, bahwa saya ini orangnya-kalau berteman tak pernah melihat orang itu dari mana berasal. Mau kamu dari suku Sunda, Jawa, Madura, atau dari kepercayaan mana atau agama mana, itu saya tak peduli.”

Baik saya teruskan, “Jadi, tak ada sama sekali dalam otak saya tergambar, bahwa saya ini harus berteman dengan itu dan jangan berkawan dengan manusia ini. Sekali lagi, tidak, ya. Kalau saya pilih-pilih cari teman, itu sama saja saya melanggar sabda Ilahi, bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal.”

“Bahkan, saya malah berencana, minimal tiap hari saya harus berkenalan dengan satu orang-dan kalau lebih banyak, lebih bagus. Dengan siapa pun itu. Mau sama lelaki maupun perempuan. Anak kecil atau dewasa. Atau, orang dewasa tetapi masih berpikiran seperti anak kecil, dan sebaliknya.”

“Saya berusaha, bagaimana caranya otak saya ini tak pernah berdiskriminasi dengan sesuatu apapun, tetapi berusaha bermoderat-walau tak amat-amat saya patuhi. Selalu berpikir positif juga amat saya junjung tinggi pada tiap detiknya dalam hidup saya.”

Andai saya tak menjunjung tinggi berpikir positif dalam diri ini, bisa saja saya akan mengatakan kepada orang yang berbeda dengan saya, “Eh, agama kamu kan beda sama saya, jadi, saya enggak mau berteman atau bahkan ngobrol bareng sepeser pun sama kamu. Carilah teman yang sekeyakinan saja, deh!”

Buah dari saya terbuka terhadap siapa pun orang di dunia ini, maka saya pun berhasil punya teman yang saya bilang tadi-mereka yang berbeda keyakinan sama saya, bahkan mereka yang benar-benar tak mau beribadah sesuai petunjuk kitabnya walau dia yakin, agamanyalah yang tepat.

Saya bahagia bisa berbagi dengan orang yang berbeda sama saya, bukan saja berbeda soal keyakinan, tetapi yang memang berbeda prinsip, berbeda orientasi seksual, berbeda pandangan tentang sesuatu yang muskil, dan berbeda-berbeda yang lainnya.

Kalau ada orang yang menganggap, bahwa masih memandang jijik dengan orang yang berbeda dengan dirinya, maka tenanglah-masih banyak, kok manusia lain di sekelling kita yang bakal menerima keadaan kita. Asal, satu hal, kamu tidak galau hanya karena dianggap berbeda.

Lalu, apa yang penting guna merayakan keberbedaan itu? Yang perlu dilakukan oleh masing-masing yang berbeda itu, cuma satu: selami dalam-dalam apa dan kenapa, lalu bagaimana saya ini menghadapi yang serba berbeda ini di tengah orang-orang yang juga berbeda.

Itu saja dari saya sore ini. Salam!

Iklan

20 thoughts on “Berbeda Bikin Bahagia

  1. selama itu postif ya mas hasan..
    aku setuju sama postingan di atas..
    berteman dengan siapa saja πŸ˜€ selalu positif thinking.

    itu saja dari saya di komen ini. salam!
    πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s