Kancing dan Keripik

Sebelum doa pagi bersama teman-teman kantor, saya mencoba mencicipi keripik singkong yang teronggok di atas meja, di ruangan redaksi. Keripik itu  pemberian Mbak Esti, rekan, penerjemah, sekaligus editor buku-buku fiksi di lini dewasa. Tak perlulah saya harus tahu dari mana Mbak Esti mendapatkan penganan ringan itu.

Saat mengunyah keripik nan renyah rasa asin-manis itu, tiba-tiba Mas Barhen, kepala produksi di kantor kami, memanggil saya. “Cep..Cep, tolong sebentar ini. Tadi saya buru-buru dari rumah sampai lupa ngancingin ini.” Ngancingin atau ngencingin, sih?

Mas Barhen yang mendekati saya. Oh. Kirain apa. Saya buru-buru mengelap-elap jari tangan kanan saya ke celana levis paling bawah. Kalau tak terlebih dahulu di-elap-elap, malah tambah kotor nanti baju mas Barhen yang mengenakan koko putih itu. Maklum, keripik itu mengandung semacam butiran-butiran kuning, dan itu menempel ke jari tangan saya.

O. Kancing itu tho. Salah satu kancing baju Mas Berhen di bawah leher ternyata yang belum terkancingkan. Kalo yang kiri, sih udah. “Kalo buru-buru, ya begini, suka lupa hal-hal kecil,” ungkap Mas Barhen tatkala saya berusaha memasukkan kancing baju ke liangnya. Bles!

“Makasih, Cep!” kata Mas Barhen lagi sembari pulang ke kursi duduknya. “Sip, Pak!” timpal saya, sembari mencomot kembali keripik yang membuat ketagihan itu. Makasih keripik, eh Mbak Esti dan nuhun Mas Barhen karena pagi ini saya bisa berbuat sesuatu.

19 thoughts on “Kancing dan Keripik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s